
Keesokan harinya, Safira dan Merah tampak bersama. Seperti sebuah akrab yang tiba-tiba terbongkar begitu saja, karena apa? Ya mana ada murid baru yang begitu akrab, apalagi Safira adalah murid yang paling sukar dalam berteman. Ya, Safira memang hanya memiliki teman sedikit, banyak orang yang tidak menyukainya karena memutuskan sepihak. Tapi dalam hal kepemimpinannya Safira patut diacungi jempol, berkali-kali ia membawa kelasnya menduduki juara pertama dalam lomba lingkup sekolah.
"Mau makan apa?" tanya Safira ketika langkah mereka sampai pada kantin yang ramai dengan ratusan umat manusia yang ingin mendapatkan asupan makan siang mereka.
"Samain aja Fir!" ujar Merah sedikit menaikan nadanya, bukan apa-apa karena segerombolan cowok yang baru datang membuat suara berisik. Safira mengangguk kepadanya, lalu berjalan menuju Mbak Pipit—penjual nasi goreng.
Sedangkan Merah, ia mengedarkan pandangannya mencari bangku yang sekiranya bisa diduduki oleh dua orang. Setelah berberapa detik, ia menemukan bangku kosong, disana sudah ada segerombolan cowok, tapi Merah pikir bukan masalah. Ia disekolah ini bayar kok.
"Permisi, saya boleh duduk disini kak?" tanya Merah ketika ia sampai pada bangku yang dimaksud. Tiga cowok itu tersenyum, dan mempersilahkan Merah duduk.
"Iya, duduk aja." kata cowok berambut ikal, menurut Merah sedikit manis karena memiliki lesung pipi.
"Kenalin gue Davit..," ujar cowok Ygang bermata sipit, sepertinya keturunan chinese. "Dan ini..., Ciko dan Galih." lanjutnya dan menunjuk temannya. Merah tersenyum ramah, berusaha ramah lebih tepatnya.
"Saya Srayyred, panggil aja Rara. Okey?" ketiganya mengangguk. Merah memang sengaja mengubah nama panggilannya, supaya tidak ada yang merasa namanya tidak asing.
"Tinggal dimana, Ra?" tanya Galih.
"Em.., Perumahan Clarinton—" Merah menutup mulutnya dengan kedua tangannya, bagaimana dengan cerobohnya ia mengungkap dirinya sendiri.
"Clarinton? Perumahan yang khusus miliyader itu?" sahut Davit sedikit terkejut.
"Rah! Ini bantuin gue bawa!" teriak Safira yang sudah berdiri didepan Merah. Merah langsung sigap membantu Safira menaruh makanan itu. Huh, Safira telah menolongnya dari pertanyaan maut itu.
__ADS_1
"Yaudah dimakan dulu gih!" suruh Ciko.
Merah langsung menatap Ciko dan menatapnya intens. "Btw, lu hati-hati ya. Ada yang ngikutin lu soalnya." ucap Merah, Ciko langsung menatap Merah penuh tanya.
"Maksud lu dia diikutin setan?" tanya Davit, Merah menguyah makanannya sembari menganggukan kepalanya.
Galih menatap Merah. "Lu indiju?" Merah hanya mengangkat bahunya.
"Lu juga hati-hati ya Lih, soalnya banyak yang nggak suka sama lu." ucap Merah. Galih langsung membeku seketika. Mimpi apa tadi malam sehingga ia berhadapan dengan orang yang punya indera keenam seperti Merah.
"Kira-kira gue dapet jodoh kaya apa Ra?" Safira langsung memukul tangan Davit yang nyeleneh itu.
"Kenapa sih cantik? Kalau mau pegang tangan gue sini!"
"Kalian jodoh kok nanti," Merah sudah seperti cenayang bagi Davit, Galih, dan Ciko. Mereka saling pandang, melemparkan segala tanya.
"Najis! Nggak sudi!" nada tinggi Safira membuat Davit memandangnya dengan tajam.
"Kenapa! Keluar tuh mata tahu rasa!"
Merah terkekeh, memang jodoh mereka berdua. Ia meneguk jusnya, lalu berdiri. "Gue duluan ya, lu mau kekelas atau mau pacaran dulu?" goda Merah. Safira langsung menatapnya tidak suka. Merah justru terkekeh.
"Ra, jodoh gue siapa woy? Belum dijawab tadi." protes Davit.
__ADS_1
"Kan gue udah bilang, jodoh lu kayak Safira."
"Najis!"
"Najis juga!"
"Jijik ih! Nggak usah ngikutin!"
----
"Banu! Ada cewek baru cantik banget! Kalau gue perhatiin si kek ada mirip-miripnya sama si Merah." ujar Petra, Banuwarna yang awalnya tidak tertarik karena mendengar nama Merah langsung memasang telinga baik-baik.
"Katanya sih dia itu anak blasteran, matanya aja cokelat terang." lanjut Petra bercerita. Banuwarna makin dibuat penasaran akan cerita Petra itu.
"Tuh dia orangnya!" tunjuk Petra tiba-tiba kearah luar kelasnya, Banuwarna menatap langsung tapi hanya sempat melihat punggung cewek itu saja.
"Nggak kelihatan," ucap Banuwarna.
"Lu nggak penasaran?" Banuwarna mengangguk.
"Kenapa nggak keluar buat liat!"
"Males, palingan dia itu ganjen." Petra geleng-geleng kepala melihat Banuwarna. Memang, cowok itu pantas dirukiyah bersamanya.
__ADS_1
----