Merah

Merah
BAB 4 : Diculik


__ADS_3

Kebaikan seseorang diukur dari bagaimana dia memperlakukan orang lain."


-----


Universitas Indonesia yang terletak di Jakarta itu berdiri dengan kokohnya didepan mata seorang gadis cantik yang baru saja menyelesaikan studynya di Hardvard University. Gadis itu tersenyum manis memasuki Universitas Indonesua itu. Diusianya yang baru saja menginjak 17 tahun, ia berhasil mengambil S1 di hardvard University lulusan cumlaude, dan ia melanjutkan kuliahnya di Indonesia karena merindukan keluarganya. Semenjak ia pergi untuk meraih cita-cita di negara orang putih itu, ia sama sekali tak bertemu keluarga.


"Merah? " tanya seseorang kepadanya, ia menggeleng tak paham dengan ucapan pria itu. Gadis itu tetap berjalan mencari ruang dosen berada. Baru saja ia menginjakan high heels nya yang kedua kalinya ketanah, lelaki yang memanggilnya Merah tadi menepuk bahunya.


"Kamu Merah kan? " tanyanya sekali lagi. Ia sama sekali tak mengerti apa yang lelaki itu ucapkan. Gadis itu menggeleng kepada lelaki itu.


"I'm Srayredd." ucapnya menanggapi ucapan lelaki itu. Gadis yang bernama Srayredd melewati lelaki itu acuh.


Srayredd melanjutkan langkahnya, ia kesulitan membaca tulisan berbahasa Indonesia karena sudah berberapa tahun Srayredd tak kembali ke Indonesia.


"r.. u.. ei.. n.. g,"


"Ruang!" pekiknya senang bisa mengeja tulisan itu. Ia kembali menatap tulisan itu, dan mencoba membacanya.


" k.. i.. pi.. i.. ei.. l..ei."


"Keipala! " pekiknya lagi senang.


"Kepala. " koreksi lelaki yang diam-diam memperhatikan dirinya sejak tadi. Srayredd tersenyum kikuk.


"Emm.. Can you help me? " tanya Scayredd dengan senyuman manisnya. Lelaki itu merasakan debaran hanya karena melihat senyuman Srayredd itu.

__ADS_1


"Yes, I can!". Jawabnya. Srayredd terpekik bahagia, melompat kecil kecil.


Srayredd tersenyum, "I'm sorry, I'm so excited. " lelaki itu mengangguk mengerti, lagi pula itu bukan sebuah keanehan jika seseorang yang tidak mengerti, senang karena akhirnya mengerti.


Scayredd mengaruk tengkuknya lalu mengikuti lelaki yang akan menunjukannya jalan, ruangan ini ruangan yang berberapa kali ia lewati tadi.


"Thanks, i'm Srayredd, you can call me Red. " ucap Srayredd mengenalkan diri, lelaki itu mengangguk.


"I'm Firman," ujar lelaki itu. Lelaki itu berbalik dan melambaikan salam perpisahan pada Srayredd, Srayredd memasuki ruangan dosen.


Srayredd menghampiri pria paruh baya dengan kumis lebat melintang diatas bibirnya. Srayredd bergidik ngeri karena sedikit ia phobia dengan kumis, Srayredd tidak menyukai kumis. Setelah berbicanglama dengan dosen itu, Srayredd melengos keluar ruangan dan berjalan kembali ke mobil.


****


  Merah tersadar, ia tak boleh ceroboh lagi. Merah menjadi Merah seperti biasanya. Merah yang lebih suka terdiam dalam keramaian. Mata Merah menyorot kedepan, ia melihat keramaian, sumber rezekinya. Sepertinya ada sesuatu pertunjukan ditengah jalan itu. Merah memetikan gitarnya sembari menyodorkan wadah uang itu. Entahlah hari ini Merah sangat beruntung karena pendapatannya sangat banyak. Ia juga harus berterimakasih pada orang yang mengadakan pertunjukan itu. Merah berdiri diantara barisan penonton sampai para penonton mulai berkurang sedikit demi sedikit. Merah mulai leluasa melihat didepan sana, Merah melihat kegiatan amal dengan adanya pertunjukan atraksi monyet. Ada seseorang dibalik pertunjukan itu. Merah menghampiri lelaki yang sedang membereskan peralatannya.


