Merah

Merah
BAB 16 : Stalking


__ADS_3

Banuwarna mengangga lebar, ia dikejutkan dengan rahasia-rahasia cewek bisu itu. Ternyata medsos milik cewek itu adalah sisi terbalik dari gayanya di sekolah. Sungguh, Banuwarna kaget.


Di sekolah Merah tampak lusuh dan cupu, tapi di medsos Merah sangat kaya dan suka memamerkan sejumlah berlian. Banuwarna sempat tak percaya kalau ini benar-benar Merah, tapi setelah melihat Merah dirumah besar kemarin cukup membuat Banuwarna yakin ini Merah.


Banuwarna juga memencet tombol follow, ia men-scroll kebawah dan mencari foto keluarga dari Merah. Siapa tahu ia menemukan Akun Papa Merah dan berkenalan dengan Papa Merah. Setelah men-scroll banyak foto, Banuwarna menemukan foto keluarga. Disana ada dua lelaki dewasa, tiga cewek bule yang Banuwarna tebak itu adalah adik Merah, juga dua wanita. Sepertinya Merah anak blasteran.


Banuwarna mengetuk layar handphonenya, disitu ada semua akun IG. Banuwarna iseng melihat akun salah satu yang Banuwarna tebak sebagai adik Merah karena sangat cantik, Banuwarna juga mem-follow akun IG yang bernama @JinggaPradiksa @PurpleFisaka dan @Bluecloudy. Ternyata Merah kalah cantik dengan adik adiknya.


Yang menjadi perhatian Banuwarna adalah kue ulang tahun yang ada dimeja foto itu, disana tertera angka 18 tahun. Dan itu sudah satu tahum yang lalu di post. Banuwarna berfikir itu mungkin adik Merah, tapi jika di logika, jika umur Merah 17 tahun, maka adik-adiknya lebih muda daripada Merah. Banuwarna dibuat pusing dengan misteri keluarga Merah itu memilih menutup macbooknya.


------


Pesta kemarin selesai jam tiga pagi, alhasil Merah mengendap-endap masuk kedalam rumah gubuk itu. Pagi hari pun, Merah kena marah habis-habisan karena pulang larut malam, sebelum pukulan rotan mendarat dipunggungnya, Merah menyodorkan tiga lembar uang seratusribuan. Ibu Merah langsung diam, dan menyambar uang itu.


"Lu nggak jual diri kan?" tanya Ibu Merah dengan sadis. Merah menggeleng lalu berangkat ke sekolah.

__ADS_1


Di jalan, Merah berkomat-kamit supaya tidak bertemu dengan Banuwarna disekolah. Ia malas ditanyai oleh cowok itu. Apalagi cowok itu tidak bisa bahasa inggris, akan lebih menyusahkan lagi.


Sesampainya disekolah, Merah tetap sama. Membawa catatan kecil dan memgoreskan coretan setiap perbedaan reaksi orang-orang.


"REDD!" teriak seseorang, Merah diam tak berkutik. Apakah orang itu memanggilnya? Merah bingung, bagaimana jika orang itu orang jahat.


"WOY CEWEK BISU!" sapa Banuwarna dengan nada mengagetkan. Merah langsung menoleh.


"You call me Red?" tanya Merah. Banuwarna menyengir.


"This is Privacy, secret. You know boy?"


"Ember? Maksud lu ngebocorin rahasia? Hahahaha.. Ngelawak ya lu!" Banuwarna menepuk bahu Merah berkali-kali, Merah menatap Banuwarna dengan tatapan heran. Bagaimana bisa cowok itu tertawa padahal tidak ada yang lucu.


"Kalau secret sih gue tahu, rahasia kan?" Merah menggangguk, muncul ide jahil di otak Banuwarna.

__ADS_1


"Nggak bakal gue bocorin, asalkan lu mau jadi pacar gue gimana?" tawar Banuwarna.


"No!"


"Oke, gue bakal bocorin." Banuwarna tersenyum jahil melangkah maju kedepan.


"Fine! Don't talk my secret!"


"Anak baik, yok sayang kita pacaran!"


"Please call me Merah or Red, don't sayang!" gertak Merah. Banuwarna itu malah tersenyum lebar menatapnya, dan sedetik Merah sadar Banuwarna tampan juga.


"Yes! Gue dipanggil sayang. Akhirnya gue diakuin sama lu yang." Merah bergidik geli lalu memajukan bibirnya. Mimpi apa dia semalam sampai sampai jadian dengan makhluk nggak jelas dihadapannya ini. Sampai melupakan satu peraturan untuk tidak melibatkan cinta didalam misi.


-----

__ADS_1


__ADS_2