
Sesampainya di taman, Arif dan kawan kawan mulai berbincang mengenai sikap Fida yang tak biasanya itu.
"Rif, kamu tau nggak kenapa si Fida?"
Pertanyaan Ari kembali diulang. Namun diulangnya oleh Nanang. Seperti biasa, aku hanya menggelengkan kepala dengan raut wajah yang kesal.
"Ya sorry rif. Aku nggak maksud buat kamu marah, aku cuma nanya aja."
Nanang pun meminta maaf padaku. Aku lalu menggiring Fida ke tempat yang sepi tanpa ada orang di sekelilingku. Dan mulai ku tanyakan kenapa sikapnya begitu berubah pada hari ini.
"Fid, bisa ikut aku sebentar?"
Tanyaku sambil memegang lembut tangan Fida.
"Ehem. Hmm."
Dehem Ari dan Nanang.
"If, mau apakan dia?"
"Iya rif. Bukan muhrim loh."
Ujar mereka sambil menunjukan wajah cemburunya.
"Apaan sih? Kalian masih SD tapi udah pacaran."
Bentakku sambil menggandeng tangan putih Fida.
"Iya, ri nang. Aku sama Arif cuma mau ngomong bentar."
Bela Fida.
"Ngomong? Ngomong apa?"
"Ngomong, rif, aku cinta kamu."
Sambung ari yang mendengar pembicaraan Nanang pada kita berdua.
"Sudah fid, ayuk ikut aku."
Ajakku sambil berjalan didepan fida.
"Iya hayu."
Sahutnya sambil mengenggam tanganku.
"Cieeeeeeeh."
Sorak Nanang dan Ari. Aku dan Fida tidak memperdulikan mereka. Yang penting, aku ingin menanyakan sesuatu padanya sekarang juga. Setelah sepi, aku dan Fida mulai duduk di pembatas pagar besi dekat ruang musik di belakang ruang guru.
"Mau ngomong apa?"
Tanya Fida mengagetkanku.
"Maaf fid, kamu kenapa? Kok kayak beda gitu sama aku dan kawan kawan?"
Tanyaku hati hati.
__ADS_1
"Hmm, sebenarnya, aku itu sedang sakit Rif, makanya aku nggak banyak ngomong."
"Sakit? Sakit apa?"
"Hmm. Rif, jangan kaget ya. Aku sakit kanker otak."
Aku seketika terperanjat kaget sambil tersedak ludahku sendiri.
"Apa? Kamu ka, ka, ka, kanker o, o o, o otak? Ke kenapa ka kamu nggak bi bilang?"
teriakku padanya sangking khawatir dan sedih. Aku bukan beger atau apalah itu, aku hanya khawatir padanya. Ya selaku teman yang baik, aku pasti membantu meski pun aku pas pasan.
"Maafkan aku Rif, aku nggak mau nyusahin kamu."
Hah, nyusahin aku? Tanya ku dalam hati.
"Nggak usah nggak enak enakkan. Ayo kita ke rs."
Aku segera menggandeng tangan putih mulus Fida menuju kelas untuk izin tidak mengikuti pelajaran pada siang ini. Masih ada satu minggu untuk kelulusanku.
"Si si siang bu."
Sapaku pada guru seni budaya Bu Yasmin.
"Iya ada apa Rif Fid."
Tanya ibu Yasmin.
"Bu, kami izin tidak mengikuti pelajaran pada siang ini karena Fida sedang sakit kanker dan saya mau mengantarkanya ke rumah sakit bu. Nilai saya kurang, saya rela bu. Tapi kasihan dia."
"Loh, kamu siapanya dia?"
Tanya bu Yasmin lagi. Aku yang tak mau berlama lama, aku langsung menjawab sekenanya.
"Sepupunyabu."
"Oh ya silahkan."
"Nah gini dong. Makasih ibuu."
Balasku sambil mencium punggung tangan bu Yasmin.
Maaf ya pembacaku sekalian, masih amburadul hehe.
Lanjut yaa.
Aku pun segera memesan taksi online semacam grab begitu.
Setelah datang, aku segera menggandeng tangan fida naik keatas bangku grab tersebut.
Setelah naik, aku menutup pintunya dan aku segera rangkul pundak Fida dan ku belai rambut panjang sepunggungnya.
"Riif, pusiing."
Pekik Fida.
"Sabar fid."
__ADS_1
Ujarku sambil menyemangati dirinya.
"Pak ngebut ya."
Titahku pada pak supir.
"iya bos."
Jawabnya. Aku lalu menyelimuti badan mungil Fida dengan jaketnya. sesampainya di rs, aku segera merangkul fida untuk turun dan berjalan ke UGD. Setelah membayarnya, taksi online itu pergi. Aku segera menelpon ibu Fida.
"Halo bu, ini saya bersama Fida ada di rs A, tolong ibu untuk datang kemari Fida sudah masuk UGD."
Jelasku pada ibu Fida setelah telpon diangkat.
"O o o oke siap."
Sahut ibu Fida sedikit tergagap karena panik.
"Dek, Saudara adek sudah kami pindahkan ke ruangan mawar 1 dekat taman rs ya."
"Oke mbak. Makasih sudah menolong saudara saya. Tapi mbak, bagaimana kondisi dia sekarang?"
Tanyaku panjang.
"Dia memang sakit kanker otak, tapi untung. Dia baru stadium 1."
Jelas suster itu.
"Permisi dek."
Lalu aku menanggukan kepala dan ia pun segera pergi menuju ruang rawat. Lega rasanya, aku kira dia sudah stadium 4.
Tak lama berselang, ibunya Fida pun datang.
"Siang Rif. Gimana dan dimana Fida anakku?"
Tanya ibunya khawatir. Lalu aku menunjukan ruangan Mawar 1 yang letaknya didekat taman rs itu.
"nak, kamu udah baikan?"
Tanya ibu Fida saat melihat anaknya berbaring tak berdaya diatas ranjang rs.
"Bu, pusiiiing."
Sahut Fida kemudian dengan suara lemahnya.
"Iya sabar nak."
Jawab ibunya sambil menangis.
"Rif, makasih ya udah bawa Fida ke sini."
Ujar ibu Fida kepadaku.
"Iya bu, sama sama."
Setelah itu, dokter masuk dan memeriksa keadaan Fida.
__ADS_1