
Merah berjalan santai di taman dekat mansion, taman itu selalu ramai pada malam hari. Jadi ia tidak khawatir, lagipula musuh Papa sudah ditangkap, ia jadi lebih merasa aman. walaupun, hatinya sedikit takut akan ancaman lain.
"Hai!" sapa seseorang. Merah pun menoleh kesampingnya, ya terlihat pria yang selama ini berada didekatnya dan mengawalnya kemanapun.
"Oh, hai Satria! Lama tidak bertemu." balas sapa Merah kepada Satria. Satria tersenyum kecil.
"You alone in here?" Merah mengangguk. Ia sama sekali tidak menaruh curiga pada Satria, walaupun ada perasaan tidak enak di lubuk hatinya.
"Ayo kerumahku Nona! Hitung-hitung tanda terima kasih saya atas kebaikan Nona." ujar Satria, sebenarnya hatinya ingin menolak. Tapi melihat Satria selama ini baik, yasudah. Ia menyetujuinya.
Satria berjalan dibelakang Merah, entah kenapa Satria tidak berjalan bersampingan saja dengannya. Dengan begitu, Merah akan merasa biasa saja. Uh, kenapa perasaannya semakin tidak enak.
"Oh shit! I forget!" ucap Satria, Merah berbalik, ia mengeluarkan sesuatu disakunya. Dan dalam gerakan cepat Satria menancapkan pisau pada perut Merah.
"I forgetĀ kill you!" suara itu sempat terdengar, hingga pada akhirnya ia jatuh, kepalanya terbentur aspal dengan kuat karena Satria sengaja menjatuhkannya. Perutnya sangat nyeri.
__ADS_1
"Tolong...... Dad, Pa, Ma, Banu!" lirihnyaa sekuat tenaga. Hingga samar ada seseorang yang membantunya, tapi ia tidak tahu siapa karena pingsan langsung menyerbunya.
-----
"Oh my got! Danu! Antar Mama kerumah sakit, ayo cepat!" Danu yang mendengar teriakan panik Mama langsung keluar dari kamar.
"Kenapa Ma?" Tanya Danu, Lenka bukannya menjawab malah menangis.
"Antar Mama kerumah sakit!" soal alasannya pikir belakangan, Danu mengambil kunci mobil, lalu mengantarkan mama kerumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Mama langsung berlari keruang Unit Gawat Darurat. Disitu ada seseorang yang duduk, dan dengan cemas menunggu.
"Kamu Rey? Iya? Bagaimana dengan anak saya! Kenapa bisa terjadi seperti itu? Rey, jelaskann..., " Lenka terus terisak. Sementara Danu, Jingga, dan Cloudy tampak terkejut. Siapa yang berada didalam? Red? Atau Purple? Karena Purple juga sedang berada diluar. Jadi ada dua kemungkinan.
"Saya tidak tahu Tan, ketika saya ingin pulang. Saya melihat seorang gadis meminta tolong dengan lirih. Maka saya dekati. Dan ternyata Merah ditusuk seseorang, saya langsung membawanya kerumah sakit." jelas Rey.
__ADS_1
Dua jam berlalu, dokter keluar dari ruang UGD. "Keluarga pasien?" tanya Dokter. Lenka langsung mendekat.
"Bagaimana kondisinya dokter? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Lenka dengan khawatir.
"Dia berhasil melewati masa kritis. Tapi dia masih tidak sadarkan, doakan saja supaya dia lekas sadar. Mungkin 2-3 hari." jelas dokter.
"Saya permisi, jika ingin menjenguk, jangan lupa memakai masker dan pakaian yang sudah disediakan." ujar dokter. Lenka mengangguk. Ia memasuki ruangan itu, ia langsung lemas melihat anaknya yang terpejam dengan bibir pucat. Dan darah pada kepalanya. Lenka paham, bahwa Merah adalah anak yang kuat. Hingga dia bisa melewati masa kritisnya.
-----
Dibawah alam sadarnya, ia sedang berada disebuah tempat yang gelap tanpa cahaya. Kakinya berjalan sendiri seolah sihir benar adanya.
"Mama!" teriak Merah meronta. tiba-tiba ia disuguhkan dengan gambar-gambar yang berisi memori masa kecilnya, susahnya hidup, dan sebagainya. Kaki Merah luruh, ia terisak, salahnya ia kurang bersyukur dengan keadaannya sekarang.
"God! I want back!"
__ADS_1