Merah

Merah
bab 42 : Milik gue!


__ADS_3

Ketika musuh berhasil dibekuk kepolisian, sekarang Merah tidak lagi mempunyai alasan untuk bersekolah. Lagipula ia harus melanjutkan kuliahnya di Universitas Indonesia.


Kini, Merah berada di tengah-tengah, ia diatas mimbar. Semuanya pun berbisik, penasaran dengan alasannya diatas mimbar.


"I'm sorry, saya disini mau mengucapkan terima kasih kepada kalian sudah mau berpartisipasi dalam misi saya. Misi apa? Iya, saya adalah gadis yang kalian kira bisu itu. Itulah misi saya, saya menyamar menjadi gadis sekolahan di sekolah biasa dan juga menjadi pengamen. Hahaha... Pasti kalian nggak nyangka kan? Tanya saja pada Banuwarna, ketua eskul lukis disini. Dia tahu bahwa saya bukan apa yang kalian kira."


"Untuk Safira, Davit, Ciko, dan Galih. Thanks for anything, I hope you can be better than me. Untuk Rey, I'm sorry, because saya udah ada seseorang dihati saya."


Semuanya masih menikmati ucapan Merah. Setiap ucapannya banyak terdapat kejutan.


"Untuk murid baik yang saya kenal, dan berada di list saya. Kalian boleh jajan dikantin selama satu tahun, gratis. Guru-guru yang tidak munafik juga diberikan gaji tambahan. Terimakasih sekali lagi. Jadilah orang baik kepada siapapun, karena kamu tidak tahu bagaimana latar belakang orang itu."


Setelah mengatakan itu, Merah turun dari mimbar. Ia tersenyum hangat, dan santai berjalan melewati murid-murid yang menganga.


"Merah!" teriak suara yang familiar baginya. Merah menoleh, memberikan senyuman manisnya pada Banuwarna.

__ADS_1


"Hai!"


"Beneran misinya berakhir?" tanya Banuwarna. Merah mengangguk.


"Berarti misi gue juga berakhir. Karena gue disini juga ngejalanin misi." ucap Banuwarna. Merah tidak mengerti, misi apa? Bahkan Merah dengan kemampuan nya tidak bisa mengerti jalan pikiran cowok itu.


"Iya, misi gue adalah mendapatkan hati lu. Gue 'kan udah dapet hati lu." ujar Banuwarna. Merah memukul lengan Banuwarna dengan keras.


"Pede kali kau !"


"Siapa yang PD? Orang lu tadi bilang ke Rey kalau lu udah ada pemegang hati."


"Tolol banget!" Banuwarna mencubit pipi Merah pelan, tapi tetap saja Merah meringis kesakitan. Oke, lumayan kencang lebih tepatnya.


"Yaudah, iya." ucap Merah tiba-tiba.

__ADS_1


"Iya apa? Lu tolol?" Merah melepaskan sepatunya berniat menimpuk Banuwarna mengunakan sepatu itu.


"BUKAN ITU! IYA MAKSUD GUE ITU IYA GUE MAU JADI PACAR LU!" teriak Merah. Ia tak menyadari bahwa ia masih berada dalam lingkup sekolah, yang membuat teriakannya itu mendapatkan perhatian.


"Gue tahu." dengan entengnya Banuwarna mengatakan itu. Merah mengeram kesal, yang semula hanya niat. Ia benar-benar melemparkan sepatu kearah Banuwarna. Hingga tepat mengenai kepala lelaki itu, uh pasti sakit. Banuwarna ambruk, Merah langsung panik.


"Eh bangun! Kok pingsan sih! Jangan pingsan!" Banuwarna tidak bergerak, banyak yang mengerubung ditempat Banuwarna pingsan membuat udara terasa sesak dan panas.


"AHA! BERCANDA! CIE KHAWATIR!" demi apapun Merah kaget dengan teriakan Banuwarna. Emang rese itu cowok dan sama sekali tidak punya malu, padahal dilihat oleh satu sekolah. Ia masih terlihat apa adanya. Tidak berpura-pura keren untuk mendapatkan perhatian wanita.


"Akh, cowok indonesia lebih baik."


------


"Satria! Kenapa kamu masih ada di club! Cepat pulang! Seluruh keluargamu masuk penjara gara-gara tindakan cerobohmu itu!" omel seseorang disebrang sana. Satria tak perduli, ia menyesap rokok electric dengan santai. Seolah ia benar-benar ada dalam masalah yang besar, walaupun emang iya. Ia akan masuk penjara.

__ADS_1


"Merah..., oh shit! Lu buat gue jatuh cinta dengan hati lembut lu!"


"Kalau gue nggak bisa dapetin lu, orang lain juga nggak boleh dapetin lu!" Satria mengoreskan pisau ke wallpaper, lalu menariknya dan membuat wallpaper itu rusak.


__ADS_2