MENUJU UJUNG JALAN

MENUJU UJUNG JALAN
Bersiap Nonton Pertandingan Bola


__ADS_3

Hola, author lupa tentang pendidikan mereka dan tidak pernah masuk sekolah. Ini dikarenakan terlalu asyik sama alur ceritanya. Jadi maaf sekali lagi. Oke, selamat membaca.


Sore pun tiba. Ini waktunya ibu untuk pergi kembali. Kami semua mengantarkan ibu ke bandara Soekarno Hatta. Waktu menunjukan pukul 15:30.


"Eh kal, jam berapa sih Persib mainnya?"


Tanyaku.


"Itu jam 18:15."


Sahutnya. Tiba tiba ibu datang menghampiri.


"Nak, jaga dirimu baik baik ya. Ndah, kal, joe, jaga adikmu ya."


Pesan ibu.


"Oke siap."


Kata kami serempak. Lagi lagi ibu mengacungkan jempol sambil tersenyum. Kami berjalan menuju ruang tunggu penumpang. Dan sampai akhirnya tiba.


"Rif, ndah, joe, kal, ibu pamit ya. Assalamualaikum."


Pamit ibu kembali. Aku hampir saja menangis namun kak Indah memeluku dari belakang, dan Haikal menepuk nepuk bahukananku, dan joe menepuk bahu kiriku.


"Yang sabar dek, ibu kan mau cari uang buat kita"


"Sing sabar yo."


"Sabar, bro."


Ucapan itu terus dilontarkan oleh kedua sahabatku. Kak Raka mah ngan cicing weeeh. Setelah pesawat ibu terbang, kami pun pulang. Kami sebenarnya tidak duduk dibangku penumpang diruang tunggu, tapi kami duduk diluar gedung ruang tunggu itu. Ayah masih saja sibuk di bangnya yang acak kadut. Ini sedikit membuatku down. Tapi untungnya ada Haikal.


"Udah ah, yuk otw stadion."


Kata haikal.


"Eh ntar dulu, samper dulu Fida."

__ADS_1


Sahutku. Kami pun pulang dengan menggunakan angkot. Lumayan jauh sih, dari soekkarno Hatta ke rumahku.


"Woy, sekarang tanggal berapa sih?"


Tanyaku.


"Eh iya ya, sekarang tangal 7. Persibkan mainnya besok,"


Sahut Haikal yang ingat akan jadwal Persib.


Sesampainya dirumah, kami segera beristirahat dan ku terima pesan dari ayah.


Ayah: "Rif, maafin ayah ya, hari ini ayah nggak akan pulang. Karena boss minta ayah lembur sampe jam 1 sampe setengahduaan. Takut kemaleman dan takut preman kemarin datang lagi yang sisanya."


Arif: "Oh, iya atuh yah. Awas ati ati kalau mau keluar kantor. Arif insya Allah Arif aman sama kak Indah dan teman teman disini."


Ayah: "Oh gitu, iya atuh. Bilangin ke temen temen kamu temenin kamu disitu gitu."


Arif: "Oke, beres yah."


"Oke guys, kita berangkat ya."


Pimpin kak Indah.


"Okee."


Sahut kami serempak. Kami melaju menuju sekolah. Sesampainya disekolah, kami pun memarkirkan sepeda dan berjalan menuju kelas masing masing.


"Assalamualaikum anak anaak."


Salam buguru yang masuk ke kelas.


"Pagi buuu. Waalaikumsalam."


Sahut anak anak.


"Kita kedatangan murid baru ya. Joe, silahkan perkenalkan diri dulu."

__ADS_1


Joe pun masuk dan berdiri di depan papan tulis. Ku dengar bisik bisik tetangga sebelah yang bilang Joe itu jeleklah, itemm lah, gendut lah, jelek tapi manislah, macem macem. Rupanya Joe mendengarnya.


"Sudah ngegosipin sayanya?"


Sontak anak anak terdiam.


"Baik. Berhubung kalian respon jelek, saya akan sedikit saja perkenalanya ya. Nama saya Joe, asal saya dari Surabaya, umur saya 15 tahun, asal sekolah awal dari SMP negri 10 Surabaya."


Joe memaparkan dengan logat jawa yang begitu medok. Semua pun bertepuk tangan. Ada yang bertanya:


"Wiiih, kowe Bonek yo?"


Wiih, kamu Bonek ya? Tanya salah satu murid yang bernama Suro itu.


"Iyo, aku Bonek."


Sahut Joe lagi masih didepan.


"Oke anak anak, sesi perkenalan sudah habis, Joe, silahkan kamu duduk disebelah Arif ya."


Kata buguru lagi. Joe berjalan dan duduk disebelahku. Pelajaran hari ini hanya matematika dan Ipa. Setelahnya kami diperbolehkan pulang.


Waktu pulang pun tiba. Aku dan gengku sudah berkumpul di taman sekolah. Aku biasanya menyebut gengku itu adalah sapedah biru club. Memang kampungan, tapi ini nama yang simpel fikirku.


"Nanti mau berangkat jam berapa bos?"


Tanyaku kepada si pengajak yaitu Haikal.


"Jam 16:30 aja. Biar santui dikit gituu,"


Sahutnya.


"Oke, bos. Siap. Hayu atuh ah, urang jajan heula."


Ajakku. Jelas semua menyetujuinya dan mulai mengikutiku kemana aku pergi. Kubelokan sepeda kearah tukang cendol yang terkenal enak di sekitaran daerah sekolahku itu. Cendol mang engkin kami menyebutnya. Setelah jajan Cendol, kami melaju menuju rumah masing masing untuk berganti baju. Setelah selesai, aku menyamper kesembilan temanku. Setelah semuanya terkumpul, kami melaju meninggalkan komplek. Dengan Kak Raka yang meminpinnya didepan. Kulihat, sudah banyak suporter yang bersorak menyanyikan yel yel tim kesayangan kami sesama suporter. Kak Raka membelokan ke arah tempat parkir husus sepeda. Setelah itu, kami pun berjalan untuk membeli tiket. Untung masih banyak. Sekitar 20000 orang lagi. Setelah itu, kami masuk dan berpisah. Yang cewek cewek, yang cowok cowok. Aku bergabung dengan suporter timku. Aku ikut menyorakan yel yel kebanggaan timku. Kami disini, selalu bersamamu. Pantang menyerah kau kebanggaanku. Tak kenal lelah, dan pantang menyerah, disini, kami slalu, bersamamu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2