
Hai readers, sesuai permintaan salah satu sahabat baik author nih ya. Dia minta penambahan tokoh di kehidupan Arif dan teman-teman. Siapakah dia? Sebentar, author panggil dulu. Joe, joe. Kesini Joe. Perkenalkan lah dirimu terlebih dahulu sebelum main sama Arif ya.
"Aku nggak diajak tor?"
Arif? Enggak dulu ya. Urus aje sono Fida tuh ya.
"Ah, author mah gituu. Yaudah dehh."
Oke. Joe, silahkan.
"Halo, selamat sore bagi readers semua, perkenalkan aku Joe. Asalku dari Surabaya. Aku kesini datang sendiri. Kalau ada yang nanya, orangtua aku kemana? Ortu aku sudah tidak ada. Dari umur aku 10 taun. Umurku sekarang 15 tahun. Aku keponakanya pak Doni. Kalau Arif dan Fida sih keponakan kw ya. Yang aslinyamah gue. Bukan mereka. Oke, apakah cukup? Nanti kalo dirasa kurang request aja ke author nya ya. Hahaha. Dadah, aku ke Arif dulu."
Eeeeh, Joe, joe. Sini dulu. Belum bereeees. Joe, ah, yasudahlah. Oke readers, selamat membaca.
Aku pun menyampaikan apa yang disampaikan oleh pak Doni tadi.
"Oh begitu, oke makasih cantik."
Kata ibunya Arif. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Ya iya lah aku cantik. Kalau nggakmah Raka mana mau sama aku. Hahaha. Fikirrku sambil senyum senyum kecil.
"Kaka, kaka mikirin Ka Raka ya?"
Ejek adiku itu.
"Ssttt, jangan keras keras."
Kataku seraya mencubit paha Arif.
"Au, au, sakit kaaaaaa. Iya deh iya. Aku diem nih."
Sahutnya sambil bimoli. Aku hanya tersenyum melihatnya. Kita pun terus bercanda hingga lupa pulang.
"Kak, Rif, aku pulang dulu ya. Takut kemaleman nih."
Kata Fida sambil membenarkan rambutnya.
"Oh iya. Ati ati yaa."
Kataku berbarengan dengan Arif. Lagi lagi aku mencubit pahanya. Dia hanya meringis kesakitan tanpa bersuara. Aku terkikik geli.
"Oke kak. Makasih. Dadah Ariiif."
Tambahnya seraya berjalan menuju gerbang. Selepas kepulangan Fida, aku menjadi tak mau pulang karena sudah malam.
"Kak, kaka nginep sini aja ya, peluk aku."
Kata adiku. Aku tersedak dan hampir menyemburkan air minum yang ada di mulutku.
"Apa? Peluk?"
Kataku sewot.
"Iya kak. Sekaliiii aja."
Rengek adiku lagi. Ya mau tidak mau aku harus menurutinya. Kupeluk tubuh adiku, dan kubelai kepalanya. Sempat kudengar suara ayahnya yang meminta aku untuk menginap disini saja, sama seperti Arif. Aku mengiakan karena aku tak mau pulang.
Aku merasa nyaman dalam pelukan kakaku tersayang meskipun bukan kaka kandung. Rambutnya yang terurai panjang sepunggung, baju putihnya yang membuat dia semakin cantik. Rambutnya yang wangi, tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang putih, ah, sempurna. Aku balas pelukannya, dan kuhirup wangi rambutnya dan aku pun mulai terpejam. Bukan namanya saja yang Indah, namun sifatnya pun Indah. Menurutku dia wanita yang baik dan dia mempunyai jiwa kakak yang dewasa. Tanpa disadari, aku tertidur dalam pelukan kak Indah dalam posisi hidung masih tertempel dirambutnya.
"Dek, udah belum? Pegel nih."
Tanyaku yang masih memeluk adikku.
"Dek?"
Ku coba untuk menanyakannya lagi. Tapi nggak ada respon.
"Dek, ini kaka gerah ih."
Kataku lagi. Ketika kulihat, dia sudah terpejam dengan wajah menghadap rambutku yang baru dikeramas pagi tadi. Aku tersenyum dan membelai wajah adikku. Untung saja ini diruang tengah jadi tidak perlu untuk menggendong atau menyeret tubuh adiku ke kamarnya. Rasa lelah melanda tubuhku. Aku pun ikut terpejam dalam pelukannya.
Keesokan harinya, aku terbangun dan tersadar ternyata aku masih dalam keadaan berpelukan dengan kakaku. Kulihat dia tubuhnya dibanjiri keringat. Mungkin karena tadi malam tidak kulepas sama sekali. Ku usap keringat di kening kakaku dan aku membangunkanya lembut.
