Merah

Merah
bab 40 : Nikah


__ADS_3

BANU NGGAK MAU NIKAH MUDA!" teriak Banuwarna yang membuat perhatian nenek dan kakek tertuju padanya. Huh, pandangan nenek begitu tajam hingga membuatnya sedikit takut.


"Siapa juga yang mau jodohin kamu!" ucap Nenek dengan nada tak perduli. Ucapan nenek itu berhasil membuat Banuwarna menghela napas lega.


"Lalu siapa?" tanya Banuwarna.


"Mungkin ayah mau nikah lagi bang!" ujar Bano dengan gaya polos-polos drama gitu.


"Hus! Kalau ngomong nggak boleh gitu!" omel kakek. Bano menundukan kepalanya, menahan tawanya yang mungkin saja sedikit lagi pecah.


"Danu, abang kamu." jawab Nenek.


Danu? Siapa Danu? Bahkan baru pertama kali Banuwarna mendengar nama itu disebut.


"Abang? Sejak kapan Banu punya abang?" tanya Banuwarna kebingungan.


"Hah! Bano punya abang? Ganteng nggak? Pasti ngalahin Bang Banu ya? Bano pengen ketemu Bang Danu Oma!" ucap Bano histeris dan tidak bisa tenang, anak itu emang terlalu hiperaktif.


"Ya sejak mama kamu lahirin Abang Danu lah! Gimana sih bang!" omel Bano.


Nenek tersenyum lalu mengusap rambut Bano lembut.


"Bener kata Bano, jadi, Danu itu orangnya pemalu. Nggak seperti kamu! Nauzubillah, nggak bisa diem. Danu semenjak kamu lahir memilih untuk ikut paman ke luar negeri supaya Mama nggak kerepotan." jelas Nenek. Banuwarna mengangguk paham.


"Eh, kenapa Mama nggak cerita?"


"Karena Danu berpesan buat Mama buat ngerahasiain dirinya." Banuwarna ber'oh ria.


"Nenek amit pulang, jangan lupa dandan yang bagus." ujar Nenek, sesaat kemudian nenek dan kakek keluar, dan melesat mengunakan mobil sedan.


------


Banu! Cepetan! Abang Danu udah nunggu di bandara!" omel Bunda. Banuwarna yang masih memejamkan matanya masih enggan bangun. Hingga Bunda harus turun tangan dengan menguyur Banuwarna dengan segelas air.


"Bunda!!!!!" teriak Banuwarna kesal. Bunda memukul pantat Banuwarna dengan keras.


"Heh! Abang kamu mau nikah! Udah untung Bunda bangunin, ini malah teriak-teriak nggak jelas!"


"Iya bunda cantik....., " ujar Banuwarna.


Setelah kurang lebih dua puluh lima menit, Banuwarna selesai berbenah diri. Ia memakai jas hitam dengan dalaman kaos hitam, tak lupa jam tangan rolex satu-satunya yang ia punya melekat pada pergelangan tangan kirinya. Ia terlihat lebih keren dari biasanya.


"Ayo! Nenek kamu sudah ngomel ini!"


"Kamu yang nyetir Nu! Ayah males nyetir." teriak Ayah yang masih ada didalam kamar, Banuwarna dengan senang hati mengendarai mobil itu. Kapan lagi diberi kesempatan membawa mobil sport Ayah.

__ADS_1


Setelah Bunda mengecek semua barang, dan setelah diteliti ternyata sudah lengkap. Banuwarna menancap gas.


Selama setengah jam, akhirnya mereka sampai di bandara. Dan Banuwarna pertama kalinya melihat Danuwarna, kakaknya. Ya, Banuwarna akui bahwa Danu lebih keren darinya. Karena gaya dewasanya itu membuat kakaknya seperti cast CEO yang ada di wattpad-wattpad.


"Ini Banu bun?" tanya Danu.


"Iya. Ganteng 'kan?"


"iya." benar kata Nenek, Danu itu irit ngomong dan lebih cenderung pendiam. Sangat beda dengan dirinya.


-----


Keesokan harinya, keluarga Fisaka disibukan dengan dekorasi yang dadakan dan harus diatur sesuai dengan keinginan Red. Red menginginkan seluruh rumah dihiasi bunga putih dan merah. Fisaka pun dengan senang hati menurutinya, karena hari spesial ini hanya terjadi satu kali saja dalam hidup anaknya.


"Merah, ayo! Ganti gaun dulu, abis itu dandan" tanya Lenka.


Merah menggangguk, ia menuju lemari besar dihadapannya. Dan mengambil baju yang sudah dipersiapkan. 6 gaun berwarna merah marron yang berbeda model.


"Kakak!" panggil seseorang. Merah menoleh, mendapati Jingga menatap dirinya.


