
Banuwarna membungkus sedemikian rupa lukisan yang telah dilemburnya semalam. Lukisan itu tidak besar, tapi tidak terlalu kecil juga. Banuwarna menyembunyikan rapat lukisan itu di gudang, siapa tahu Petra kepo dan membuka bungkusan persegi panjang itu. Untuk mengantisipasi saja.
Banuwarna berdiri didepan kelas, menunggu kedatangan Merah dari setengah tujuh pagi. Datang setengah tujuh pagi merupakan rekor bagi seorang Banuwarna. Petra saja melihatnya keheranan.
"Semangat amat, nunggu siapa?" tanya Petra, Banuwarna menggeleng lalu tersenyum.
"Aneh lu kampret!" umpat Petra. Banuwarna tak menghiraukan Petra membiarkan Petra kesal sendiri dan masuk kedalam.
Entah kenapa Ia merasa sangat semangat. Atau karena Merah? Ah, tidak mungkin. Tidak mungkin Ia mudah jatuh cinta, apalagi dengan cewek bisu dengan penuh misteri satu itu. Tidak mungkin Banuwarna begitu!
Hampir jam tujuh, Banuwarna tidak melihat tanda kedatangan Merah. Petra sedaritadi memarahinya karena tak kunjung masuk. Petra bersorak bahwa Merah tidak akan datang kesekolah karena ia mempunyai pacar seperti Banuwarna yang streesnya nggak ketolongan. Diam-diam Banuwarna memikirkan ucapan Petra, ada benarnya juga.
Banuwarna tampan? Tentu saja.
Banuwarna pandai? Tentu saja, siapa yang tidak mengenal Banuwarna yang selalu menduduki peringkat dua puluh kebawah.
Banuwarna baru sadar, bahwa modal tampan saja tidak berpotensi mendapatkan Merah. Bagaimana dengan Merah? Cantik? Tentu saja. Malahan seperti aktris korea. Pintar bahasa inggris? Tentu saja. Pintar akademis? Tentu saja, nama Merah bahkan dalam waktu sekejap terkenal diantara guru-guru. Apa yang harus dibanggakan Banuwarna?
__ADS_1
"BANU!" teriak Bu Swasti didekat telinga membuat Banuwarna terkesikap.
"Iya bu?"
"Kamu kenapa nggak masuk!" gertak Bu Swasti, guru itu memang terkenal Killer karena suka marah-marah di kelas hanya karena kesalahan kecil.
"Nungguin Bu guru," jawab Banuwarna cengegesan. Bu Swasti bukannya tersenyum malah semakin menjadi. Wajah Bu Swasti terlihat menahan kemarahan.
"GAADA ALASAN! SEKARANG LARI KELILILING LAPANGAN LIMA PUTARAN!"
Petra merutuki kebodohan Banuwarna, padahal sedaritadi ia sudah menyuruh Banuwarna masuk, tapi Banuwarna itu pura-pura tuli.
"Mlehoy!"
"Pleyboy bu, Pleyboy." ucap Banuwarna membenarkan.
----
__ADS_1
Sudah dua putaran Banuwarna mengelilingi lapangan, juga di dua kali putaran pandangan Banuwarna tak lepas dari pintu gerbang. Berharap Merah datang. Banuwarna menghela nafas, ketika putaran ketiga ia tak melihat Merah.
Entah kenapa Merah selalu membuatnya berharap. Aneh sekali, Banuwarna tak pernah merasakan seperti ini. Atau mungkin...
"Banu, Violet kasih minum nih!" ujar gadis cantik bernama Violet, Banuwarna menerima minuman itu.
"Makasih," Violet tersenyum bahagia.
"Banu, nanti...., kosong nggak?" tanya Violet ragu-ragu. Banuwarna yang pikirannya sudah kemana-mana menggeram kesal. Dan sedetik, ia langsung mengganggukan kepalanya melihat Violet berdiri didepannya.
"Kita jalan?" tanya Violet ulang. Banuwarna mengangguk.
"Gue jemput nanti sore jam 4." Violet tersenyum bahagia, ia langsung berlari menghampiri tiga temannya.
----
"Lo tau nggak? Gila! Gila parah!" ujar gadis berambut panjang itu kepada tiga temannya.
__ADS_1
"Ada berita apa Vio?" tanya Kenanga. Ya, dia teman Violet.
"Banuwarna mau gue ajak jalan! Mimpi apa gue semalem! Astaga!" ketiga temannya itu tampak ikut bahagia. Dan selama ini pun mereka tahu bahwa Violet menyukai Banuwarna, karena Banuwarna sangat tampan dan pintar melukis. Apalagi Violet juga mengikuti eskul melukis, dan melihat Banuwarna mengoreskan cat air di kanvas saja membuat hati Violet berdegub kencang.