"Kaaa, bangun kaa. Ini udah jam 09:00."
Kataku. Masih belum ada respon.
"Kaa, banguuuun. Baju kaka basah tuh. Ganti baju dulu."
Akhirnya kaka pun terbangun.
"Eeeeeeemh. Hah? Apa ini? Berdarah?"
Katanya sedikit panik.
"Itu bukan darah ka, tapi keringet kaka tuh. Mandi dulu gih, terus ganti baju. Pake baju ibu aja."
Sahutku.
"I iya deh. Wah, ternyata kita tidur disini ya, mana masih posisi berpelukan lagi."
Kata kak Indah.
"Iya kak, aku juga kaget."
Sahutku setelah itu, dia berjalan menuju kamar mandi kusus tamu. Setauku itu sudah lengkap peralatanya. Jadi tak perlu khawatir jika ada tamu yang hendak menginap dan tidak bawa sikat gigi atau pun odol. Biasanya Ibu yang menyiapkan ini semua. Oh iya. Hari ini ibu berangkat lagi ke luar nagreg ya. Eh, negri. Aku harus bersedih lagi. Tapi nggak papa, kan ada haikal nanti yang akan menemaniku disini. Ayah juga menjadi kurang perhatian kepadaku karena pekerjaannya yang menumpuk. Belum bangnya kerampokan waktu pas kemarin kemarin. Itu membuat ayah menjadi sibuk mengurus semua berkas berkas kantornya yang ludes dibawa preman sial itu. Kak Indah pun keluar dan duduk disebelahku.
"Cieee, Arif sama Indah nyenyak banget sih sampe peluk pelukan kayak gitu."
Ejek ayah.
__ADS_1
"Iya nih. Ibu aja jarang dipeluk sama ayah."
Imbuh ibu. Kita berdua menjadi malu dan terpancar rona merah di pipi ka Indah yang menandakan ia juga malu.
"Nih potonya."
Ujar ayah sambil menyodorkan hp nya. Aku semakin malu dibuatnya.
"Ih, ayah mah jail."
Kataku. Kami pun tertawa.
"Boleh berpelukan, asal jangan lebih dari pelukan ya."
Ujar ibu menasehati.
"Mak maksudnya janganlebih dari pelukan apa tante?"
Tanya Indah mewakili pertanyaanku.
"Yaa, masa kamu nggak ngerti sih ndah? Jangan sampe kelewetan apalagi sampe seperti itu mah."
Aku faham dan sepertinya kak Indah pun faham.
"Oke, siap."
Kata kita serempak. Ibu hanya mengacungkan dua jempol dan tersenyum.
"Nanti sore ibu ke bandara mau kerja lagi. Kamu tolong jagain adikmu ya ndah."
Pesan ibu. Kak Indah pun menjawab.
"Oke, siap. Beres. Arif tanggung jawab aku selaku kakanya. Nanti setiap hari pasti aku jenguk Arif kesini. Bawa Raka boleh kan tante? Hehe."
Tanyanya.
"Nah gitu dong. Iya boleh. Asal bawa cincin aja gitu."
Aku tersenyum mendengar kemana arah pembicaraan ibu. Aku sangat bersyukur memiliki kakak seperti kak Indah. Pantes aja kak Raka mau sama dia. Kak Indah masih bengong dengan arah percakapan ibu.
"Maksudnya?"
Tanyanya lagi.
"Hehehe. Nggak ah. Udah ya, ibu siap siap dulu buat nanti sore. Biar salse."
Salse dalam bahasa sunda artinya santai.
"Oke bu. Siap."
Sahut Kak Indah. Ibu pergi menuju kamarnya.
Protesku.
"Biar lebih enak aja say."
Sahut Indah. Waktu menunjukan pukul 13:00.
"Cepet banget sih dek."
Kini giliran kak Indah yang protes.
"Ya iya lah, wong kita bangunnya juga jam 09:00. Pasti cepet lah."
Kataku sambil menyentuh lembut rambut kaka.
"Kamu kenapa sih suka banget sama rambut aku?"
Tanya Indah lagi.
"Jangankan rambutnya, orangnya juga aku suka."
Reflek kak Indah pun mencubit pipiku, pahaku, lenganku, pinggangku. Aku sengaja membiarkannya sampai lelah. Ntar juga capek sendiri kok.
"Udah ah, capek aku."
