Merah

Merah
bab 38 : Pilih siapa?


__ADS_3

Pagi ini, sekolahan ini mendadak gempar. Karena Rey, yang notabenya anak yang paling nggak suka cari keributan, kini membuat perhatian didepan seluruh murid. Penasaran kenapa? Rey menembak seorang cewek yang notabenya nggak populer.


"Merah, gue tahu banyak rahasia di diri lu. Tapi gue mohon, terima gue untuk jadi pacar lu? Gue nggak masalah dengan kondisi lu yang dulu yang bagaimana. Gue suka lu yang sederhana, please kasih kesempatan buat gue bahagiain lu." ujar Rey dengan mata penuh harap. Ya, Merah sekarang bukannya malu, ia malah menatap Rey dengan tatapan seolah bertanya 'kenapa'.


"Emmm... Gue bahkan nggak kenal lu." jawab Merah.


Rey tersenyum. "Tapi gue kenal lu, Merah. Gue udah perhatiin lu semenjak lu jadi pengamen." mendengar kata pengamen, Merah menatap Rey tak suka. Banyak yang berbisik-bisik ketika mengetahui fakta itu.


"Tiba-tiba gue ilfeel denger masa lalu dia." Ya, kata itu yang terdengar keras mengema di telinga Merah. Tiba-tiba ia kepikiran dengan Banuwarna, kenapa lelaki itu mendekat? Bukannya menjauh saja? Dia bisu, dekil, dan seorang pengamen. Lantas apa yang dibanggakan?


"Eh! Ada apa ini!" teriak seseorang membuat semua perhatian terpusat pada orang itu. Merah turut memperhatikan, sampai pandangannya bertemu dengan mata hitam Banuwarna.


"Hei! Ada apa ini? Lu ditembak sama ini cowok Ra?" tanya Banuwarna sambil ngegas. Terlebih tidak ada kata lembut disana. Merah memilih tidak menanggapi.


"Eh! Perhatian semuanya! Dia itu milik gue! Sampai ada yang berani deketin dia..., siap-siap dapet hadiah dari gue!" teriak Banuwarna. Merah yang mendengar pernyataan itu langsung menatap tajam Banuwarna. Seolah bertanya 'apa-apaan ini?'

__ADS_1


Tanpa babibu, Merah menarik tangan Banuwarna menjauh dari keramaian.


"Lu apa-apaan sih!"


"Gue umumin ke satu sekolah kalau lu milik gue." ujar Banuwarna enteng.


"Gue nggak mau! Titik! Lagian lu kenapa sih ngedeketin gue mulu! Gue itu bisu, dekil, dan cuman anak pengamen. Lu tahu fakta itu kenapa lu nggak menjauh aja! Apa gara-gara lu tahu gue kaya? Hah! Jawab!" ucap Merah dengan amarah yang membara. Banuwarna tersenyum tulus.


"Gue juga kaya, kenapa gue harus nyari yang kaya? Lu tahu apa yang gue suka dari lu? Gue suka lu yang apa adanya, yang selalu terlihat hebat dimata gue. Lu cewek satu-satunya yang membuat gue merasa berada di film-film misteri. Hahaha.. Gue emang aneh, bodoh, dan nggak tampan, tapi gue suka sama lu tulus.., gue sama sekali nggak mandang lu dari segi apapun. Dan soal cerita misi sialan itu gue nggak perduli, intinya gue sayang dan cinta sama lu. " jelas Banuwarna panjang lebar. Mendengar itu Merah diam seribu bahasa. Ia merasa salah menganggap Banuwarna seperti itu. Banuwarna beda, beda dari yang lain. Tanpa Merah sadari air matanya menetes membasahi pipinya.


"Gue benci sama lu! Lu satu-satunya cowok yang bikin gue nangis dengan kata bucin lu itu! Sialan! Lu harus tanggung jawab!" Merah terus terisak, bukannya kata kasar atau respon ucapan dari Merah. Banuwarna justru mengusap rambut Merah, dan mencium puncak kepala Merah. Seketika Merah membeku, jatungnya berdetak lebih kencang dari pada biasanya.


Apa gue cinta sama lu?


"Banuwarna sialan!" teriak Merah lalu mencubit lengan Banuwarna dengan kencang hingga membuat Banuwarna meringis kesakitan.

__ADS_1


"Iya, Gue juga sayang lu."


----


"Butuh es krim lagi?" tanya Banuwarna. Sehabis menangis, Merah tiba-tiba merenggek dibelikan es krim. Entahlah, baru kali ini ia melihat Merah yang galak menjadi gadis yang manja.


"Udah, pilek ini entar." ucapnya dengan nada yang melembut, tumben sekali.


"Yok pulang, udah malam ini!" ajak Banuwarna. Merah mengangguk lesu. Selalu seperti ini, saat ia menangis ia akan menjadi sosok manja, dan lemah.


"Rah, gue seriusan loh dengan ucapan gue tadi." ujar Banuwarna.


"Gue beneran sayang sama lu? Lu mau nggak jadi pacar gue?"


Sedetik, dua detik, tiga detik. Banuwarna tidak mendapatkan jawaban, ia menoleh, mendapati Merah yang tertidur dengan pulas.

__ADS_1


"Sialan!


__ADS_2