MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
SORE YANG DAMAI. Tapi,


__ADS_3

Maap author baru up lagi karena author ikut lomba cerpen. Mohon dukungannya ya semuaa. Miss you.


Kini waktu menunjukan pukul 15:00 yang berarti warga sudah sepi. Tinggalah mereka berlima dihalaman rumah Fida. Karena dua lainya masih didalam. Mereka akan membuat prank sederhana menjelang acara merusak dandanan itu.


"Gimana kalau kita prank mereka?"


Tanya Indah.


"Oke, sistemnya gimana?"


Tanya Raka.


"Kita bikin surat yang isinya tuh permohonan maaf kita nggak bisa lanjutin acara mereka. Padahal kita semua pulang bentaran doang buat rusakin penampilan."


Indah menjelaskan.


"Maksudnya?"


Tanya Raka berlagak bodoh.


"Maksudnya tuuuh, gini looo. Kitaa semua prank mereka berdua, pura pura nggak bisa ikut acara lagi. Ngerti nggak sih kamu tuh?"


Seperti biasa, Indah agak ngegas dikata ngerti nggak sih kamu tuh?


"Emmmm, enggak."


Kata Raka menahan tawa.


"Ck, hiiiiih. Gini looo, kita pulang bentaran doang, buat rusakin penampilan. Ngerti nggak sih? Heeeeh."


Sahut Indah emosi sambil menghentakan kaki ke tanah.


"Enggak, aku nggak ngerti. Hahaha."


Kata raka kabur.


"Oh, pengen di cubiiiiit."


Kata Indah garang. Bela, Priska dan Ika hanya menahan tawa. Indah mengejar kekasihnya sampai, duugg. Kening raka dicium indah, eh dicium tembok. Pacarnya hanya tersenyum puas dan semakin ganas mengejar Raka.


"Hahahaha, rasain tuh. Indah dilawan. Hihihi."


Teriak Indah cempreng. Raka yang kesakitan menutup telinga. Larinya melambat. Namun ketika pacarnya mendekat, tenaga raka kembali pulih dan secepat kilat ngabret lari mengambil sepeda dan segera kabur.


"Wleeeee."


Raka menjulurkan lidah ke Indah yang ngos-ngosan mengejarnya.


"Sial.n."


Umpat Indah. Raka tertawa lalu menghilang di tikungan.


"Hahahahahaha, ahahahaha."


Gelak tawa ketiga remaja gadis itu meledak ketika sepasang kekasih itu kejar kejaran.


"Yang atu, gereget pengen nyubit, yang atu takut ama pacarnya. Hadeuh. Hahaha."


Ejek Ika.


"Iya. Coba aja aku nggak jomblo."


Kata Priska. Bela masih cekikikan dengan airmata yang bercucuran. Tanganya memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.


"Heh, heh, heh, heh. Kalian setuju eng,"


"Enggaaaaaaaaaak. Hahahaha."


Belum tuntas Indah berbicara, ketiganya sudah memotong dengan jawaban yang mengecewakan bagi Indah karena usulnya ditolak.


"Ayo pris, lariiiii."


Teriak Bela yang sudah jauh di depan.


"Ayo dah, ayo ika, cepeeeeet."


Priska berteriak.


"Dadah indah sayang, emmuuaaahhhhh."


Ejek Ika sambil kiss bye. Indah hanya bisa manyun dengan keringat bercucuran membasahi kening.

__ADS_1


"Awas yaaa kaliaaaan!"


Teriak Indah jengkel. Terpaksa aku harus pulang sendirian. Mau ngibulin orang, malah aku yang kena kibul. Dasar tukang kibul semua. Umpat Indah dalam hati. Ia berjalan seorang diri mengambil sepeda dan ia pun pulang.


Sisilain di jalanan. Rombongan Priska tak sengaja bertemu dengan Raka yang tadi sudah duluan kabur.


"Stooooop. Hey Raka."


Teriak Priska. Raka menghentikan sepeda dan menoleh ke belakang. Untung ini masih area kompleks Fida, kalau nggak, tamat riwayat mereka tertabrak mobil jika di tengah jalan seperti ini.


"Apa?"


Tanya Raka.


"Kepinggir dulu."


Kata Ika. Ketika sudah di tepi jalan, mereka pun mulai senyum senyum sendiri membayangkan Indah yang ngambek.


"Kasian pacar kamu. Niatnya mau ngibulin kita, eh malah dia yang kena kibul sama kita."


Kata Bela.


"Hah, iya."


Sahut Raka.


"Terus kalian ninggalin dia sendirian disana?"


Tanya Raka mulai cemas.


"Iya, tapi kayaknya dia,"


Belum tuntas Priska menjelaskan, ban sepeda yang gundul sebelah itu sudah melesat dengan santai akan melewati mereka.


"Sttt, sembunyi cepet masuk ke got."


Kata bela. Tanpa banyak babibu lagi, mereka berempat pun masuk ke got. Sampai Indah tak melihat mereka. Ia terfokus dengan jalanan didepanya.


"Hhuuufff, sukurlah."


Kata Bela bangkit dan menepuk roknya yang kotor.


Timpal Priska.


"Tapi kamu setuju usulan Indah kan?"


Tanya Ika.


"Oooh, jelaas. Semua keinginan dia, selama aku bisa dan mampu kenapa tidak dituruti?"


Kata raka bangga.


"Jadi kamu mau?"


Tanya Priska.


"Iya, aku mau."


Sahut Raka tegas.


"Bagus. Kamu memang idaman wanita. Apalagi kami. Kita sudah lama menyukaimu."


