Merah

Merah
BAB 45


__ADS_3

Gimana? Masih mau sama gue?"


-----


    Rumah persembunyian Satria dikepung, mudah bagi Fisaka menemukannya. Semua pasukan kepolisian disiagakan. Satria tidak bisa lari kemanapun. Ia langsung ditangkap tanpa ada perlawanan. Polisi memborgolnya dan memasukannya ke mobil patroli.


"Saudara Satria sudah kami tangkap, dengan pasal kasus percobaan pembunuhan."


----


"Banu, pulang sana! Bau!" usir Merah mendorong Banuwarna untuk pulang, Merah tahu bahwa Banuwarna pasti lelah.


"Nggak, ngarang aja lu. Gue kemarin udah mandi." ucapnya. Tetap saja Merah berpura-pura bahwa Banuwarna itu benar bau, walaupun sebenarnya aroma parfum yang digunakan Banuwarna sangat wangi dan memabukan.


"Yaudah gue pulang, tapi nunggu Papa Fisaka kesini ya?" Merah mengangguk. Ia duduk sofa bersama Banuwarna dengan tangan yang masih dipasang selang. Merah tidur dipangkuan Banuwarna, Banuwarna mengusap rambut Merah lembut, dengan penuh cinta.


"Yang nolongin lu kemarin Rey."  ucap Banuwarna, Merah membuka matanya. Hah? Rey menolongnya lagi?


"Bahkan malaikat pelindung lu sebenarnya adalah Rey. Ketika lu tahu fakta itu apa lu bakal ninggalin gue? Dan menghampiri malaikat pelindung lu?"


Merah terkekeh.


"Kok ketawa sih? Padahal gue lagi sedih."


"Banu..., lu kebanyakan baca novel! Aduh ngakak!" Merah terkekeh. Banuwarna mencubit pipinya gemas.


"Ish apaan sih Nu, merusak suasana." omel Merah. Banuwarna menatap Merah penuh tanya, kenapa ia jadi yang bersalah?


---


"Danu, gue belum bisa cinta sama lu. Maaf...," ucap Red, Danu tersenyum.


"Nggak papa, semua butuh proses. Termasuk cinta kamu ke saya. Yasudah, ayo sholat maghrib!" Danu menggengam tangan istrinya, membawa istrinya kekamar mandi dengan hati-hati. Danu tak ingin calon anaknya terluka.


"Makasih mas, banyak mengajari gue—"


Mulut Red dibungkam oleh telunjuk Danu.

__ADS_1


"Saya-kamu atau aku-kamu." timpal Danu. "Iya, saya mengerti itu sayang." Red membeku, Danu memanggilnya sayang? Oh god. Jantung Red berpacu lebih cepat. Apakah dia mencintai Danu?


---


Fisaka sampai belum sempat menjenguk Merah karena perusahaan sangat sibuk. Dan urusan penting lainnya yang harus cepat diselesaikan.


Tadi, ia menghubungi Merah akan datang kesana.


Fisaka memasuki mobilnya, dan menancap gas perlahan karena ini pertama kali nya Fisaka mengendarai mobilnya sendiri setelah bertahun-tahun menggunakan jasa sopir.


Drett..drett..


Dering ponsel membuat Fisaka harus menepi terlebih dahulu. Namun naas, truk yang datang diarah berlawanan sepertinya kehilangan remnya dan membuat mobil Fisaka ringsek parah.  Fisaka yang penuh darah beruntung masih bisa memencet ponselnya.


"Tolong..."


,-----


"Nu, ini Papa kenapa? Dia minta tolong. Cari tahu Nu!" ucap Red kepada Danu yang sedang mengerjakan laporan kantor.


"Cepat. Lacak ponsel Papa, cepat Nu!" Danu menarik tangan Red, kemudian jatuh ke pangkuannya.


"Ini sedang dicari." Red membeku. Posisi ini membuat jantung Red berdegub kencang.


"Ayo kesana, jangan lupa pakai kerudung yang sudah kubelikan kemarin." Red sempat mendengus, tapi tetap mengambil kerudung yang dibelikan dan memakainya. Walaupun masih ala kadarnya, tapi Danu sangat bersyukur istrinya menurut.


