
"Lo sama gue kek Dilan sama Milea ya?" ucap Banuwarna. Merah menggelengkan kepalanya.
"Bisa nggak sih lu bikin gue seneng sedikit aja?" Merah menggeleng.
"Turun!" titah Banuwarna.
"Pinggirin," ucap Merah dengan santai.
"Ish nyebelin lu jadi cewek!" kesal Banuwarna. Merah mengangkat bahunya acuh. "Gue cium kalau lu bikin kesel gue lagi!"
Merah membeku, bagaimana kalau Banuwarna mencium bibirnya? Oh tidak! Ia tidak mau. Lebih baik ia diam daripada kehilangan keprawanan bibirnya.
Banuwarna menghentikan motornya didepan Restoran Kindy, restoran itu selalu saja ramai. Bahkan telah menjadi restoran wajib dikunjungi oleh pasangan remaja. Ya, bisa dibilang sih disini menjadi temat romantis orang pacaran.
"Turun!" ucap Banuwarna sembari melepas helm miliknya. Merah masih diam ditempat, Merah menatap restoran dengan tatapan yang sulit dibaca. memangnya kenapa dengan restoran ini?
Banuwarna mendekati Merah, ia melepaskan helm yang dipakai Merah. Merah tidak menolak ataupun menerima, ia hanya diam sambil terus menatap depan.
"Lu punya masker?" tanya Merah, Banuwarna menggeleng. untuk apa coba masker?
"Ada toko masker?" tanya Merah lagi.
Banuwarna mengangguk, ia menunjuk apotek diujung jalan.
"Gue mau beli masker." Merah menarik tangan Banuwarna untuk mengikutinya.
"Santuy mbak, aelah!" protes Banuwarna. aneh sekali, baru sepuluh menit yang lalu cerewet, sekarang udah ganti jadi patung.
Jalanan ramai membuat Merah menggeram kesal, karena itu ia jadi sulit menyebrang. "Nyebrang aja nggak bisa, "
Giliran Banuwarna yang menarik tangan Merah, ia memberhentikan motor dan mobil yang berlalu lalang.
"Nah, hebat 'kan gue?" Merah menggeleng. Tanpa aba-aba Banuwarna mencium kening Merah, hanya berberapa detik saja namun bagi Merah itu sangat lama dan memacu detak jantungnya lebih cepat.
"Ngapain sih!" omel Merah yang salting sendiri.
"Kan gue udah bilang, setiap lu nyebelin. Gue cium lu." jelas Banuwarna. Merah mengerutu sebal dengan perlakuan Banuwarna, sementara Banuwarna terkekeh melihat ekspresi Merah yang lucu.
Banuwarna membeli dua masker panda yang lucu dan menyerahkan pada Merah.
Merah mengerutkan keningnya menatap dua masker bergambar panda itu. "Lu kira gue bocah?" tanyanya. Banuwarna menyengir.
"Lu kan kek panda."
"Hubungannya apaan? Hah?"
__ADS_1
"Gaada hubungan, kaya kita."
"Nggak jelas banget sih!" kesal Merah.
"Lu mau di jelasin? Apa selama ini gue kurang jelas kalau gue suka sama lu?" ucap Banuwarna yang terlihat serius.
"Nggak lucu, Tuan sombong!" ketus Merah
Saat jalanan lenggang, Merah langsung menyebrang tak perduli dengan Banuwarna yang masih tertinggal.
"Gini ya rasanya di tolak?" tanya Banuwarna pada dirinya sendiri. Ia menengok kekanan kiri lalu mengejar langkah Merah yang meninggalkannya.
"Emang dia seriusan suka ma gue?" ucap Merah pada dirinya sendiri. Argh! nggak mungkin banget.
---
Merah memakai maskernya masuk kedalam, Banuwarna juga ikut memakai masker. Dan baru Merah sadari kalau masker yang dipakainya ini sama dengan Banuwarna, jika tidak berada disituasi seperti ini, Merah tidak akan sudi kembaran dengan Banuwarna.
"Lu kok nggak ngomong pake bahasa inggris lagi?" celetuk Banuwarna.
