Merah

Merah
BAB 1 : Ini aku.


__ADS_3

     "Jangan pernah memandang orang dari kekurangannya, karena kalian belum tahu sisi terbaiknya."


-----


    HEMBUSAN angin dingin membuat bulu kuduknya meremang, tangan lentiknya itu memegangi gitar kecil, baju dan pakaiannya lusuh bahkan sobek diberberapa bagian. Jam di salah satu toko menunjukan pukul delapan malam, gadis itu menghitung dahulu pendapatannya, dari jam dua siang hingga jam delapan malam ia berkerja, menghidupi hidupnya dan ibunya.


  Gadis itu bernama Merah, dia cantik dan manis. Merah membawa pulang gitar dan hasil kerja kerasnya, berjalan sendirian di sebuah gang gelap kadang membuat Merah ketakutan seperti sekarang, ketakutannya pada puncak ketika Merah melihat tiga preman yang menatap dirinya. Merah gemetaran, Merah menatap orang itu, dari mata hingga pergerakan tangan, Merah langsung menonjok muka preman itu hingga dua preman yang Merah tau hanya ikut-ikutan  membantu bosnya itu berdiri.


Merah melanjutkan perjalanannya hingga sampai pada rumah tua yang bertembokkan bambu anyam. Merah melepaskan alas kakinya, "Bu, Meah p..u..l.. a...n..g" teriak Merah, munculah perempuan paruh baya yang mendekati Merah menyaut uang yang digengam Merah.


"Ja.an..bu.." Merah menitihkan air mata, ibunya itu malah tak perduli dengan tangisannya.


"Anak bisu nangis mulu!! " omel ibu Merah, Merah semakin terisak, bagaimana tidak menangis jika ia berkerja keras dan diambil begitu saja oleh ibunya itu.


Merah mengusap air matanya, ia memilih membaringkan tubuhnya di alas tipis yang terasa dingin. "Berhasil. " ucap Merah dengan lancar namun dengan nada yang pelan.


-----<>-------


      JAM tiga pagi, Merah sudah bangun, ia mengerjakan semua tugas rumah : menyapu, mengepel, dan memasak. Saat adzan shubuh berkumandang, Merah meghentikan seluruh kegiatannya, sesegera mengambil air wudhu dan sholat. Hingga ayam jago berkokok, Merah masih belum selesai membersihkan rumah ini. Rumah yang selalu saja kotor ketika ada angin menerpa sedikit saja. Merah merasa agak kesal, ia menghentikan kegiatan bersih-bersihnya dan segera mempersiapkan diri untuk bersekolah. Hari ini, Merah ceria ke sekolah, seperti biasanya.


Sesampainya disekolah Merah tersenyum kepada semua orang, namun respon orang berbeda kepadanya,  Merah malah diberikan balasan tatapan sinis dari murid-murid sekolah ini, bahkan pak satpam saja yang biasanya ramah, kini terlihat tidak perduli ketika Merah lewat. Merah menghela nafas, ia melanjutkan langkah kakinya. Merah memasuki kelasnya, duduk dibangku terbelakang dan pojok tanpa adanya teman sebangku. Merah menuliskan sebuah catatan.


3 Januari 2018


Reaksi pertama orang memandangiku sinis, dan yang perduli tiba-tiba tidak perduli.


Merah menutup catatannya, memandang guru yang baru saja masuk, sambil tersenyum. "Guru munafik," ucapnya pelan. Ia melanjutkan mencatat apa yang guru itu tulis dipapan tulis yang baru sekalimat. Merah tak perduli jika guru itu akan marah kepadanya.


Dan benar kekhawatirannya, Bu guru itu menatap dirinya. "MAJU KEDEPAN! " teriaknya penuh amarah. Merah mengubah raut wajahnya menjadi ketakutan. Iya melangkah dengan perlahan, Merah menyadari temannya tengah menatapnya dan membicarakan dirinya.

__ADS_1


Yang ia dengar.


Anak cupu.


Jelek.


Bikin onar.


Sok pinter.


Merah membenarkan letak kacamatanya, dengan posisi menghadap semua temannya. Merah menjadi tau suatu hal. Tau yang tulus dan yang tidak. Merah tau semuanya.