Kata Bela mengacungkan jempol. Raka hanya ternganga tak percaya mendengar pengakuan Bela. Ditambah anggukan kepala dari ika dan Priska. Namun kata kata yang sudah keluar, tidak bisa diralat. Mereka bertiga hanya tersipu malu.


"Maafkan kita bertiga. Kamu lanjutkan saja hubunganmu dengan Indah Ayu Putri Lestari duh susah bet sih namanya."


Kata Ika.


"Iya, maapin aku juga yang telah menyukaimu."


Kata Priska menahan air mata. Dilubuk hatinya, sungguh rasa sakit yang mendalam. Namun apa daya, dia sadar dan mundur perlahan. Baginya, bersahabat saja sudah cukup.


"Udah jangan nangis, aku juga minta maaf karna terlalu berharap."


Sambung Bela. Raka hanya bisa terdiam. Ternyata dia disukai oleh keempat wanita yang cantik cantik yang tak lain tak bukan 3 diantaranya sahabat dekatnya.


"Sudahlah, jangan pada termehek mehek seperti itu, rasa suka itu hak asasi manusia, tak ada yang tau, dan tak ada yang bisa menduganya. Bukanya aku meremehkan rasa suka kalian, namun sebelumnya aku juga merasakan hal yang sama kepada Indah. Sulit mengungkapkan, namun inilah yang kita bisa rasakan."


Sahut Raka tenang dan bijak.


"Huuuuuh, hix hix. Kedewasaanmulah yang membuatku jatuh cinta."

__ADS_1


Kata Bela terisak.


"Iya, betul apa yang dikatakan oleh bela, aku pun begitu."


Kata Ika. Priska yang sedaritadi menahan air mata kini tak bisa berucap. Air matanya tidak bisa dibendung lagi.


"Hix, lanjutkan hubungan kalian, aku doakan. Semoga langgeng terus sampe tua. Huuuuuhh hix."


Akhirnya Priska mampu berkata. Dadanya sesak dan dia memeluk Bela yang juga menangis.


"Rasa sayang itu buta, tidak bisa memandang dia, namun hati yang berkata, bahwa kau bukan tercipta untukku. Hix, hix."


Ika berkata.


"Aku sangat faham dengan apa yang kalian rasakan, dan bukankah bersahabat juga indah?"


Tanya Raka.


"Ada kalanya kita menyukai seseorang tapi orang itu sudah ada yang punya, memang rasanya begitu berat dan sakit. Apalagi orang itu berpacaran dengan sahabatnya sendiri. Yang kita bisa lakukan adalah, bisa menerima dan ikhlas. Maaf, bukan aku menolak kalian, tapi hatiku sudah dikuasai penuh oleh wanita yang aku sayangi setulus hatiku."


Kata Raka lagi.


"Mengikhlaskan itu tidak semudah yang di ucapkan, namun kami akan mencobanya."


Sahut Ika.


"Baguslah kalau begitu. Yuk sekarang kita pulang dan ke rumah Fida lagi setelah merusak penampilan."


Ajak Raka. Setelah sedikit bersinetron, mereka berempat pun pulang ke rumah masing masing. Indah yang sekarang sudah kembali tenang tak sempat mandi. Ia langsung saja merusak penampilanya. Rambut yang acak acakan, bedak yang sangat tidak merata, celana jean yang robek sana sini, baju putih yang kumal dan terakhir. Potongan kuku yang tadinya cantik kini menjadi sontek tak karuan.


Kondisi bela, priska, ika pun tidak jauh berbeda dari Indah. yang membedakan, mereka rambutnya dibiarkan kusut tak karuan. Seperti bangun tidur.


Raka tak perlu ribet, ia hanya perlu memakai kaos oblong dan celana pendek selutut aja juga udah cukup. Tambahan kondisi kaki yang penuh tapak peluru karena alergi debu. Tambah kening yang benjol karena dicium tembok tadi. Ia pun berangkat kembali ke rumah Fida.


Sesampainya disana, sudah ada Arif, Fida, Indah, Bela, Priska dan ika yang sudah menunggunya.


"Hey, ada tukang ngamen dateng."


Ejek Indah.


"Ah mana? Hahahahaha."


Ketawa semuanya pun meledak.


"Permisi, barang ada uang recehan?"


Raka mengambil ukulele milik tetangga rumah Fida yang kebetulan sedang membantu mencopot disain ruang tamu bekas tadi siang.


"Apa salahkuuuu, apa dosakuuuu hingga kau tega menyakitikuuuu. Hingga benjol seperti ini."


Raka bernyanyi seraya menggenjreng kentrung itu.


"Ahahahaha, siapa suruh lawan aku."


Kata Indah. Yang lain hanya menutup mulut dengan airmata yang sudah membanjiri pipi karena sakit perut. Tak lama kemudian terdengar suara geplakan di punggung punggung teman wanitanya. Bahkan ada yang sampe keselek.


"Uhuk uhuk. Hahahaha."


Fida terbatuk setelah mendapatkan geplakan dari Indah.


"Oke, hihihi, oke, oke oke. Pemenangnya ka Raka. Karena tampilanya yang semberaut."


Kata Fida.


"Hadiahnya apa?"


Tanya Raka.


"Hadiahnya adalah, sok teh maju teh."


Indah pun maju lalu tersenyum lalu menggandeng tangan raka.


"Apa? Ini hadiahnya? Sungguh, sangat luar biasaa. Thanks."


Kata Raka.


"Aku kira kamu nggak mau ngikutin usulan akuh,"


Kata Indah centil.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2