Merah

Merah
BAB 29 : Anthony


__ADS_3

"Bagaimana dengan Pak Broto? Apakah kalian sudah menemukannya?" tanya seseorang dengan senyum smrik diwajahnya.


"Belum pak, kami sedang berupaya mencarinya. Saya menemukan baju Pak Broto yang dibuang di semak-semak." jelas orang disebrang sana.


"Oke, lanjutkan investigasinya. Cari secepatnya, saya curiga bahwa dia adalah salah satu mata-mata perusahaan."


"Baiklah..,"


Tut..., sambungan diputuskan sepihak. Ia langsung mengemasi berkas-berkasnya dan memasukannya kedalam tas kerjanya.


"Antoni! Dipanggil Bos!" teriak Rika, dia sekretaris bosnya. Yang pasti Rika itu memiliki body yang sangat proporsional.


"Ya Rika, saya akan kesana!" balik teriak lelaki bernama Antoni itu.


Antoni berjalan menuju ruangan bosnya, itu hanya berjarak berberapa ruangan, karena kantor ini mengunakan sistem ruang terbuka. Dimana manajer dan seluruh staf berada digedung/lingkup yang sama.


"Ya bos, ada apa?" tanya Antoni.


"Jangan lepaskan Broto, dia bajingan keparat! Dia ternyata mata-mata perusahaan. Hampir saja dia mencuri dokumen rahasia perusahaan jika pelayan tidak menegur."


"Baiklah pak."


----


"Bos sudah tahu semuanya! Segera keluar kota, anak buah bos sedang mencari!" perintahnya dengan tegas. Ia tersenyum smrik.


"Anda main-main dengan Alexander Antony Brawijaya?"


----


Keluarga Brawijaya memiliki perusahaan bernama Brawijaya group's, perusahaan itu selalu mendapatkan peringkat dibawah perusahaan Fisaka yang jauh lebih unggul. Keluarga itu juga merupakan musuh terbesar dari Fisaka karena sering memata-matai perusahaan. Maka dariitu, setiap anak angkat maupun kandung dari Fisaka mempunyai banyak pengawal untuk melindungi mereka dari ancaman Brawijaya group's. Terkadang, anak-anak fisaka harus menyamar menjadi orang kalangan biasa untuk menjalani hidup normal tanpa ancaman.


Ya seperti serangkaian misi yang mereka jalani, mereka melepas topeng mereka saat ada di lingkungan rumah, perusahaan, dan acara perusahaan. Itu semua dengan satu tujuan, yaitu melindungi diri mereka.


----


"Fisaka, bagaimana? Kau aman disana?" tanya Pradiksa dengan khawatir.


"Saya baik, bagaimana dengan perusahaan Brawijaya? Apakah mereka masih berusaha mencuri dokumen rahasia perusahaan?" tanya Fisaka disebrang sana dengan nada khawatir.


"Ya begitulah, tapi tenang saja. Semua itu sudah diatasi. Tim saya juga sudah menulis data seluruh penghianat. Jadi tenang saja, nikmati liburanmu, Fisaka. Biarkan semua orang tahu bahwa kau sedang pengobatan diluar negeri."

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih banyak membantu saya."


"Iya, sudah, saya mau kembali bekerja." ucap Pradiksa lalu diakhiri dengan memencet tombol merah.


---


Merah masih dalam kondisi lemas, luka disekujur tubuhnya benar benar membuatnya tersiksa. Bergerak sedikit saja terasa perih, tapi jika tidak gerak ia merasakan pegal.


"Sayang, jangan banyak gerak." ujar Lenka dengan lembut.


"Gapapa Mah, lagipula Merah udah baikan kok.


"Yasudah, terserah kamu. Oh iya, soal Pak Broto sudah diatasi, kamu nggak perlu takut lagi."


Merah manggut-manggut paham.


"Lagian Merah nggak takut,"


Lenka tersenyum, ia mengusap rambut putrinya lembut. "Istirahat yang banyak, nggak kangen sama pacar kamu?" goda Lenka.


"Merah jomlo mah,"


"Ya......, ada." raut wajah Merah berubah jadi gugup, memang ia sering berakting. Tapi jika didepan Lenka, semuanya akan luntur seketika. Ia tak tega membohongi Lenka.


"Ciee..., jatuh cinta ya?"


"Eng..., gak!"


"Iya 'kan?"


"Eng..., gak!"


"Berarti iya," ucap Lenka.


"Mah, lagian kenapa Merah suka dia? Cowok nyebelin paling bikin naik darah aja."


"Lagian nggak ada salahnya suka sama seseorang 'kan sekalipun orang itu nyebelin?" balik ucap Lenka.


"Ishh.., bukan gitu mah!" kesal Merah.


Lenka tertawa, "Mama setuju kok kamu deket sama dia, apalagi mama kenal sama keluarganya."

__ADS_1


Merah terkejut, bagaimana bisa? Ya itulah yang terlintas diotaknya.


"Kok bisa?"


"Rahasia dong,"


-----


Plesbek.


Lenka, nama kepanjangannya Alenka Safira Adijaya. Dia berasal dari keluarga sederhana. Kesederhanaan Lenka lah yang membuat seorang Pradiksa tertarik dengan Lenka.


"Pa, lihat deh lukisan ini. Bagus banget ya Pa." ucap Lenka sambil menunjuk foto yang terdapat sebuah lukisan cantik dan sangat mendetail.


"Iya, Ma, sangat mirip dengan anak kita."


Lenka me-zoom lukisan itu, ia tersenyum membaca tulisan kecil yang ada dipojok lukisan.


"Bisa cari latar belakangnya nggak Pa?"  Pradiksa mengangguk.


"Banuwarna George Putra Severadino, anak pertama dari Severadino, banyak meraih penghargaan melukis semenjak duduk dibangku SD. Ibunya seorang aktris, yang sekarang sudah vakum di dunia hiburan. Dan Dino, Ayahnya. Beliau bekerja di perusahaan milik ayahnya, dan merupakan pewaris tunggal perusahaan itu." Pradiksa membaca pesan itu dengan seksama, Lenka mendengarkan dengan cermat juga.


"Berarti mereka keluarga berbakat Pa, Mama suka. Kalau sama itu mama setuju, Mama mau diajarin akting." ujar Lenka penuh semangat.


"Akting buat apa Ma? Bukan buat bohongin Papa kan?" goda Pradiksa.


"Lagipula, Papa 'kan sama kaya si Merah. Mana bisa mama bohong."


"Iya sih, waspada kan lebih baik, Ma."


"Besok atur waktu buat ketemu sama Mamanya Banuwarna ya Pa?" pinta Lenka.


"Apasih yang enggak buat Mama,"


"Udah tua masih aja suka godain."


"Mama, udah tua aja masih cantik aja."


Lenka tersipu malu, memang suaminya itu suka membuat wajahnya memerah.


ya akhirnya mereka bertemu dengan bantuan Pradiksa, Mereka saling bercakap tentang sikap anak mereka. dan diakhiri dengan sebuah pertemanan dan hubungan bisnis yang hangat.

__ADS_1


__ADS_2