
Lelah. Gambaran yang ia rasakan sekarang. Berberapa jam mengamen disini tak mendapatkan hasil. Merah mengambil nafas berulang kali dan mencoba sabar. Ternyata setelah satu minggu dia tak mengamen terjadi perubahan disekitar sini. Penjual kue yang sering membantunya tak lagi membuka toko, dan banyak toko yang sedang tutup. Ada apa hari ini? Batinnya. Merah terus berjalan, ia merindukan teman-temannya. Merah menuju basecamp dengan kaki yang masi nyeri. Sebenarnya ia tadi bilang kepada ibu untuk off mengamen, tapi bentakan langsung diterimanya membuatnya malas dan memilih pergi.
Jalanan sepi.
Ya rasa-rasanya sangat jarang, biasanya banyak pengamen. Dan pengemis anak-anak disini. Rasanya aneh ketika ia terus berjalan ke basecamp, karena semakin kesana semakin sepi.
Jarak seratus meter, Merah menutup mulutnya tak percaya.
"HAPPY BRITHDAY MERAH!" tulisan itu jelas terlihat, besar dan panjang melintang di atas pohon depan basecamp. Merah benar-benar terharu, bahkan ia lupa kalau hari ini umurnya kian memendek.
"Selamat ulang tahun .."
"Kami ucapkan .."
"Selamat sejahtera.. sehat sentosa .. selamat panjang umur dan bahagia!" nyanyian dari anak pengamen dan pengemis yang tinggal di satu basecamp itu menyanyikan lagu selamat ulang tahun kepadanya. Dan Zahra membawakan kue ulang tahun kecil yang penuh dengan cokelat, tak lupa angka 16 bertengger diatasnya. Walaupun bukan angka sebenarnya.
"T .. h .. a .. n .. k .. s .. all!" ujar Merah kepada semuanya, semuanya tersenyum kepada Merah.
"Makasih juga Rah, lu sering bantuin kita." timpal Zeze yang dulunya tak punya tempat tinggal, namun karena Merah membawanya ke basecamp. Zeze merasa terlindungi. Merah tersenyum cerah.
"Tiup lilinnya...tiup lilinnya..tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang juga..."
Wuss..
__ADS_1
Merah meniup lilin-lilin itu. Tepuk tangan memenuhi sekeliling Merah. Tentunya ada rasa haru, senang, dan juga speechlees. "Kenapa semua toko tutup?"
"Selamat ulang tahun, nak!" semua pemilik toko rupanya berada disini, bersama ratusan anak jalanan merayakan ulang tahunnya. Kebahagiaan yang luar biasa bagi Merah.
Merah menyobek note kecil dan menuliskan kata. Ia lalu menyerahkannya pada Zahra dan Zahra membacanya dengan keras.
"Terimakasih telah memberikan banyak kejutan untuk saya, saya juga akan memberikan kejutan untuk kalian semua!" ya, semua bingung. Merah adalah kalangan yang sama seperti mereka. Lantas, kejutan apa yang bisa dilakukan oleh Merah.
"Wait!" Merah mengeluarkan handphonenya. Semuanya tak percaya, handphone yang dikeluarkan Merah bukan handphone yang murah. Merah mengetikan sesuatu dan tentunya mengirimkannya pada anak buahnya.
"Kamu orang kaya nak?" tanya pemilik toko kue yang biasa membantunya.
"T .. i .. d .. a .. p .. a .. k!" tangkis Merah. Ia tidak suka disebut kaya.
"Zah, a .. d..ay..a..n..g..kau..ingin..kan?"
"Se..mu..a..n..y..a! S..i..l..a..k..a..n, bilang..pa..da..dia..apa..ya..ng..ka..li..an..ing..in..kan!" semua bersorak riuh dan berbaris antri pada Satria, dan Satria cukup menulis semua barang yang mereka inginkan. Mulai dari sepatu, buku, baju, tas, alat tulis, dan pemilik toko meminta renovasi pada toko dan promosi di perusahaan besar. Bagi Merah semua itu gampang.
Kebahagiaan anak-anak itu dan orang baik disekitarnya adalah penyemangat baginya. Perlahan banyak yang tahu, dan perlahan ia akan kembali dikehidupan yang lalu.
---
"Makasih Rah, kamu mengejutkan semua orang. Jadi, kamu sedang ngejalanin misi?" Merah mengangguk sembari menyesap coffe late.
__ADS_1
"Trus kapan kamu selesai ngejalanin misi itu?" Merah mengendikan bahu. Zahra hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf 'O'.
Malam ini semuanya bahagia dengan penuh canda tawa, menikmati alunan gitar dari Bass dan nyanyian dari Theresa.
Merah menatap jam pada handphone nya gelisah, bahkan ia lupa dengan ulangtahunnya sendiri. Bagaimana kalau Papa mempersiapkan kejutan untuknya. Merah menatap seluruh teman-temannya yang sedang asik menikmati perayaan ulangtahunnya.
"Zah, mau... Ikut?" tanya Merah.
"Kemana?"
"Ikut ja! Yok!" Merah menggandeng tangan Zahra dan menuntunnya masuk kemobil.
"Masuk ja! Meah mo pait." Zahra mengangguk.
Merah menghampiri semuanya, "Meah puang dulu ya! Ampe jumpa beso!" ia melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.
"Iya, sampai jumpa Kak Merah!"
Merah kembali menuju mobil, ia masuk dan duduk di kursi depan. Merah tersenyum melihat Zahra sedang menatap kagum mobilnya. Merah melangkah dan ikut duduk di kursi belakang.
Merah memencet tombol on pada tablet kecil yang menayangkan acara acara TV
"Kerennnn!" seru Zahra kagum. Merah yang merasa bahwa Zahra sudah nyaman lalu berpindah lagi ke kursi depan.
__ADS_1
"Sat, Let's go!"