
Banuwarna yang iseng membuka IG Merah, siapa tau lukisannya terpajang disana. Banuwarna men-scroll kebawah akun-akun yang ia ikuti, termasuk juga akun Lamber Turah, akun giveaway dan akun bagi-bagi gratisan lainnya. Setelah sampai pada nama Merah, Banuwarna memencet profil Merah. Disitu ada postingan baru yang membuat Banuwarna langsung tersenyum.
"Mimpi apa gue! Uh, doi pajang hadiah gue!" ucap Banuwarna senang. Ya walaupun dia suka melukis, ia tak pernah melukis dirumah. Karena pastinya akan ada banyak gangguan dari adiknya.
Jari jemari Banuwarna menari nari di ponsel berlogo Apel itu. Sesekali ide jahil muncul di otaknya.
Nggak ada terimakasihnya?
Send. Banuwarna yakin Merah akan merespon DM nya itu. Karena masih ada tanda hijau yang menandakan Merah masih online.
Makasi😯.
Balas Merah. Banuwarna tertawa melihat emot itu. Dan Banuwarna tahu kalau Merah tidak ikhlas mengetik itu.
Jalan yuk!
Entah setan apa yang merasuki Banuwarna hingga mengajak Merah jalan. Setan cinta mungkin ya?
Srayred typing..
Jantung Banuwarna berdegup kencang. Ia penasaran akan respon dari Merah.
Okey.
Banuwarna berteriak kegirangan. Kapan lagi jalan dengan orang penting juga cantik. Banuwarna mengetikkan balasnya. Setelah saling bertukar chat lama, Banuwarna memutuskan untuk mengajak Merah makan di Restoran Kindy, restoran itu terkesan mewah untuk remaja yang berkantung sedikit tebal daripada lainnya.
----
Tepat jam dua siang, Merah yang tadinya ingin mengamen urung. Ia menghargai ajakan Banuwarna, dan juga banyak kemungkinan yang membuat perbincangan makin panjang, membuang waktu-waktu saja. Merah menganti pakaiannya dengan mini dress berwarna rose gold dengan taburan berlian. Sepertinya itu tak berlebihan, pikirnya.
Merah memencet tombol rahasia, dan membuat lemari itu terbuka. Seperti kamar rahasia, disana terdapat beribu koleksi sepatu, tas bermerek channel, aksessoris branded. Pilihan Merah jatuh pada sepatu dan tas gendong mini yang senada dengan dressnya.
Merah melepas kuncir rambutnya, ia menyisir rambut panjangnya dan mengepang menyamping. Tak lupa makeup tipis yang menyempurnakan penampilannya.
Setelah siap, Merah memanggil Satria untuk menyiapkan mobil karena Merah tahu bahwa Banuwarna datang mengunakan motor.
Merah stay di mobil. Menunggu Banuwarna.
---
Disisi lain, Banuwarna tengah menyisir rambutnya dengan pomade. Dengan gaya 'sok ganteng' Banuwarna mematut di cermin dan mengedipkan satu matanya.
Berselang 5 menit ia bercermin, Banuwarna mengambil jaket jeans yang sama dengan milik 'Dilan' .
__ADS_1
"Abang!" teriak Bano yang berusaha mengagetkannya.
"Nggak kaget bege!" ucap Banuwarna menyoyor kepala Bano.
"Bunda! 'Dilanda kemalangan' masa nyonyor kepala Bano!" Adu Bano sembari memegang kepalanya penuh drama. Banuwarna acuh, dan mengampiri Bunda yang tengah menonton tv dengan angin-maksudnya Bunda sedang menonton sendiri.
"Bunda, Banu mo nge-date dong. Doain kalau Banu berhasil! Oke?" Banuwarna mengajak Bunda ber high-five ria. Namun Bunda menggeleng.
Sedetik kemudian, Bunda memeluk Banuwarna. Meneteskan air mata, karena tak tega Banuwarna langsung mengusap air mata Bunda. "Bunda, kenapa?" tanya Banuwarna khawatir.