Disepanjang perjalanan, hati Red benar-benar tidak tenang. Seperti ada sesuatu hal yang buruk. Danu mengenggam tangan Red, menenangkan Red. "Tenang, Papa pasti baik-baik saja."


Sesampainya di lokasi, Red menutup mulutnya terkejut. "Nu, Papa kecelakaan." Danu mengangguk, karena tepat didepannya terjadi sebuah kecelakaan, dan mobil Fisaka ada disitu dalam keadaan ringsek.


"Papa......," Red berlari menghampiri mob il papa.


"Tetap disitu Red, mas periksa dulu."


Entahlah, jalanan ini sepi. Ada yang berlalu lalang satu dua tetapi tidak menepi. Danu terkejut, ternyata Papa masih berada didalam, dengan kepala yang penuh darah. Danu memeriksa nadi Fisaka, dan terkejut.


"Red, Papa sudah tiada." ucap Danu dengan nada tak percaya, mendengar itu Red pingsan ditempat.

__ADS_1


Danu menghubungi Banuwarna untuk segera kesini. "Nu, Papa nya Merah kecelakaan dan meninggal dunia. Cepat ke jalan Ambrosia! Jangan beritahu Merah."


Disebrang sana Banuwarna terkejut, ia langsung mengambil jaketnya dan mengecup dahi Merah singkat. "Maaf, gue ada urusan mendadak. Gue panggilin suster buat jagain lu."


----


Setelah ambulance datang, Banuwarna dan Danu menghubungi Pradiksa dan Lenka. Namun dari keduanya belum memberikan respon. Ditambah lagi, Red masih syok dan terus terisak. Akhirnya mereka memutuskan membawa Fisaka ke rumah sakit terlebih dahulu, sebelum dibawa kerumah untuk pemakaman.


"Sayang, sudah, jangan begini Papa nggak bakalan suka kalau kamu nangis begini. Yang sabar, ini sudah jalan terbaik yang ditetapkan Allah, sayang. Doakan Papa biar ditempatkan di surganya." ucap Danu sambil mengusap kepala Red, Red memeluk Danu dengan erat. Dan menangis sekencang-kencangnya.


"Mas, hanya mas sekarang yang Red punya." Danu mengangkat kepala Red, ia menatap mata Red dengan tajam.


"Red, kamu masih punya keluarga angkat yang baik dan penyayang. Kamu nggak usah khawatir, ya sayang?" bukannya menjawab, Red makin memeluk pinggang Danu erat.


Banuwarna yang melihat itu turut terharu juga pengen. Kapan ia dan Merah begitu?


----


Ketika sampai di rumah sakit, Lenka dan Pradiksa baru bisa dihubungi. Mereka tidak kalah terkejutnya, mereka langsung menuju mansion Fisaka untuk membersihkan rumah dan mengabari keluarga jauh Fisaka.


Banuwarna pergi menjemput Merah, ia harus berakting lagi terlihat baik-baik saja. Sesampainya di rumah sakit, Banuwarna membuka pintu dengan santai, terlihat bahwa Merah sedang makan pisang bersama suster, ketika melihat Banuwarna masuk, suster itu sadar diri dan keluar.


"Merah, Papa pengen ketemu kamu." ujar Banuwarna. Raut wajah Merah kesal. Ia bingung kenapa Merah jadi kesal?


"Papa Fisaka udah nggak ada 'kan?" Banuwarna speechlees. Ia tak tahu harus merespon apa. "Sessa yang memberitahuku." ujarnya seolah menjawab pertanyaan Banuwarna.


"Yaudah, ayo kesana!" Banuwarna mengenggam tangan Merah, namun Merah diam. Pipinya memerah.


"KAMU JAHAT TAHU NGGAK! KENAPA NGGAK NGASIH TAHU! PAPA AKU NU!" Merah terisak, ia memukul bahu Banuwarna dengan keras.


"Gara-gara mau jenguk gue, Papa jadi kecelakaan."


"Semua ini gara-gara gue Nu!"


Banuwarna membekap tubuh Merah, ia mengusap punggung gadis itu secara berulang. "Ini semua kehendak Tuhan, Rah. Bukan salah siapapun."


----

__ADS_1


__ADS_2