
Sesampainya dijalan, aku melihat Fida yang begitu gemetaran dan nampak takut seperti melihat sesuatu.
"Woy?"
Teriakku sambil menghentakan kaki ketanah. Dia terkejut dan:
"Ih."
Dia mencubitku.
"Kamu kenapa sayaang?"
Tanyaku.
"Takuut."
Sahutnya.
"Sama siapa?"
Tanyaku sedikit menarik tangannya menjauh dari pelataran parkir.
"Pak Doni."
Sahutnya singkat.
"Nggak usah takut, beliau baik kok."
Kataku.
"Iiih, baik gimana? Tadi beliau mau nembak aku."
Ujarnya dengan bahu gemetaran.
"Sini duduk dulu. Gini loh, pak Doni itu mau godain kamu. Bukan mau nembak kamu. Kita kan nggak salah, beliau mah suka bercanda kok."
Jelasku.
"Sini, duduk. Aku bukain ya jaketnya biar nggak gerah."
Tawarku. Dia manut saja. Namun siapa sangka, saat aku mau menurunkan reseleting jaketnya dia malah menepis tanganku dengan kasar.
"Jangan pegang pegang!! Kalau mau bukain bukain aja."
Teriaknya. Aku kaget. Hah, siapa yang pegang pegang?
"Si,"
"Pokoknya lepaaassss!"
Teriaknya. Aku menurut dan ia berdiri lalu mengambil potongan kayu dibelakangku dan buakk. Sontak dengan terkejut aku kaget dan tanpa diduga dia berbuat begitu.
"Tunggu disini!!!"
__ADS_1
Ujarnya sambil ngeloyor pergi. Apa yang akan dia lakukan? Pikirku dengan punggung yang berdarah.
Fida pov.
"Pak, arif sudah melanggar pak. Dia melakukan pelecehan seksual."
Kataku dengan emosi.
"Tunggu tunggu. Ada apa ini?"
Tanya pak Doni.
"Dia megang barang punya saya pak."
Aduku. Beliau keluar dan aku suruh tunggu disini. Aku merasa puas sih. Siapa suruh dia pegang pegang?
Fida pov end.
Aku yang terkapar melihat beberapa peluru menancab di batang pohon. Aku lihat, pak Doni datang menghampiri.
"Astagaa."
Ujarnya yang langsung membawaku ke dalam kantor. Aku disuruh tunggu dan aku diletakan diruangan yang kusus bagi tersangka atau korban yang terluka. Disitu sudah ada dokter pribadi dan aku pun diobati. Setelah selesai, aku dilarang keluar dan sidang dilakukan didalam ruangan ini.
"Bagaimana ceritanya sampai bisa seperti ini nak?"
Tanya dokter. Aku hanya menunjuk kearah sisitivi. Dan sepertinya dokter itu paham apa yang ku maksud. Pak Doni datang dan langsung menyelidiki kasus yang baru saja terjadi.
"Benar kamu megang megang fida?"
Tanya pak Doni.
Kataku.
"Coba lihat mata bapak."
Ujarnya. Dia sepertinya faham dan tau bahwa aku tidak membohong.
"Okelah, kalo begitu. Bapak akan menahan Fida untuk diproses lebih lanjut."
Kata pak Doni.
"Kamu nanti pulang bapak telfon ayah.
"Lanjutnya sambil meraih ponsel miliknya. Aku tak tau beliau membicarakan apa karena beliau menelfon diluar ruangan. 30 menit kemudian, ayah datang dan menjemputku. Aku pun pulang.
Pak Doni pov.
"Boleh bapak bicara?"
Tanyaku lembut agar tidak syok.
"Iya pak silahkan."
__ADS_1
Sahutnya tidak ada rasa takut.
"Coba kamu perhatikan gambar dalam cuplikan video ini."
Kataku sambil memutar video cuplikan tadi. Setelah terputar, dia menonton dengan seksama.
"Bagaimana, apakah ada adegan memegang sesuatu yang aneh?"
Tanyaku lagi. Dia menggeleng.
"Maafpak, saya sudah sembarang lapor."
Dia menangis.
"Sudah, jangan nangis. Bapak akan mengolah data mungkin kamu disini selama dua hari ya. Masalah pakaian, nanti bapak yang koordinasi sama ibumu."
Kataku
"Yuk istirahat."
Aku menuntun anak ini ke sel tahanan. Setelah mengantarkanya, aku menelfon ibu Fida.
"Selamat siang."
Sapaku.
"Siang pak. Ada apa ya?"
Tanya ibu Fida dari sebrang sana.
"Ibu, tolong bawakan baju baju Fida kekantor saya. Ada yang perlu saya bahas."
Kataku tudepoin.
"O, oh, baik pak."
Sahut ibu Fida.
Pak Doni pov end. Fida pov.
Pak Doni setelah menelfon ibu lalu melangkah keluar dan meninggalkanku sendiri. Karena merasa gerah, aku pun buka jaket dan aku melangkah menuju kamar mandi. Begitu sampai dikamar mandi, aku baru ingat bahwa aku tidak mempunyai odol dan sabun. Mana anduk lupa bawa lagi. Aku menelisik ke sekitar dan untungnya ada sabun batang yang sudah patah menjadi dua bagian. Ya lumayan lah. Aku pun mandi. Setelah mandi berhubung belum ada baju ganti, aku terpaksa memakai baju yang tadi aku gunakan. Setelah selesai, ku rasakan hawa di sel tahanan ini sangat dingin. Ya mungkin karena tidak terkena sinar matahari kali ya. Pikirku. Karena dingin, aku gunakan kembali jaket. Tau gini nggak akan mandi. Gerutuku dalam hati. Lagian aku bod.h banget sih, si Arif kan nggak nyentuh apa apa, kok aku bisa bisanya aku lapor ke pak Doni. Kan jadi kayak gini. Aku terus menggerutu. Aku ambil ponsel dan kuhubungi Arif. Padahal aku sudah memakai jaket, mengapa aku tetap menggigil? Padahal suasana diluar tadi begitu panas. Lututku gemetar dan aku mengirimkan voice not ke Arif. Ayo Fid, kamu pasti bisa minta maaf. Suportku kepada diriku sendiri.
"Ri ri rif, ak akk aku, aku mau minta ma maaf ya. Aku udah, udah asal lapor. Itu memang perasaanku aja, ada yang megang. Padahal kamu sama sekali nggak megang. Maaf yaaa."
Aku menangis dan aku menekan tombol kirim di aplikasi whatsapp. Setelah ku minta maaf, lega rasanya. Rasa dingin yang tadi ku rasakan kini perlahan menghilang. Yangku rasakan saat ini sesak didada dan aku rasanya benar benar ingin memeluk Arif dan minta maaf sepuas puasnya. Aku sudah tak tahan. Aku buka kembali jaketku dan kini kututupi ke muka agar tidak ada yang bisa mendengar tangisanku.
Fida pov end.
Sesampainya dirumah, aku baru tau mengapa aku dilarang keluar dari ruang rawat pribadi milik kantor pak Doni tadi. Ternyata punggungku dijait.
"Nak, ikut ayah ke rumah sakit yuk. Fida memang kurang ajar!"
Pekik ayah sambil menekankan nada bicara dikata fida memang kurang ajar. Apa boleh buat, triplek yang melapisi pintu kamarku pun harus belah membulat akibat tonjokan ayah. Aku hanya mengangguk dan siap siap menuju RS.
__ADS_1
Bersambung. Note Author.
Ini dilarang dibaca oleh anak dibawah umur 15 taun. Thanks.