
Iya, Merah tadi di chat oleh Satria. Satria bilang ada meeting dadakan dan client tidak mau meeting itu ditunda-tunda. See, itu semua sebenarnya rencana agar ia bisa kembali lebih awal. Kini, Merah berada diruangan luas yang semua fasilitasnya lengkap, ia tersenyum. "Thanks for All Red,"
"It's okay my sister," jawab seseorang yang bersuara sama seperti Merah.
"Jadi gimana? Misinya berjalan sampai kapan?" tanya Merah.
"Maybe Night or tomorrow," jawabnya.
Merah mengangguk mantap.
"Bey, Aku mau pulang dulu ya Red." orang itu mengangguk, ia duduk di kursi miliknya yang langsung menghadap luar jendela, sembari menyesap rokok hingga asap memenuhi ruangan itu.
---
Keesokan harinya, Merah pulang ke istana kecilnya itu, sebelum ia mengakhiri misinya. Merah mengantongi uang receh untuk di serahkan kepada Ibunya karena sudah dua hari ia tidak pulang. Pastinya dua hari juga Ibunya itu tidak makan.
Merah mengetuk pintu, dilihat Ibunya tertidur dengan kondisi tv yang menyala. Merah mengangkat bahunya acuh, ia masuk kekamar untuk mengemasi barang-barang pribadinya. Merah memasukannya kedalam kantong plastik hitam, ia melepas handphone dari pahanya lalu ia keluar berjalan santai melewati tetangga tetangganya.
"Hei, nyolong dimana tuh handphone anak haram!" teriak Eni, perempuan paruh baya yang memperlakukan anaknya seperti Ibu Merah.
"Saya beli, bu!" teriak balik Merah, ia tak perduli lagi bisik-bisik tetangga, ia berani. Karena tadi, orang itu mengatakan bahwa misi boleh dibongkar mulai dari sekarang.
"Heh, anak itu jadi jalang apa gimana ya?"
__ADS_1
"Nggak pernah pulang, sekali pulang bawa barang mahal. Jalang memang begitu."
Merah tersenyum, Liat saja nanti.
----
"Sat, jemput saya di tempat biasa." titah Merah pada orang disebrangsana. Ya siapalagi bukan Satria.
Merah terus berjalan sampai pada jalanan raya sembari memainkan ponsel, banyak informasi yang harus ia ketahui dalam mengakhiri misinya.
Brak. Ia seperti menubruk sesuatu. Merah mendongak, melihat seorang lelaki tengah menatapnya.
"Jalan pake mata!" ucap lelaki itu.
"Lo yang sering ada di toko Papa gue kan? Si pengamen bisu itu? Gue nggak nyangka lo punya handphone sebagus itu." ucap Lelaki itu—ya dia Rey. Lelaki yang lampau itu membawanya ke UKS sekolahan.
"Dan ternyata lo nggak bisu?" selidik Rey.
Merah speechless, ia tak tahu lagi bagaimana ia menjelaskan cerita panjang itu.
"Non!" teriak seseorang dengan suara familiar, siapa lagi kalau bukan Satria.
Merah menghela nafas panjang, kedatangan Satria menyelamatkannya dari penjelasan panjang "Maaf, saya harus pergi..,"
__ADS_1
Namun, ketika ia akan masuk kedalam mobil Rey menarik pergelangan tangannya.
"Lo hutang penjelasan sama gue, Merah..," setelah mengucap itu, Rey melepaskan cengkraman itu.
----
Banuwarna menatap pesannya yang tidak menunjukan kepastian itu, entah kenapa Merah atau Srayyred itu menghilang tanpa kabar. Ia jadi khawatir.
Banuwarna memegang handphonenya erat, lalu sekelebat muncul ide iseng.
"Mungkin kalau dilempar bakalan bisa kalik ya?" begitulah idenya anehnya. Banuwarna tidak sembarang, ia melemparkannya keatas kasur. Namun na'as, ketika melempar keatas kasur dan mengenai pir besi. Handphone itu malah mendarat mulus di lantai dengan tamperred glass yang hancur.
----
"See, man yesterday? He falling in love with us." Ucap gadis berambut cokelat pekat.
"Aku tak perduli, mungkin dia terpesona dengan kecantikan kita, right?"
"Maybe yes, " Mereka tertawa, kedua gadis itu saling berbagi kebahagiaan.
"Didunia ini setidaknya kita mempunyai 9 kembaran. Dan kau baru kembaranku yang pertama kutemukan, walaupun kita tidak saudara kandung," ujar salah seorang gadis itu, lalu mereka tertawa lagi.
"Mision stopped! You be You, Me be Me. Right?"
__ADS_1