
Aku memberikan sebotol parfum kesukaanya dan aku bilang kayak gini ke dia.
"Ini yang asli sayang. Ini harganya sama seperti yang kamu lihat."
Kataku.
"Apa? Jadi kamu buang uang hanya untuk beli ini buat aku?"
Fida terkaget campur haru.
"Iya, sama ini."
Aku memberikan sebuket bunga untuknya.
"Mau kah kamu jadi pacar aku?"
Aku memberanikan diri menembaknya.
"Emmmm, maaf ya, aku nggak bisa."
Sahutnya dengan berlinang.
"Nggak bisa menunggu lagi,"
Sambungnya sambil memeluku.
"Jadi kamu mau jadi pacar aku?"
Tanyaku memastikan. Ia mengangguk lalu aku balas pelukanya. Pak supir yang telah selesai memvideokan adegan yang ditunggu pun segera memberikan HP nya ke si pemilik.
"Ini mas, selamat ya."
Ujar pak supir. Arif menerima barang itu dan mengucapkan terimakasih.
"Sama-sama mas, kalau begitu ini jaket mbaknya tadi, dan saya izin pamit pulang dulu ya mas, mbak."
Pamit si supir.
"Hati hati pak."
Ujar Fida. Dia tak mau lepas dariku.
"Kenapa kamu suruh pak supir tadi videoin kita hah?"
Tanya Fida sedikit garang namun manis.
"Hahaha, buat kenang-kenangan sayangku."
Aku ingin rasanya mencium pipi mulus Fida, tapi aku sadar, aku tak bisa sebebas itu.
"Aaaaaaaa, kamuuuuuu."
Fida menggelayut manja di lengan kananku.
"Hahahaha."
Aku membelai rambut kekasihku itu.
"Nggak terasa ya, perasaan aku sama kamu itu baru lulus SD, tapi sekarang kita udah mau kelas 8 aja ya."
Kataku.
"Iya, aku mulai ada rasa sama kamu itu ketika kamu ngajakin ke belakang sekolah."
__ADS_1
Cup, tanpa diduga, rasa yang sedaritadi ingin aku laksanakan akhirnya ia duluan yang melakukan. Ia merebahkan kepalanya di pahaku.
"Makasih ya sayang kamu udah mau jadi pacar aku."
Kata Fida merangkul pinggangku dengan tangan kirinya.
"Sayang, jangan ngomong kayak gitu ah. Aku sedari dulu pengen jadian sama kamu teh, tapi akhirnya sekarang kita bisa mewujudkan itu semua. Aku bahagia kok bisa dekat denganmu."
Sahutku.
"Aku juga bahagia kok ada disamping kamu."
Sahutnya yang masih mengulum permen karet.
"Maafin aku ya yang, waktu itu aku kasar sama kamu yang pas pulang dari kantor pak Doni. Aku tau kamu nggak sengaja."
Ia mengulang kejadian itu.
"Ssssttt. Udah ah sayang, jangan ngungkit ngungkit yang udah-udah ya."
Aku mencoba menenangkan. Hembusan nafasnya yang wangi itu begitu terasa di wajahku. Karena posisi aku dan dia sedang berhadapan. Fida yang merebahkan kepalanya di paha kananku dan badan di paha kiriku membuat posisi ini begitu mesra. Tambahan tangan kiri dia yang merangkulku dari belakang.
"Udah yuk, kita pulang say."
Ajaku seraya membuatnya ke posisi duduk. Setelahnya aku kasihkan jaketnya.
"Pakein ayang."
Sahutnya manja. Dengan terpaksa aku memakaikanya.
"Sok atuh sini."
Aku meraih tangan kanan Fida lalu memasukanya ke bagian tangan kanan dijaket itu. Setelah selesai, kita pun segera pulang dengan Fida yang membawa buket bunga di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya menggenggam jari-jemariku. Setelah naik taksi, dia langsung meletakan buketnya di atas pangkuanya.
Ujar Fida sambil menciumi
kelopak mawar itu.
"Iya sayang, kuharap kita bisa langgeng ya sampai nanti tua."
Sahutku. Dia mengangguk lalu tersenyum.
"Mau makan nggak? Aku laper nih."
Tanyaku. Ia melirik kearahku lalu tersenyum sekali lagi.
"Mauu, aku juga laper."
Sahutnya dengan manjanya.
"Mas, tolong belok dulu ke restoran itu ya."
Tunjuku ke si mas supir.
"Baik."
Taksi pun berbelok kearah restoran itu.
"Mas tunggu sebentar disini, kita nggak bakal lama kok."
Ujarku seraya menutup pintu mobil.
"Bunganya simpen aja atuh yaaaang."
__ADS_1
Kataku ketika melihat Fida tetap membawa buket bunga itu dengan segenap jiwa dan raga.
"Nggak mau, takut diambil sama mas supir."
Sahutnya. Aku hanya terkikik dan geleng-geleng kepala.
"Silahkan mas mbak, mau makan apa?"
Tanya mbak whaiters itu.
"Makan ati mbak."
Sahut Fida sekenanya sambil tetap fokus membaca menu.
"Jangan mbak. Makan ati itu sakit loh. Apalagi ternyata pasangan kita sudah ada yang memiliki selain kita."
Sahut mbak whaiters ngawur. Aku hanya bisa terkikik mendengarnya.
"Oren jus satu, makanya aku maaauu, nasi ayam keremes aja."
Pesan Fida.
"Kalau saya, mau minum es teh manis 1, nasi ayam penyet satu."
Pesanku.
"Oke mas mbak, saya ulang ya. Nasi ayam keremes1, es tehmanis1, oren ju1, nasi ayam penyet 1. Tunggu sebentar ya mas ganteng."
Ujar whaiters itu menggoda lalu segera melarikan diri.
"Cih, so baik banget si."
Fida menggebrak meja.
"Sssttt, sayang, udahlah. Biarin aja. Cintaku hanya untukmu seorang."
Hiburku.
"Awas loh ya, kalo boong."
Ancamnya.
"Iya sayaaang."
Sahutku.
Setelah beres makan, aku dan Fida pun segera pulang. Sesampainya di rumah, aku segera bersih-bersih lalu aku rebahan diatas ranjangku. Ayah entah kemana. Begitu pun dengan Teh Ika, Bela, Priska, Joe Haikal. Semuanya hilang bak tertelan mulut buaya eh, ditelan bumi. Aku masih membayangkan kejadian tadi di taman. Sampai, Tring, drrrtt. Drrrrtt. Pesan masuk. Aku yang penasaran pun segera membuka pesan WhatsApp itu. Oh ternyata Bebeb. Gumamku dalam hati.
"Ayang, kangen."
Begitu isi pesanya. Aku senyam-senyum sendiri.
"Baru juga tadi ketemu, masa udah kangen lagi."
Balasku.
"Aaa, aku kan tidak bisa jauh darimu."
Sahut Fida.
"Besok kita ketemu lagi."
Aku memutuskan.
__ADS_1
Bersambung karena author nggak mood. Takutnya jadi jelek ke alurnya