Merah

Merah
BAB 27 : Insiden


__ADS_3

Malam itu, Srayyred baru mendarat. Dikarenakan hal yang mendadak membuat Srayyred harus bolak-balik New York - Indonesia. Di Indonesia ia tinggal bersama Jingga yang merupakan adiknya. Jingga memiliki usaha dibidang properti yang terkenal berkat nama Fisaka, Papanya yang merupakan pemilik perusahaan terkenal di kancah internasional.


Srayyred menunggu sang assisten untuk menjemputnya. Lagipula ia juga ditemani Ciko—Pacarnya. Ciko, nama panjangnya Alfareza Cikozi, anak pengusaha batu bara yang sangat dikenal banyak pimpinan perusahaan. Disitulah awal pertemuan Srayyred, dan memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Ciko.


"Red!" panggil seseorang. Srayyred menoleh dan menatap orang itu.


"Who?" tanya Srayred. Wajah orang itu tampak bingung mendengar yang diucapkan Srayred. Ciko yang menangkap wajah bingung itu langsung tanggap.


"Maksud dia, kamu siapa?" jelas Ciko, orang itu mengangguk.


"Oh, saya Banuwarna. Pacar dia!" tunjuk lelaki kearah Srayyred, Srayyred menoleh kebelakang. Tidak ada orangpun selain dia, lalu siapa?


"No! " teriak Srayyred yang paham dengan ucapan lelaki itu.


"Mungkin yang kamu dimaksud Merah?" tanya Ciko, Ciko memang tahu misi itu sejak kemarin misi itu selesai.


"Tetapi mukanya sama kok," sergah Banuwarna, "dia suka bicara bahasa inggris padahal kan dia bisa bahasa Indonesia!"


Ciko tersenyum memperlihatkan dua lesung pipinya. "Saya jelaskan."


Ciko menjelaskan semuanya dari awal, bagaimana semua itu terjadi. Apa alasan dibalik misi itu. Semuanya Ciko ceritakan, sama persis dengan apa yang diceritakan Srayyred. Banuwarna mengangga lebar, seolah tidak mempercayai semuanya.


"Bagaimana bisa? Gilaaa, selama ino saya tertipu? Dia tidak terkenal? Yang terkenal adalah Red? Iya begitu?" Ciko mengangguk. Banuwarna mengetuk dahinya, bagaimana ia begitu bodoh ditipu wanita.


"Tapi tenang, dia tetap kaya. Dia anak angkat Papa Fisaka. Dan dia tidak akan pernah kehabisan harta."


"Nyonya, Tuan, mobil sudah siap." sela seseorang membuat Ciko dan Srayyred menjauh dari lelaki yang bernama Banuwarna itu.


---


Banuwarna mendapat telephone mendadak dari Ayahnya, katanya Ayahnya telah tiba di bandara. Benar-benar kabar gembira bagi Banuwarna karena Ayahnya adalah orang yang paling membuat Bunda dan Bano tidak berani berakting. Banuwarna bergegas berganti pakaian, setelah menyelesaikan semuanya. Banuwarna menancap gas menuju bandara.


Jalanan kota di malam hari sangatlah dingin, yang perlu diingat. Banuwarna suka mabok perjalanan jika jendela tidak terbuka, maka dariitu dia selalu membuka kaca jendela mobil jika terpaksa mengunakan mobil.


Sesampainya di Bandara, Banuwarna berkeliling sebentar sembari menunggu pesawat Ayah yang tiga puluh menit lagi mendarat.

__ADS_1


"Ternyata banyak cecan," ucap Banuwarna melihat cewek-cewek yang putih dan cantik disini. lumayan buat cuci mata.


Banuwarna menatap dekat pintu keluar, ia seperti melihat Merah. Tapi, Banuwarna tidak yakin kalau itu Merah. Lagipula warna rambutnya sedikit berbeda. Banuwarna berjalan mendekat, itu benar-benar Merah, wajahnya sangat mirip.


"Red!" teriak Banuwarna memanggil. Gadis itu juga menoleh, lelaki disebelahnya juga ikut menoleh.


"Who?" ucap gadis itu. Banuwarna menghela nafas, mulai lagi deh dramanya.


"Maksud dia kamu siapa?" tanya lelaki disamping gadis itu. Banuwarna mengangguk paham.


"Oh, saya Banuwarna. Pacar dia!" tunjuk Banuwarna pada gadis itu. gadis itu terlihat kaget, karena mengerti apa yang dia ucapkan.