"T..e..r..i.m..s..i..h!" ucap Merah berusaha dengan keras, lelaki itu menoleh kepadanya dan memberinya senyuman.


"Srayredd? Why?" tanya lelaki itu. Merah mengerutkan dahinya. Ia tak mengenal siapa itu Srayredd?


"M..e..a..h!" ucap Merah kembali. Lelaki itu mendorongnya untuk ikut kedalam mobilnya.


"Follow me!"


Merah sama sekali tidak paham. Ia hanya mengikuti lelaki itu saja. Sepanjang perjalanan Merah diam saja, ia meremas celananya ketakutan ketika ia mulai jauh dari rumah.

__ADS_1


"Please! Back!" teriak Merah tanpa sadar.


Lelaki itu menatapnya menyeringai. Merah mencoba membuka pintu mobil. Terkunci. Merah diam, ia mengeluarkan ponselnya yang ia letakan pada paha dengan lem mahal yang sama sekali tidak berbahaya pada kulit. Merah menarik ponselnya hingga terlepas, ia mengeser ikon telephone sehingga terhubung pada telephone utama. Merah memencet tombol satu beberapa menit, dan pada akhirnya Merah kembali berteriak. "Help me! Help me!"


Lelaki itu menoleh, memberikan tatapan tajam pada Merah. "Keep silent!" ujar lelaki itu tajam. Merah terdiam, ia merekatkan ponselnya pada paha lagi tanpa mematikan sambungan.


Mobil jeep berwarna hijau daun ini berhenti disebuah hutan karet, Merah dirundung rasa ketakutan karena bantuan tak kunjung datang. Lelaki itu mengikatnya pada salah satu pohon, dan menutup mulutnya dengan lakban. Merah masih sabar menunggu bantuan, ia tak boleh gegabah saat ini. Lelaki itu mengasah pisau didepan matanya, pisau tajam dan mengkilat, Merah membulatkan matanya.


Merah bernafas lega ketika gerakan gerakan berhasil ia deteksi. Merah memejamkan matanya mencoba melepaskan diri. Berhasil! Merah duduk dibalik pohon. Sementara para bantuan menghabisi lelaki itu. Merah tak mengenal siapa dia, dia sangat tampan tapi sangat kejam juga. Merah bisa mengambil kesimpulan bahwa lelaki yang tampan kebanyakan kejam. Lelaki itu berhasil dibereskan oleh para bantuan yang dimaksud Merah adalah anak buah Merah. Merah menghampiri lelaki yang tengah terikat pada pohon karet itu, posisinya sama sepertinya, tapi kali ini lelaki itu tak bisa meloloskan diri.


Merah membisikan pada salah satu anak buahnya untuk menanyakan maksud dari lelaki itu.


"Apa maksud Anda menculik Nona Srayredd!" teriak anak buah Merah yang tadi dibisiki Merah.


"Tidak ada, dia hanya menarik. Aku menyukainya, tapi aku menyukai darahnya sepertinya enak." jelas lelaki itu. Sudah jelas ditangkap tapi tetap saja mengelak.


"Jangan bohong!" teriak Merah tanpa sadar.


"Srayredd, you can speak an Indonesia again!" Merah tersenyum bangga kepada dirinya sendiri.


"Hahahaha, Aku tidak suka kemunafikannya! Dia sombong! Pura - pura tidak mengenalku! Dasar! Dia sama seperti Purple yang mirip sekali dengan j*l*ng!" ucap lelaki itu dengan nada emosi. Merah tak tinggal diam, ia meninju perut lelaki itu.


"Back!" teriak Merah membalikan badannya, sepuluh anak buahnya yang berbadan kekar itu mengikutinya. Merah menaiki mobil sport berwarna ungu milik Purple, adiknya. Merah menghela nafas, lagi dan lagi, diidentitasnya yang sebagai Merah saja banyak sekali yang membenci, apalagi jika ia mengunakan identitas aslinya.


****

__ADS_1


__ADS_2