"Apa yang kamu tulis tadi! Jangan catat kalau bu guru sedang jelasin! " Merah hanya merunduk. Merah mengeluarkan kertas kecil, ia menulis sesuatu dikertas itu dan menyerahkannya kepada guru itu. Guru itu membuka kertas kecil yang sudah Merah lipat. Kerutan di kening guru itu sempat terlihat berberapa detik, hingga sebuah kerutan di hidung dan gigi yang ia satukan membuat Merah tau guru itu emosi.


"Dasar anak bisu! Kurang ajar sekali! Menuduh saya seperti itu!"


Semua murid itu tampak bingung menatap bu guru. Merah tersenyum tipis. Ia hanya menuliskan jika bu guru hanya bersandiwara menjadi guru yang baik, tegas, dan menyenangkan supaya nantinya jabatannya akan naik menjadi kepala sekolah mengantikan Bu Sara yang dua bulan lagi sudah pensiun. Merah tau itu semua, dari perilakunya saja sudah jelas terlihat. "Keluar dari kelas ini! " Merah mengangguk kecil.


Dua jam setelah ia puas tertawa, Merah membuka pintu ruang bekas musik itu. Merah berjalan keluar. Koridor dibagian kelas pojok ini memang sepi, membuat Merah merasa agak takut karena 'Mereka' banyak ditempat ini. Merah melanjutkan langkahnya menuju kelasnya. Ia tertunduk ketika ia melihat kakak kelas lewat sampai Merah lupa cara melihat jalan yang benar, entah karena apa Merah jadi terjatuh karena secara tidak sengaja ia menabrak sesuatu dengan keras. Merah mendongak, melihat tembok didepannya. "Shit! " apalagi kedua kakak kelas tadi melihatnya dan tertawa atas penderitaannya.


Sesampainya dikelas, Merah langsung di suguhi pemandangan tak mengenakkan. Merah acuh saja. Ia duduk ditempat duduknya, mengambil satu novel dan membacanya sambil menunggu guru datang.


----<>-----


       Bel pulang sekolah berbunyi, Merah langsung mengemasi barangnya. Dan lagi, lagi. Barangnya ada yang hilang. Merah menghela nafas. Ia tak perduli dimana barang itu sekarang. Merah berlari menuju gerbang karena hujan tiba-tiba turun. Merah berjalan menuju halte. sembari menunggu bus datang Merah mengeluarkan ponselnya mengambil berberapa gambar dan mengirimkannya pada seseorang.


Tak berselang lama bus datang, Merah disuguhkan pemandangan mengejutkan, melihat sekelilingnya, pria bertubuh kekar menghisap rokok, kondisi bangku yang menurutnya kurang layak duduk, belum lagi banyak perempuan yang berdiri, bus ini memang sangat murah, tapi kondisi itu membuat Merah enggan. "Jadi naik tidak mbak?! " tanya kernet bis itu, Merah terkesikap, ia menggeleng lalu turun dari ambang pintu bis itu.


Merah kembali duduk di halte, hujan gerimis masih menguyur. Berangsur murid-murid SMA Virgo berkurang. Hanya berberapa siswa yang menunggu bis datang dan menunggu jemputan. Jam 3 sore, bis yang ditunggu Merah akhirnya datang, ya memang bis ini lebih mahal daripada bis tadi yang akan ia tumpangi, karena kualitas bus ini jauh lebih baik.

__ADS_1


Lima belas menit perjalanan, Merah sampai pada jalan raya dekat gang rumahnya. Mera harus berjalan lagi hingga sampai pada gang, belum lagi Merah harus memutar arah jalannya karena kemarin jalan utama di cor aspal. Merah akhirnya sampai ada rumahnya, baru saja ia menaruh tas. Merah langsung di kejutkan dengan teriakan ibu.


"MERAHHH!!! " ia buru-buru melepas sepatu kusutnya. Dan menghampiri ibunya.


"Kenapa baru pulang hah! " bentak ibu Merah. Merah menunduk. "Ma .. Ap.. Me.. Ah.. Te.. Lat.. Buk, " Ibu Merah tanpa memperdulikan kata maaf itu langsung mendorong Merah hingga jatuh tersungkur. Ibu Merah langsung meninggalkan Merah dan entah menuju kemana. tergores lantai membuat tangannya terasa perih, setelah ia tenggok ternyata tangannya tergores. Merah berdiri, ia masuk kekamarnya menganti pakainannya. Merah keluar rumah, tak lupa gitar yang selalu ia bawa.


