
Pesawat yang ditumpanginya mendarat dengan selamat, badan Merah pegal. Ditambah lagi insiden tersandung batu dan membuat kakinya lebam membuat langkahnya terseok-seok.
"Saya bantu non," ujar Satria, Satria meraih tangan Merah dan menuntunnya berjalan menuju mobil.
Sesampainya pada mobil, Merah masuk dengan perlahan. Merah merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
"Sat, ada info?" tanya Merah.
"Maybe no Non," jawab Satria. Satria tersenyum melihat wajah putih bersih Merah pada kaca spion.
"Satria! Don't look me like that!" ujar Merah. Satria mengigit bibirnya, sialnya punya bos yang serba tahu ya begitu.
"I'm sorry,"
Merah tak menanggapi ucapan Satria, ia lebih memilih tidur dengan nyaman dan mengistirahatkan kakinya yang sakit.
Sesampainya digang, Merah turun dengan baju yang sudah berbeda. Baju sederhana, ya seperti Merah pada biasanya. Sungguh, kakinya masi sakit sejujurnya. Bahkan ketika sebelum ia memilih pulang, Satria menawarinya ke mansion pribadi Merah, namun Merah menolaknya karena sudah dipastikan bahwa ibu tidak bisa makan selama ia tak berkerja dan akan menghajarnya habis-habisan.
Tuk..tuk..
Merah mengetuk pintu kayu itu secara perlahan, tak menunggu lama pintu terbuka. Memperlihatkan ibunya yang menatap tajam dirinya.
"DARIMANA SAJA KAU!" teriak ibunya penuh amarah.
"KAU HAMPIR SAJA MEMBUATKU MATI ANAK BODOH!" tamparan keras mendarat dipipi Merah. Merah menahan segala kekesalan yang ada dihatinya dan memilih menyerobot masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"BODOH! MAU KEMANA KAU!" Ibu Merah menarik tangan Merah dan menyuruh Merah duduk dikursi. Sementara dengan langkah tergesa Ibu mengambil rotan.
"ANAK NAKAL! SUKA KELUYURAN!" cambukan rotan itu mengenai kakinya, sungguh, itu menyempurnakan segala rasa sakit yang dideritanya.
"HARI INI KAU HARUS KERJA!" gertaknya. Merah tertunduk diam, rasa perih menjalari kakinya. Darah mengalir dicambukan itu. Dengan gemetar, Merah mengambil handphonenya dan menghubungi Satria untuk membawakannya obat-obatan saat ia berangkat ke sekolah.
Merah menghela nafas, ia harus bersabar. Hanya perlahan membongkar misteri dan menjalani.
---
"Kenapa anak itu selalu ngilang sih?! Pas nggak dicari aja selalu nonggol, eh pas dicari malah ngilang!" omel Banuwarna menekan-menekan layar handphonenya. Petra yang melihatnya tersenyum miring dan menerka-nerka.
"Lu kenapa? Gila?" tanya Petra, Banuwarna mengendikkan bahunya sembari terus menekan layar handphonenya.
"WOY! Nggak nyambung cuk!" sarkas Petra. Petra langsung menjitak kepala Banuwarna.
"Belum ramadhan cuk! Lu kenapa sih? Nggak waras?" Petra memukul tangan Banuwarna dan mencubitnya. Tapi tetap saja Banuwarna masih belum sadar.
Petra lelah, lelah menghadapi Banuwarna yang sedang mengikuti iklan maling kundang. Banuwarna yang gila dan tidak nyambung.
Banuwarna menepuk pundak Petra. "Woy, ayo ke ruang eskul lukis!" ajak Banuwarna, Petra menggeleng tapi Banuwarna memegangi kerah bajunya dan menariknya seolah ia seekor itik.
"Kamvret lu!" umpat Petra.
Melewati koridor yang ramai membuat Petra memukul lengan Banuwarna, bagaimana tidak Banuwarna itu tidak memiliki rasa kasihan kepadanya.
__ADS_1
Banuwarna melepaskan cekalannya, Petra benafas lega lalu berjalan mundur menjauh dari Banuwarna.
"WOY MURID-MURIDNYA CIKGU! GABUNG KE ESKUL LUKIS YOK! DAPET HADIAH TANDA TANGAN GUE! KAN JARANG JARANG GUE BAIK!" teriak Banuwarna, semuanya langsung menatap aneh Banuwarna.
"Hei adek-adek, yuk gabung ke eskul lukis! Ntar kukasih hadiah nomer WA Abang.." ujar Petra yang memilih mendekati satu per satu cewek yang sedang duduk dikursi depan kelas. Tak ayal banyak sekali yang mau mencoba masuk ke eskul musik. Sementara satupun tak ada yang mendekati Banuwarna yang teriak-teriak seperti di hutan.
"Stop it!" suara itu familiar sekali di telinga Banuwarna membuat Banuwarna menghentikan teriakannya.
"YA TUHAN! ASTAUGFIRULLAH! LU SETAN KAN?" teriak Banuwarna tak jelas.
Petra langsung menyonyor kepala Banuwarna."Nggak nyambung goblok!"
"Setan itu 'kan warnanya merah, jadi ya gue nggak salah dong!" ujar Banuwarna membela diri.
Ya dia Merah, setelah seminggu lebih ia berlibur akhirnya ia harus kembali menjalankan misinya.
"Woy, lu pura-pura bisu kan?"
Merah menggeleng lalu meneruskan jalannya. Banuwarna mengikuti langkah Merah dan mensejajarkan langkahnya.
"Kalau diamnya wanita kan artinya 'iya' jadi gue mengambil kesimpulan kalo lu nggak bisu." Merah terkekeh, sembari menatap Banuwarna intens.
Banuwarna membeku, bukan karena tatapan Merah yang menakutkan. Tapi, karena ia tersihir dengan kecantikan Merah. Cantik, satu kata yang tiba tiba terlintas dalam pikiran Banuwarna.
"I know, I beautiful."
__ADS_1
"Don't like me please, you will broken heart."
Banuwarna membeku, ia sangat bingung. Ia tak paham. Apa yang dibicarakan oleh Merah. Maka dariitu ia tak menanggapi, takut dikira sok tau jika menjawab. Ya, kelemahan Banuwarna disini. Ia benci mapel Bahasa Inggris, dan itu membuatnya sangat bego.