Merah

Merah
BAB 19


__ADS_3

#ripEnglish.


Merah ijin pada Maxime bukan untuk kerumah Papa, melainkan menjenguk Safira. Karena semenjak pementasan itu, Safira tidak masuk sekolah dikarenakan sakit. Waktu itu teman sekelasnya memang menjenguk Safira bersama-sama, tapi Merah tidak ikut karena liburan. Sampai sekarangpun Safira tidak masuk sekolah karena Kakinya masih dalam tahap pemulihan, katanya Safira mengalami kecelakaan. Tepat di waktu Merah memberikan sejumlah bantuan kepada Safira.


Kini, Merah berada di rumah sakit Permata. Merah bertanya kepada suster yang ada di resepsionis. Dan akhirnya mendapatkan informasi bahwa Safira dirawat di kelas dua ruang mawar nomer  2. Setelah mendapatkan informasi itu, Merah segera menuju. Ia tak perlu repot repot berganti pakaian lusuh karena Safira sudah tahu sebagian dari sisi dirinya.


Ceklek, suara pintu yang Merah buka. Merah tersenyum melihat Safira mencoba menengakkan tubuhnya. Ada rasa hormat dimata Safira. Merah jadi tidak enak atas tatapan itu.


"Hai! How are you? Fine?" Safira mengangguk. Dan kedua kalinya ia melihat Merah dalam sisi lain. Sisi yang sangat berbeda dari yang sering ia lihat.


"Masi sekela kan?" tanya Merah, Safira yang mengerti ucapan Merah mengangguk.


"Alhamdullilah Rah, bisnis Papa gue kembali lancar. Berkat bantuan lo, oh iya Papa berterimakasih sama lo. Gue jadi penasaran lo siapa, hahaha.., Kayaknya lu kaya banget, sampai sampai ngasih uang milyaran buat gue yang bukan siapa siapa lu. Maaf gue pernah ngejauhin lu karena kekurangan lu yang sebenarnya nggak ada itu." jelas Safira panjang lebar.


Merah tersenyum, senyum yang jarang ia lihat. "It's okay, I like help people."


"Btw, gue kayak pernah liat wajah lu deh kalau kaya gini...," ucap Safira menebak-nebak dalam otanya. "OH IYA! LU ITU KAKAKNYA JERUK KAN? YANG GIRLBAND TERKENAL! YANG JUGA JADI MODEL INTERNASIONAL!" tebak Safira.

__ADS_1


"Jeyuk? Who?" tanya Merah mengerutkan dahinya.


Safira tak tahu harus menjawab apa karena lupa nama penyanyi Girl band itu.


"I sorry, I must back now,"


"Please, don't talk to everyone. Because this is secret. You know?" Safira mengangguk lalu melambaikan tangannya pada Merah, Safira harap Merah akan menjadi teman baiknya saat ia bisa kembali bersekolah.


"Safira suka misteri.."


Banuwarna tengah mencoba membayangkan wajah Merah, namun selalu gagal karena Bano menganggunya. Bano mencubit lengannya saat Banuwarna memejamkan mata membayangkan. Bano itu adik Banuwarna, umurnya selisih 10 tahun dari Banuwarna. Pantas saja kalau dia sangat usil.


Banuwarna mendorong tubuh Bano untuk keluar dari kamarnya, tapi sebanyak ia mendorong keluar. Sebanyak itu pula Bano akan melawan dan tetap berada dikamarnya. Bano sebenarnya hanya membutuhkan teman, tapi Banuwarna malas dengan ke hiperaktifan Bano. Bano mempunyai kelainan, kelainan yang Banuwarna saja tidak tahu. Setahu Banuwarna, Bano selalu ceria setiaphari. Entahlah, hanya Bunda dan Papa yang tahu rahasia itu.


"Adek abang yang paling ganteng sejagat, keluar dulu ya..., Abang lagi ngelukis nih!" suara Banuwarna dilembut-lembutkan. Bano tidak perduli, ia tertawa dan iseng dengan barang miliknya.


"BUNDA!!" teriak Banuwarna. Tak berselanglama Bunda datang dan membujuk Bano untuk masuk kekamarnya.

__ADS_1


Baru saja Banuwarna ingin membayangkan lagi, Bunda menghampiri dirinya. Seolah ada yang ingin disampaikan padanya.


"Banu, Bunda pernah bilang 'kan kalau Bano punya kelainan?" Banuwarna mengangguk.


"Kamu tahu kenapa Bano selalu tertawa?" Banuwarna menggeleng, ia berpikir bahwa Bano memang se receh itu jadi selalu tertawa.


"Dia kan anak receh bun,"


"Itu kelainan dia, dia tidak bisa berhenti tertawa. Makanya kamu itu jangan sibuk dengan dunia kamu sendiri! Ada keanehan di adek kamu nggak perduli! Bunda itu capek! Bahagiain adek kamu kenapa! " tentu saja Banuwarna syok, bahkan ia sama sekali tidak sadar keanehan itu. Selama lima tahun? Ia bahkan tidak menyadarinya. Abang macam apa dirinya!


"Dan satu lagi, ini berat buat Bunda dan Papa. Kamu beruntung bisa hidup tanpa rasa sakit sayang.., tentang adik kamu lagi. Adik kamu terkena tumor ganas, semenjak bayi."


Jleb. Banuwarna langsung terdiam beku.   Banuwarna memeluk mamanya lembut. Ia langsung berlari menghampiri Bano yang ada dikamar. Bano tengah menangis sembari diselingi tertawa kecil.


"Adik..., nggak usah nangis. Ayo main sama Abang, ngelukis sama Abang yok!" 


Bano mengusap air matanya, matanya berbinar. Bano langsung berlari kekamar Banuwarna dan mencoret-coret kanvas miliknya yang semula ingin ia gambari sosok Merah.

__ADS_1


__ADS_2