***


     Dijalanan besar angin sedang berhembus kencang, hawa dingin menusuk kulit tak membuat Merah ingin segera beranjak, Merah tetap memetik gitar kecilnya sambil membawa bungkus makanan yang ia gunakan untuk menaruh uang yang diberikan orang. Merah tersenyum manis pada orang-orang yang  memberinya uang, responnya berbeda-beda, ada yang terkejut, ada juga yang tidak perduli, bahkan ada yang tersenyum balik kepadanya.


Langkahnya terhenti, ia melihat sosok lelaki yang kini bersemayam dihati Merah, secara tidak sengaja Merah menyukai lelaki itu. Merah tiba-tiba menginginkan sembunyi, Merah bersembunyi dibalik papan reklame, hingga lelaki itu melewati persembunyiaannya. "Sweet, "


Lelaki itu manis dengan dua lesung pipi di wajahnya. Matanya hitamnya seolah menyihir Merah untuk jatuh kepada lubang kagum. Merah beranjak dari balik reklame itu, dia melanjutkan perkerjaan yang menurutnya begitu melelahkan ini.


Lagi, lagi, Merah disugguhkan dengan tulisan 'Pengamen gratis'. Merah menghembuskan nafas kasar lalu berpindah pada tempat lain. Petikan gitarnya memang merdu tapi nyanyiaan yang ia ucapkan bagi yang mendengarnya sangat terganggu. Merah sadar diri.


"Merah! " panggilan itu membuat Merah menoleh. Ia melihat temannya yang sama-sama pengamen juga tapi usianya jauh darinya. Namanya Zahra, dia anak yang jauh dari kata 'kasih sayang' dari orangtuanya. Dan dia, berkerja bersamanya karena dipaksa oleh bapaknya karena bapaknya tidak ada penghasilan, Zahra yang menceritakan semua kepada Merah.


"I.. a.. A..h? " tanya Merah. Zahra pun duduk di kursi depan toko potong rambut.


"Berapa pendapatanmu Mera? " Merah menghela kecewa, ia menatap wadah yang ada digengamannya. Hanya ada berberapa koin dan dua lembar uang dua ribuan. Zahra mengusap bahu Merah. Zahra adalah gadis yang sangat sabar juga dewasa, Zahra selalu memberikan kata motivasi pada Merah jika Merah sedang sedih ataupun terpuruk. "D.. i.. kit, bu.. asti.. ma.. yah ma.. Rah.. " ucap Merah. Zahra pun mengandeng Merah, mengajak Merah kembali menggamen di jalanan dekat lampu merah.


Hingga hari semakin malam, dan toko-toko mulai berkemas untuk tutup. Jam dinding di pojok salah satu toko sudah menunjukan pukul sembilan lebih tiga puluh menit. Merah dan Zahra pun saling menghitung pendapatan mereka malam ini. "Banyak Mera! " pekik Zahra senang. Merah menyunggingkan senyumnya lalu memberikan anggukan kecil pada Zahra.


" Meah.. Puang..Zah. " Merah memasukan uangnya kedalam kantung, sementara Zahra masih bergembira atas pendapatannya yang lebih banyak dari pada kemarin. Merah berjalan sendirian lagi, selalu. Ia kembali harus mengambil jalur memutar lagi.


Berselang lima belas menit, Merah sampai pada istana kecilnya, rumah sederhana miliknya. Ya, seperti biasa. Ibunya sudah stand by didepan rumah menunggu kehadirannya—sepertinya bukan dirinya, tapi uang yang dibawa Merah. Ibu Merah langsung mengambil uang Merah, setelah menghitungnya raut wajah Ibu Merah terlihat tak suka, tiba-tiba Ibu Merah mendorong Merah hingga ia jatuh pada lantai. Merah hanya bisa menatap ibunya dengan tatapan berharap belas kasihan. Namun usahanya selalu sia-sia. Ibu nya selalu acuh, dan memilih masuk kedalam kamar memainkan ponsel.


Jam-jam seperti ini mungkin anak sekolahan seperti Merah sudah pasti ada dirumah, mengerjakan PR, atau tidur dengan pulas. Tapi Merah di jam ini baru pulang kerja, Merah merengangkan ototnya yang terasa pegal, ia menganti bajunya kembali. Mengambil posisi paling nyaman untuk tidur, ia memejamkan mata. Hingga telelap dalam tidur.

__ADS_1


—Bersambung—


__ADS_2