
Pagi itu, Merah tak lagi berpakaian lusuh. Ia hanya harus bersekolah disekolah biasa, ya ia harus menyembunyikan identitasnya. Dengan bersekolah di sekolah biasa, maka jejaknya akan sulit dilacak, berbeda dengan sekolah Internasional yang sudah pasti akan mudah dicari karena yang bersekolah disana hanyalah murid istimewa berdompet tebal.
Ya yang Merah pikirkan adalah respon dari murid disana. Akan heran, atau biasa saja. Itu belakangan, pikirnya.
Dengan mobil sedan Merah menuju sekolah. Bosan sebenarnya harus berada dilingkup orang seperti ini, tapi mau bagaimana lagi kalau sudah masuk terlalu dalam. Masa keluar?
Sesampainya di sekolahan, Merah turun. Tiba-tiba ia menjadi pusat perhatian, rambutnya cukup berani disekolah sederhana. Apalagi rambut pirangnya dan mata cokelat terangnya menjadi pusat perhatian.
Dulunya, dengan kondisinya yang dekil. Memang semuanya juga memperhatikan, tapi, dengan tatapan tak suka juga jijik. Ia melangkah memasuki sekolahan, Pak Satpam yang dulunya cuek kepadanya, kini tiba-tiba bersikap ramah kepadanya.
Drama apa ini?
"Hai!" sapa cowok yang lumayan populer, ia ingat bahwa cowok ini pernah menatapnya dengan tatapan hina.
"Hai juga, kenapa?" ujar Merah bersikap ramah.
"Nama kamu siapa?" tanyanya. Merah menahan tawanya, tapi ia masih suka bermain-main dengan cowok didepannya ini.
"Meyah,"
"Hah? Kok namanya mirip dengan anak bisu dulu ya?" Merah terkekeh.
__ADS_1
"Emang itu saya." jleb. Cowok itu tersenyum getir, masih ada rasa-rasa tidak percaya dengan ucapan Merah.
"Nggak mungkin, lagian dia beda sekali dengan kamu."
Merah berdecih. "Kenapa nggak mungkin? Lagian kalian semua liat Merah yang dulu itu bisu 'kan? Nggak ada yang pernah ngelihat fisik Merah yang asli. Emang ya, manusia sekarang itu cuma lihat dari kekurangannya aja, padahal dibalik semua itu dia punya banyak kelebihan."
"Kenapa? Pasti masuk ke hati 'kan?"
"Tapi camkan satu hal, bedakan mana yang tidak bisa berbahasa indonesia lancar dengan bisu!" Merah mempertegas. Ia berjalan melewati koridor-koridor yang lumayan lenggang karena masih terhitung pagi.
"Hah, berhadapan dengan stupid boy." ia menghela nafas panjang, berusaha untuk melupakan semuanya.
Merah masuk kedalam kelasnya, hanya ada dua murid yang sudah datang. Ia pun duduk ditempat biasanya, cuek dengan Leta dan Ira yang menatapnya seolah bertanya-tanya 'Kamu siapa?'. Namun keduanya enggan untuk mendekati.
---
"Hei!"
"Hei!"
Guncangan di bahunya membuat Merah terbangun, ya mungkin guru datang, pikirnya. Ia membuka matanya, melihat sekeliling menatapnya penuh tanya.
__ADS_1
"Gila ada murid baru cantik rupanya!" seru Hilman, dia termasuk playboy di kelas ini.
Merah menatap seluruh kelas, mencari keberadaan Safira. Matanya tertuju pada cewek yang tengah membaca buku di pojok. Merah bangkit, ia menghampiri Safira.
"Safira, gue mau bicara!" ucap Merah. Safira yang merasa namanya dipanggil pun menoleh pada orang yang memanggilnya.
"Astaga Me—" ujarnya setengah tak percaya.
"Nanti gue jelasin. Ayo buruan!" Safira mengangguk, ia mengikuti langkah Merah. Dan ia berdiri disamping Merah, Merah yang asli.
Sesampainya di dekat toilet, langkah Merah terhenti.
"Jadi gini, gue kembali di sekolah ini karena gue itu disuruh mama gue."
"Gue minta tolong sesuatu sama lu, jangan pernah bilang kalau gue pernah bantu lu. Jangan pernah bilang nama gue yang asli. Oke?" Safira mengangguk.
"Lu sekarang jadi temen gue." ujar Merah. Safira tentunya tersenyum senang. Berteman dengan orang luar biasa bukannya harus dirayakan?
"Ayo kekelas!" ajak Merah. Safira mengikuti langkah Merah kembali.
Sesampainya dikelas, Merah berbarengan dengan Bu Ovi. Ia tersenyum singkat, lalu masuk kedalam kelas. Sebelum itu Merah berbisik kepada Safira. "Jangan pernah berfikir untuk memanfaatkan, karena gue tahu."
__ADS_1
----