
Beb, I'm sorry. I must back home..." ujar Maxime sembari mengengam tangan Merah. Merah bermain peran, memasang wajah sendu agar Maxime percaya pada wajah itu. Kebalikan dalam hati Merah, Merah sangat bahagia.
Maxime harus kembali karena katanya orangtuanya sedang sakit dan perusahaan milik orangtuanya tidak ada yang menjalankan. Benar-benar bodoh! Merah tertawa dalam hati mendengar pernyataan itu. Perusahaan dari mana? Bahkan tiket datang ke Indonesia saja Maxime meminta ganti. Merah tahu, Maxime itu dari kalangan biasa yang sangat baik pada awalnya. Maka dariitu Merah menyukainya, ternyata setelah Merah mengungkap jati dirinya pada Maxime. Semua berbeda, Maxime berubah menjadi orang yang suka meminta dan tempramental.
"Okay, beb." Merah mengusap tangan Maxime, perlahan melepaskan gengaman halus. "Good bye, sweetheart.."
"DON'T FORGET! DON'T COMEBACK AGAIN! I NOT LIKE YOU NOW!" teriak Merah saat mobil yang mengantar Maxime berjalan. Mendengar teriakan itu Maxime mendelik dan memberikan umpatan kepada Merah. Merah hanya mengangkat bahu acuh lalu masuk dalam mansionnya. Kepergian Maxime lebih cepat daripada yang ia duga.
"Padahal saya baru akan mengatakan apa yang Tuan Maxime lakukan selama disini." ujar Mbak Oky, Merah tersenyum dan menyodorkan kunci ruang yang Mbak Oky saja tak tahu.
"Cek aja." ujar Merah. Mbak Oky mengendikan bahu acuh, ia tak mengambil pusing kunci apa itu. Yang pasti ia akan mencobanya dimanapun.
"Oh iya, I will back my home. Jaga baik ya!" Mbak Oky yang mengerti ucapan Merah mengangguk.
----
Setelah mengemasi barang bawaannya, Merah menghubungi Satria supaya menyiapkan mobil. Karena sebelum ia kembali kerutinitasnya, ia harus kerumah Papa terlebih dahulu.
Tak menunggu lama, Satria sudah memanggilnya. Mobil sudah di cek dan semua dalam kondisi aman. Merah masuk ke mobil itu dan merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
"Nona tidak sakit 'kan?" tanya Satria yang khawatir pada Merah. Merah menggeleng, Satria mengangguk paham dan membiarkan Nyonyanya beristirahat. Ia tahu, banyak yang telah Merah lalui, banyak masalah, dan semuanya berat karena harus dilakukan sembunyi-sembunyi.
"Saya khawatir pada Nona Red, jangan sakit ya..," ucap Satria menatap nanar Merah dari spion kecil.
Merah yang belum tertidur mendengar itu tersenyum kecil, Merah tahu Satria menaruh rasa kepadanya sedaridulu. Merah kagum juga pada Satria, karena Satria sangat profesional dalam kinerja. Padahal jika Satria mengungkapkan padanya Ia tak masalah. Ya sudahlah.
-----
Tepat jam empat sore, Banuwarna bersiap untuk bertemu Violet. Entahlah Banuwarna tak yakin bahwa ia benar benar setuju dengan ajakan Violet. Tapi karena kekesalannya, Banuwarna langsung mensetujuinya.
Banuwarna menganti pakaiannya dengan kaos hitam dengan tulisan 'Badboy' dan jeans berwarna putih. Tak lupa sepatu dan topi senada, menyempurnakan tampilannya. Setelah di rasa pas, Banuwarna mengambil kunci motornya. Bodoamat sih baginya, ia bukan tipe orang yang pamer barang-barang mewahnya. Tapi ia tipe-tipe orang yang memamerkan kelebihan pada dirinya. Bukankah lebih baik begitu.
"Makasih udah nepatin janji," ucap Violet. Banuwarna mengangguk.
"Yaudah naik! Ngapain masih disitu?" Violet gelagapan, ia kaget dengan ucapan Banuwarna yang sedikit meninggi. Violet menaiki motor matic itu dengan sedikit menjaga jarak dengan Banuwarna. Sabar Vio, belum saatnya tangan lu melingkar di pinggang Banuwarna. Batin Violet.
Tak ada yang memulai pembicaraan, Violet berharap Banuwara yang memulai pembicaraan, jadi ia memilih diam. Banuwarna menghela nafas, apa dia sedang berboncengan dengan patung.
"Kemana?" tanya Banuwarna, Violet tersenyum, akhirnya Banuwarna memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Kemana aja." jawab Violet.
"Ke kuburan mau?" tanya Banuwarna lagi.
Violet menaikan sebelah alisnya bingung. "Mau ngapain?"
"Nguburin lu." jleb. Violet langsung membeku, Banuwarna yang periang ternyata sangat dingin.
"Bercanda 'kan kamu? Bisa aja!" ujar Violet untung mencairkan suasana.
"Serius." Violet langsung diam, tak berani bertanya lagi, karena yang ia ucapkan pasti akan mendapatkan jawaban dingin yang menyakitkan.
----
Mbak Oky sudah selesai mengerjakan semua pekerjaannya, mansion besar itu terlihat sangat bersih karena tidak ada yang menempati. Semua pelayan disini dibebaskan jika Merah tidak ada dirumah, tapi dengan satu syarat, ketika Merah tiba-tiba pulang, mansion harus dalam keadaan bersih.
Mbak Oky mengenggam kunci yang Merah berikan, ia memulainya dari kamar kecil di pojok ruangan sampai tengah dan semuanya gagal. Mbak Oky memberanikan diri membuka kamar pribadi milik Merah, tidak ada yang berani masuk ke kamar itu, hanya Satria yang memiliki wewenang masuk dan membersihkan kamar Merah.
Mbak Oky mencoba kunci itu, dan berhasil. Mbak Oky masuk kedalam kamar besar itu, ia takjub dengan semua yang ada dikamar ini. 4 buah komputer yang menyala membuat Mbak Oky langsung mendekat. Mbak Oky mengerti bahwa ada CCTV di segala penjuru rumah ini, dan tidak ada yang tahu. Mbak Oky saja terkejut bahwa hanya di kamar mandi dan kamar pribadi pelayan yang tidak ada CCTV.
__ADS_1
Karena merasa pertanyaannya terjawab, Mbak Oky langsung keluar dari kamar Merah. Dan menguncinya kembali.