"HAHAHA.., PRANK!" teriak Bano yang tiba-tiba datang. Banuwarna langsung mengalihkan pandangan kearah Bunda. Bunda menyengir menatapnya.
"Akh! Bodoh banget gue! Udah tahu keluarga gue jago akting tapi masih aja kena!" geram Banuwarna.
"Kamu itu masih polos Kak, belajar dong dari Bunda sama Bano. Yekan?" Bunda melirik kearah Bano, Bano tertawa terbahak sembari ber- high five ria dengan Bunda.
"Yaudah ah, Banuwarna mau pergi!"
Banuwarna mengambil kunci motornya, ia langsung menaiki motor gedenya itu.
----
Satu jam Merah menunggu, makhluk menyebalkan itu tak kunjung datang. Menyebalkan sekali! Merah berikrar jika lima menit Banuwarna tak datang, ia akan mengakhiri misinya. Dan entah kenapa yang ia pikirkan hanya itu.
Satu menit, Masih belum ada tanda-tanda bahwa Banuwarna datang.
"One.."
"Two"
Suara motor terdengar, Banuwarna akhirnya datang. Merah menghela nafas lega.
"Merah!" teriak Banuwarna diluar mansionnya.
Merah yang kesal menghampiri Banuwarna dan mencubit lengannya. "Berapa lama ini!
Banuwarna tidak fokus pada ucapan Merah. Ia justru fokus pada penampilan Merah yang sangat glamor, tapi sangat cantik. Banuwarna akui, Merah sangat cantik.
"Lu kira mau kemana, Princes?" tanya Banuwarna menaikan sebelah alisnya. Merah hanya menaikan bahunya acuh.
"Ke Resto Kindy kan?" tanya Banuwarna lagi.
"Ngapain tanya." jawab Merah singkat.
__ADS_1
"Ngapain lu make pakaian kek mau ke kondangan sih!" ucap Banuwarna kesal.
"Gapapa." Banuwarna naik darah, beneran. Bahkan wajahnya memerah.
"Yaudah yuk naik. Capek gue omongan sama lu!" ucap Banuwarna kesal.
Merah melirik Banuwarna tanpa ekspresi. "Gue nggak mau naik motor."
Banuwarna tak perduli, ia menarik Merah agar stay di samping motornya. Banuwarna memasangkan helm dengan cepat, lalu menyuruh Merah naik.
"Naik!" ucap Banuwarna dengan nada meninggi.
"Gamau!"
"Naik gue bilang!" gertak Banuwarna.
"Gamau!"
"NAIK!"
"Maaf tuan, tidak seharusnya anda membentak Nona Red." ujar Satria.
Merah dan Banuwarna menatap Satria. "DIEM SAT!" ucap mereka serempak.
"Yaudah ayo!" dengan wajah tak suka Merah naik di motor Banuwarna.
Satria menunjuk dirinya sendiri. "Saya bagaimana?" tanyanya.
----
Angin sore itu cukup kencang, membuat rambut Merah berterbangan, bukan hanya rambutnya dress dibawah lutut itu juga terbuka hingga Merah harus menutupi dengan tangannya. Wajah Merah masi merenggut, bukannya khawatir Banuwarna malah gemas dengan Merah.
"Heh cewek bisu!" ucap Banuwarna dengan nada meninggi. Karena orang yang tidak budek pun saat di jalan bisa menjadi budek dadakan.
"Hm?" jawab Merah males-malesan.
"Nih, jaket Dilan gue lu pakai buat tutupin tuh paha." ujar Banuwarna menepikan motornya di bahu jalan.
"Kan udah gue bilang, pake mobil!"
"Dasar keras kepala!"
Banuwarna mengangkat bahunya acuh.
__ADS_1
Lalu menarik gas hingga Merah terhuyung kedepan dan mendekap pinggangnya.
-----