Katanya sambil merebahkan tubuhnya diatas sofa setelah puas mencubitiku. Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 14:30. Handphone kak Indah berdering.
"Kak, telpon tuh."
Kak indah bangun dan dengan malas meraih handphonenya. Ketika membaca nama yang tertera di layar, kaka pun melonjak kegirangan.
"Ha halo yang,"
Sapa kak Indah kepada si penelepon.
"Oh, iya. Ini aku dirumah Arif. Hah, Nggak nggak ngapain ngapain. Aku kemaleman mau pulang tu tadi. Hiiii iya seriuuus. Kamu mau kesini emangnya? Oh gitu. Sama siapa? Oh. Iya atuh. Ati ati ya yang. Iya siang juga sayangkuuu."
Begitulah kata kata yang dilontarkan kak Indah ke sipenelepon.
"Cieeeeeee. Kak Rak,"
"Sssttt, ntar aku cium mau?"
Potong kak Indah. Aku mengangguk dan, kurasakan hangat di pipiku. Sungguh ini yang pertama kalinya aku merasakan ini. Waktu sama Fida sih nggak pernah hahaha. Bercanda Fiid. Bercanda. Tak lama kemudian, datanglah kak Rakha, Haikal, Pak Doni, dan si joe.
"Assalamualaikuuum."
Salam mereka serempak. Ibu dan ayah segera keluar dan membukakan pintu.
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Sahut kami tak kalah serempaknya juga.
"Wah, ada cewek cantik tuh. Bro, buat gue ye."
Ujar Joe kepada kak Raka. Kulihat, kak Raka melotot dan diikuti isyarat diam oleh Haikal.
"Sttt, lu jangan macem macem kampr.t!!"
Haikal memarahi joe.
"Malu lah, masa lu baru datang disini udeh cari gara gara, bego lu."
Imbuhnya.
"Nyuwun sewu. Aku lali. Wong aku iki cuma bercanda doang gitu lo mas."
Maaf, aku lupa. Orang aku ini cuma bercanda doang. Gitu loh mas. Sahut Joe agak takut.
"Udeh udeh yuk masuk."
Haikal menggiring keduanya masuk kerumahku.
"Mau minum apa mas joe, kal, kak Raka juga pak Doni?"
Tawarku.
"Aku mau milk syek coklat."
Pesan pak Doni. Aku melirik Haikal.
"Gue millo dingin aje."
Kini dia menatap Joe dan Kak Rakha.
"Ikut Haikal aja."
Sahut mereka hampir bersamaan. Aku pun melangkah menuju dapur.
"Dek, adek. Kaka nggak ditawarin?"
Teriak kak Indah.
"Nggak usah kakak mah. Tuh liat aja kak Raka pasti udah nggak haos lagi."
Ejekku.
"Aaa, Raka tuh Arifnya yang ih."
Aku terkikik geli. Marukan aku rek sieun kitu? Disangkanya aku akan takut gitu? Pikirku. Setelah selesai, aku melangkah menuju ruang tamu dengan nampan berisi 6 gelas diatasnya.
"Ini untuk kakakku tercintah. Ini untuk kak Raka yang ganteng, ini buat mas Joe yang jelek, dan terakhir, ini buat lu kal."
Semua orang tertawa melihat gaya bicaraku.
"Pak Doni ama ayah dimana bos?"
Tanyaku. Haikal menunjuk.
"Noh disono."
Aku kembali melangkah taman belakang rumah untuk mengantarkan milk syek dan kopi untuk ayah juga pak Doni.
"Ini pak, ini yah."
Kataku. mereka mengambil minuman itu dan aku segera kembali menuju teman temanku.
"Eh rif, lu mau ikut nonton persib nggak?"
Tanya Haikal.
"Hah, kapan?"
Aku balik bertanya.
"Besok. Yuk kita udah sepakat barusan ama Indah, Ama joe ama kang fauzan juga."
Jelasnya.
"Oh, oke. Siap. Boleh bawa Fida kan?"
Tanyaku sedikit menego.
"Ya boleh lah. Ntar gue juga mau bawa cewek gue."
"Ah, lu. Bawa cewek darimana" Lukan jomblo. Hahaha."
Ejekku.
"Enya tah."
Sahut kak Raka. Joe hanya tersenyum.
"Ah, sudahlah."
Katanya. Kami tertawa lepas waktu itu.
Bersambung. Nantikan episode berikutnya full edition Persib Bandung ya. Di episode berikutnya menceritakan Arif dan kawan kawan menonton Persib bareng guys. Gimana? Menarik? Komen dibawah ya.
__ADS_1