"No!" teriak gadis yang mirip dengan Merah.


"Mungkin yang dimaksud Merah?" timpal lelaki disamping gadis yang Banuwarna panggil Red.


"Tapi mukanya sama kok," ucap Banuwarna memandang gadis itu.


Lelaki itu tersenyum memperlihatkan dua lesung pipinya. "Saya jelaskan."


Lelaki itu menjelaskan semuanya dari awal, bagaimana semua itu terjadi. Apa alasan dibalik misi itu. Semuanya di ceritakan. Banuwarna mengangga lebar, seolah tidak mempercayai semuanya. jadi selama ini Red dan Merah itu orang berbeda?


"Tapi tenang, dia tetap kaya. Dia anak angkat Papa Fisaka. Dan dia tidak akan pernah kehabisan harta." jelas lelaki itu. yayaya, yang kaya mah bebas.


"Nyonya, Tuan, mobil sudah siap." sela seseorang membuat mereka menjauh dari Banuwarna.


Banuwarna membiarkan mereka pergi, ia kembali duduk karena lima menit lagi pesawat yang ditumpangi Ayah akan tiba.


Setelah menunggu lima menit, akhirnya pesawat itu telah mendarat. Banuwarna yang melihat ayahnya dari kejauhan langsung berlari dan menghampiri ayahnya.


"I miss you, Pa."


"Too, Baby U!"


Mereka berpelukan, saling melepas rindu yang telah lama dipendam.

__ADS_1


-----


Merah memasuki mansion miliknya, so, ini adalah pemberian Papa Fisaka, Merah diangkat menjadi anak dan dianggap sebagai saudara kembar Srayred. Ia tidak lagi mengemis, ia sekarang hanya melanjutkan kuliahnya jurusan Psikologi di Universitas ternama di Indonesia.


"Bik, tolong siapkan pakaian saya yang sudah lama ya! Saya mau kasih ke anak-anak basecamp." teriak Merah.


Ia memejamkan matanya. Lalu membukanya kembali, ia memencet tombol power pada ponselnya. Iseng, Merah membuka Instagram Srayred, memanglah, akun itu untuk mereka berdua. Karena Srayred tidak mau Merah celaka dikarenakan netijen-netijen Indonesia yang nyinyir. Kakak yang baik bukan?


"Nona Merah, sudah siap!"


Eits, tunggu— Merah dan Srayyred memiliki nama yang sama. Srayyred Grey Fisaka, dan Merah Srayyred Grey Fisaka. Nama itu segaja disamakan supaya orang orang yakin mereka kembar jika suatu hari nantinya akan terbongkar.


Merah melepaskan roknya, menganti dengan celana panjang, dan mengerai rambutnya.


"Kemana Satria Bi?" tanya Merah.


"Dia sedang menjemput Nona Srayyred," ucap Mbak Oky. Memang, Merah lebih suka memanggil Mbak Oky dengan sebutan Bik terkadang.


"Oh, yaudah Bi. Saya sama Pak Broto aja." Merah memasuki mobil hitam yang didalamnya sudah ada Pak Broto—supirnya yang sudah separuh baya. Baru kali ini Merah bersama Pak Broto, karena Pak Broto tugasnya hanya mengantar pelayan dirumah ini untuk kepasar atau membeli perlengkapan lainnya. Walaupun hatinya merasa aneh, tapi Merah menyingkirkan pikiran itu.


"Mau kemana Nona?" tanya Pak Broto dengan suara seraknya, mendengar itu seketika Merah langsung merinding entah kenapa.


"Basecamp pak," ucap Merah.


Disepanjang perjalanan Merah merasa risih karena Pak Broto terus mengamatinya dari kaca spion tengah. Entah kenapa juga, Merah merasakan ada hawa lain disamping Pak Broto. Padahal sejak bertemu dengan cowok yang bernama Banuwarna, banyak hantu yang tak berani muncul dihadapannya. Lalu, apa itu?


"Pak, em...., saya turun didepan supermarket situ aja pak." tunjuk Merah. Pak Broto seolah tidak perduli tetap menancap gasnya.


"PAK!"


"BERHENTI!"


Merah berteriak kencang, tapi Pak Broto tetaplah menancap gas kencang. Merah memejamkan matanya erat, banyak suara klakson yang saling beradu.


BRAKK!

__ADS_1


Tubuh Merah limbung, jatuh pada aspal. Lalu kesadarannya hilang saat itu juga.


*****


__ADS_2