Merah

Merah
BAB 33 : Yakin?


__ADS_3

Srayyred kembali ke Indonesia, dengan keadaan sekacau-kacaunya. Matanya memerah, badannya terlihat kurus, dan lihat perut Srayyred membuncit. Pradiksa yang melihat itu terkejut melihat putri Pradiksa menjadi seperti itu-ya mungkin Srayyred juga anaknya.


"What happens?"


"SHIT! I HATE HE DADY!" teriak Srayyred histeris, ia menarik rambutnya penuh emosi hingga berberapa helai rontok.


"Please.., Ingat, kamu itu sudah besar! Pasti ini juga salah kamu sendiri Red! Kamu pasti tahu mana yang salah dan benar! Dan kalau sudah begini siapa yang repot! Bule bejat itu tidak akan pernah bertanggung jawab! Mengerti?" ucap Pradiksa, Red menunduk penuh rasa sesal.


"Bagaimana dengan anak ini?" tanya Red, baru kali ini Red mau menggunakan bahasa Indonesia.


"Pertahankan, jangan sampai ada pihak saingan Papa kamu tahu semua ini. Jangan sampai Fisaka tahu, tugas kamu cuman satu Red..., menjaga anak yang ada didalam kandunganmu dan jangan pernah keluar dari rumah. Mengerti?!" Red mengangguk lemah, ia mengusap perutnya sembari menangis haru.


Ya memang, pergaulan di luar negeri dikenal. Dan banyak sekali gadis-gadis diluaran sana yang mengandung diusia dini. Banyak juga yng menganggap sebuah kegiatan terlarang yang mereka lakukan hanya sebuah game. Gila bukan?


"Jaga rahasia ini. Dady juga akan membantumu. Dady akan menyuruh kembaranmu Merah untuk melakukan seluruh kegiatanmu. Dady mau kekantor, jaga diri kamu dan anakmu baik-baik."


"Ingat, jangan pernah keluar rumah!" peringat Pradiksa sesaat sebelum menutup pintu kembali. Ya, sekarang Red tidak bisa kemana-mana selain dikamar dan menonton acara televisi membosankan itu.


"Bi! I want manggo!" teriak Red. Mungkin bawaan dari jabang bayinya.


-----

__ADS_1


Merah terkejut ketika seseorang menghubunginya dan memintanya menghadiri rapat hubungan perusahaan. Bukan karena apa-apa, Merah heran saja karena selama ini yang melakukan itu Red. Kemana Red kalau semua tugas Red dilimpahkan kepadanya? Huh, rasa-rasanya tugasnya semakin menumpuk dan semakin banyak kepura-puraan.


"Okey," ucap Merah mengakhiri panggilan itu.


"Kenapa Rah?" tanya Davit penasaran.


"Gue disuruh bodyguard bokap buat mimpin rapat hubungan perusahaan internasional. Males banget gue." ucap Merah.


Davit, Safira, Ciko, dan Galih menatap Merah dengan heran. "Wow.., hebat dong!" seru mereka berempat.


"B aja kok, gue udah pernah. Tapi sekarang gue jadi ngerasa aneh."


"Yaudah yuk, agenda hari ini mau kemana lagi?"


"Mall!" seru Ciko dan Galih bersamaan.


"Mobil atau angkutan umum?" tanya Merah. Mereka saling pandang, ada rasa sungkan dari diri mereka. Dan mungkin saja mereka akan memilih sesuai kemampuan mereka.


"Angkutan umum aja Ra, lagian uang gue udah buat bayar uang gedung tadi." kata Ciko tertawa hambar.


Galih merangkul pundak Ciko, "Samaan bro!"

__ADS_1


"Okey, kalian tunggu disini. Gue mau manggil pengawal gue. Kalian nggak boleh ada yang nolak, oke?" yang semula tertawa palsu kini tertawa bahagia, Merah tersenyum juga. Akhirnya di sekolahan ini Merah merasakan mendapatkan teman yang penuh dengan kasih sayang. Walaupun dengan penampilan yang sudah sangat lebih baik, tapi Merah pikir bukan masalah. Karena ketika Merah melihat mata mereka yang ia lihat hanya sebuah ketulusan.


---


Kali ini, mereka berada di time zone. Senyum Merah berkali-kali lipat daripada biasanya, ia bahagia melihat orang-orang bahagia. Bukannya bahagia sesederhana itu?


"Ra, makasih loh udah ajak kita keliling-keliling, bayarin makan, dan juga ngajakin main di time zone." ucap Galih, cowok itu sebenarnya tampan jika mendapatkan sentuhan ahli. Merah jadi mempunyai ide untuk mengajak mereka kesalon. Apalagi Safira? Pasti ia akan merasa senang.


"Iya sama-sama, ayo ke salon! Mau nggak?" tawarnya, mereka berempat mengelengkan kepalanya.


"Gapapa, ayo!" Merah menarik tangan Safira memasuki salon yang berada di mall itu. Diikuti Davit, Ciko, dan Galih.


"Kalian mau potong rambut?" Davit, Ciko, dan Galih mengangguk.


"Mbak! Tolong berikan pelayanan terbaik untuk mereka ya!" teriak Merah.


Merah mengajak Safira masuk kedalam ruangan khusus untuk perawatan wajah. Safira mungkin berberapa kali ke salon, buktinya Safira tahu semua alat-alat yang dipakaikan mbak-mbaknya.


Setelah selesai perawatan, wajah mereka tampak lebih putih. Dan ketiga cowok itu tampak lebih rapi dan bersih. Ia suka melihatnya.


"Ayo pulang, nanti Papa kalian nyariin."

__ADS_1


__ADS_2