Merah

Merah
Epilog


__ADS_3

Jenazah Papa Fisaka telah dikebumikan dengan beribu tetesan air mata. Disaksikan oleh seluruh kolega bisnis, dan disiarkan langsung di acara TV seluruh dunia. Semua mengingat nama Fisaka, pemilik perusahaan yang berkembang pesat dan kebaikan hatinya.


Di mansion pribadi milik Fisaka terdapat banyak karangan bunga, sekitar seratus lebih karangan bunga tersusun rapih.


"Kak, kasihan bayi kakak. Ayo makan!" bujuk Merah pada Red, Red mengelengkan kepalanya.


"Kak, ayolah makan. Kak Danu sedih kalau kakak nggak mau makan..," Merah mengusap rambut kakaknya yang terlihat sudah lama tidak sisir.


"Rah, sudah saya bilang! Saya nggak mau makan!" gertak Red, Merah mundur. Ia keluar dari kamar itu.


Danu yang sedari tadi melihat Red sebenarnya tidak tega, namun ketika ia bujuk, Red tetap tidak mau makan. Ia tentunya sangat khawatir dengan kondisi istri dan anak yang ada dikandungan Red.


"Red, ayo makan dulu yang. Almarhum papa nggak akan suka kalau kamu begini. Beliau akan sedih." Red menatap Danu.


"Saya tidak mau makan!" gertak Red. Danu langsung mendekap tubuh Red kedalam pelukannya.


"Saya akan suapi kamu, jangan memberontak begini jika kamu ingin menangis."

__ADS_1


----


Banuwarna menatap wajah Merah yang berubah pucat pasi, "Rah, kamu yakin baik-baik saja?" tanyanya.


"Iya."


"Hei! Kemana Merah yang menyebalkan?" Merah mengelengkan kepalanya. Banuwarna mengacak rambut Merah.


"Rah, jangan terlarut sebuah kesedihan. Itu nggak baik buat hati kamu juga diri kamu sendiri." kata Banuwarna dengan gayanya yang sok bijak. Merah menatap Banuwarna dengan tatapan datar.


"Kalau bisa gue mau tukeran posisi sama lu aja, biar orang yang gue sayangi nggak semengenaskan ini." sindir Banuwarna. Merah terkekeh pelan.


"Jadi gue semengenaskan itu?" Banuwarna mengangguk sok imut.


"Nah, kalau lu ketawa. Mirip sama bidadari di surga." canda Banuwarna. Merah kembali terkekeh.


"Ternyata kebahagiaan gue ada di diri lu Nu, dengan lu gue bisa sekesel-keselnya manusia, bisa ketawa tanpa beban, dan bicara dengan orang seumuran. Lu tahu nggak? Kita selisih dua tahun Nu."

__ADS_1


"Umur nggak masalah bagi gue Rah. Yang penting bagi gue cocok dan nyaman yasudah. Mari jalani bareng-bareng, sebenarnya sesimpel itu hidup gue." jelas Banuwarna. Merah tersenyum simpul.


"Kalau gue bilang gue sebenernya udah tante-tante apa lu bakal ninggalin gue?"


Banuwarna menggeleng. "Karena gue tahu kalau lu masih gadis muda. Makanya gue tertarik sama lu."


Merah menyandarkan kepalanya dibahu Banuwarna. Ia seolah menerawang sesuatu. "Kalau gue nggak diangkat sama Papa Fisaka, ngelakuin misi berat itu, dan sekolah di situ mungkin gue nggak bakal ketemu lu. Ternyata takdir sebegitu menyenangkan ya, gue nggak nyangka."


"Emm... Will you be my girlfriend?"


Merah mengangguk. "Yes, I will."


"Thanks for everything, i hope we can together forever until we be grandpa and grandma." Banuwarna mengecup kening Merah.


"Aamiin."


-----

__ADS_1


__ADS_2