"Males, kasian lu nggak ngerti." ucap Merah, tetap dengan wajah tak perduli.
Banuwarna mendekat kewajah Merah, Merah memejamkan mata. Merah bingung, ia tidak merasakan apapun.
"Lu ngarep gue cium ya?" tanya Banuwarna, Merah menggeleng lalu mengaruk tengkuknya.
"Nggak." sergah Merah.
"Oh yaudah. Lanjutin makan!"
Setelah menyelesaikan makan, Banuwarna dan Merah berjalan ke parkiran motor. Tetap dengan dua masker panda.
"Oh iya, kenapa lu makai masker?" tanya Banuwarna.
"Ada kenalan," jawab Merah singkat.
"Lu lagi ngapain sih? Sok bisu, sok gabisa ngomong bahasa indonesia, sok cuek. Kek manusia aneh." ucap Banuwarna sekenanya.
"Dalam misi, pemirsa bakalan tahu kok, ya cukup pahami aja setiap kata yang tersembunyi." ucap Merah. Banuwarna mengelengkan kepalanya.
Banuwarna kembali memasangkan helm pada Merah, "Kerumah gue mau?" ajak Banuwarna, Merah hanya diam.
"Oke, diam lu gue anggep iya."
Jalanan semakin ramai, karena banyaknya pekerja yang pulang di jam-jam seperti itu. Banuwarna tidak bisa mengebut, ia hanya perlahan mengendarainya.
__ADS_1
Tak terasa, hari mengelap. Dan motor Banuwarna terhenti di rumah dua lantai yang megah. Merah hanya menatapnya datar, tak ada rasa terkejut.
"Ayo!" Banuwarna menarik tangan Merah untuk mengikutinya.
"BUNDA!" teriak Banuwarna. Berselang berberapa menit, Bunda membukakan pintu.
"Ayo masuk, jelek!" ucap Bunda. Banuwarna langsung menatap Bunda dengan tatapan tidak suka. Karena setiap ada teman cewek Banuwarna, Bunda selalu mengatainya.
"Jangan dibawa ke hati." bisik Banuwarna kepada Merah, Merah hanya mengangguk.
"Mau minum apa jelek? Air comberan? Jus? Teh basi? Atau Kopi kapal pecah?"
tanya Bunda. Merah menggeleng.
Benar-benar penuh drama. Batin Merah.
"Wait Tan, Saya nggak suka akting Tante." ucap Merah dengan wajah datar. Banuwarna ingin rasanya memakan Merah karena Merah sama sekali tidak melihat kondisi.
Bunda tersenyum, ia batal menuju dapur. "Nama kamu siapa nak?" tanya Bunda.
"Srayyred Grey Fisaka, you can call me Red or Merah." jawab Merah.
"PERGI DARI RUMAH SAYA SEKARANG!" teriak Bunda, Banuwarna langsung menarik tangan Merah. Namun, Merah menepis tangan Banuwarna.
"Just kidding?" tanya Merah pada Bunda. Bunda tertawa terbahak. Banuwarna mengaruk tengkuknya bingung.
"Yes, sure. Oh my got, you very smart baby!" Bunda menepuk punggung Merah dengan rasa kagum. Banuwarna menatap mereka heran, apa sebenarnya yang terjadi? ia semakin dibuat bingung.
"Jadi seperti dia, pandai! Dia baik tapi juga nggak bodoh. Nggak kaya kamu Kak!" omel Bunda pada Banuwarna. Banuwarna mengaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Sudah? Saya mau pulang. Saya ada meeting dengan client." ucap Merah ada akhirnya.
Bunda melotot, Banuwarna juga heran.
"Meeting? Masi umur bawang sudah meeting?" Merah menganguk.
"Mau gue anter?" tawar Banuwarna. Merah menggeleng.
"Satria sudah jemput." ucap Merah.
"Saya pulang Tan, lain kali akting didepan saya harus menghayati."
Banuwarna dan Bunda mengikuti langkah Merah, dan benar saja. Merah dijemput mengunakan lamborghini berwarna orange dengan supir yang tampan membukakan pintu.
"Kak, kamu harus dapetin tuh Kak!" seru Bunda. Banuwarna menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
----