"Jingga! Baru sampai?" tanya Merah. Jingga mengangguk.


"Purple mana?" tanyanya lagi.


"Sini, kamu mau pakai baju yang mana?"


Jingga berlari kecil, ia duduk di pinggiran kasur lalu memperhatikan gaun-gaun yang ada.


"Ini aja, bantuin Jingga ya kak!" ujar Jingga antusias, tangannya menenteng mini dress dengan banyak gliter, Jingga pasti sangat cantik memakai itu.


Merah dan Jingga selesai berganti pakaian, giliran mereka mendatangi Lenka yang mendadani mereka. Lenka pandai dalam merias wajah, jadi mereka percaya saja.


"Kakak!" seru dua suara yang berbeda. Jingga dan Merah menoleh, Ya, Cloudy dan Purple. Mereka itu memang jarang bertemu, karena setiap orang mempunyai urusan masing-masing, jadi ya begitu.


"Kalian ganti baju dulu aja! Kakak sama Jingga mau di makeup sama Mama." Cloudy dan Purple mengangguk.


Mama Lenka membuka kotak makeupnya, sangat lengkap, bahkan Merah tidak pernah tahu kalau Lenka mempunyai makeup sebanyak itu. Lenka terlihat lihai memakeover seorang Merah dengan senatural mungkin tapi terlihat cantik.


Satu persatu, mulai didandani oleh Lenka. Hingga tepat jam sepuluh lagi, persiapan mereka telah rampung. Tinggal menunggu pihak dari lelaki.


----


"Assalamualaikum..., " salam dari keluarga calon mempelai lelaki. Red sungguh gemetaran, takut bahwa ia mendapatkan calon yang jelek atau bagaimana lah.


"Ayo masuk! Clau, Ra, Jingga, sini nak!" teriak Fisaka. Merah, Cloudy, Jingga langsung menuju ke ruang utama

__ADS_1


"Saya Merah tante," Merah menyalami wanita paruh baya didepannya.


"Eh–kamu yang waktu itu kan?" Merah terkejut, ia menatap wanita itu tersenyum lalu mengangguk. Merah celingukan mencari anak dari wanita itu.


Tapi nggak ada batang hidungnya anak itu.


"Hai om, saya Merah, ini Cloudy, Jingga, dan Purple." ujar Merah mengenalkan diri, berlanjut pada Nenek dan Kakek. Ia tersenyum dan berusaha bersikap sopan kepada mereka.


"Eh! Maaf mah, Banu tadi habis benerin rambut!" ucap Banuwarna tergesa-gesa. Merah langsung menatap Banuwarna.


"Eh Astagfirullah—" Banuwarna terlonjak kaget menatap Merah. "Cantiknya MasyaAllah."


"Apaan sih!"


"Kalian udah saling kenal?" tanya Nenek. Banuwarna dan Merah mengangguk.


"Kita pacaran nek," ucap Banuwarna. Merah yang tidak terima langsung memukul bahu Banuwarna.


"Enggak nek—suer deh!"


"Mau sekalian nikah? Pumpung ada penghulu?" goda nenek.


"Boleh nek. Ayo sayang, kita sah kan hubungan kita!" Merah menimpuk Banuwarna dengan bunga yang dibawanya yang membuat satu tangkai bunga mawar jatuh.


Banuwarna berjongkok mengambilnya dan menyodorkannya pada Merah. "Takdir itu sangat indah, mempertemukan kita ditempat-tempat tidak terduga."


"Cie..., cie..., " goda Cloudy, Purple, dan Jingga. Pipi Merah jadi bersemu karena kata-kata bucin Banuwarna itu.


"Maaf, saya terlambat!" ucap seseorang yang membuat perhatian semua orang tertuju pada orang itu.


"Ayo Danu! Kita segera melakukan!" ucap Fisaka. Danu mengangguk, ia menurut, mengikuti langkah Fisaka.


"Red, ini calon suami kamu." Red menoleh, mata birunya langsung menatap iris mata hitam Danu. Danu tersenyum, memperlihatkan kedua lesung pipinya yang dalam.


"Assalamualaikum, ijinkan saya menjadi pendampingmu dan menjadi ayah dari anakmu." ucap Danu. Red merasa terpana dengan sikap lembut Danu. Ia mengangguk kecil.


"Aaaa... Clou Pengenn!" ucap Cloudy sengaja menyindir Merah karena sedari tadi menatap Red dengan Danu.


"Halalin adek bang!" lanjut Jingga.


"Sekarang juga bang! Adek pengen sama kek dia!" sambung Purple. Merah langsung menatap tajam ketiga adiknya bergantian.


"Hayulah abang halalin!"


"Banu!!!!"

__ADS_1


__ADS_2