
Jam istirahat berdering, siapapun yang mendengarnya pasti tidak sabar menyantap makan siang mereka. Tak terkecuali Banuwarna, dia langsung berlari kekantin untuk mendapatkan makan siangnya segera.
"Bu kantin yang cantik juga bahenol kayak Cute Girl pesen bakso satu! Ehe!" teriak Banuwarna dengan menirukan logat Cute Girl. Semua yang ada dikantin mendengar itu langsung tertawa dengan suara Banuwarna yang gagal menirukan suara Cute Girl.
"OY!" teriak Dean, iya dia teman sekelas Merah yang waktu itu. Dean dan Banuwarna memang dekat karena mereka sama sama eskul melukis yang jarang diminati oleh murid disini.
"Iya Zeyenk?" tanya Banuwarna yang langsung ditimpali nomor meja oleh Dean.
"Zeyenk pala lu peyang!" kesal Dean. Banuwarna tertawa terbahak sampai orang-orang memandanginya geli.
"Gimana? Jadi lu yang akan rekrut calon pelukis tahun ini kan?" tanya Dean, Banuwarna tak menghiraukan ucapan Dean memilih sibuk dengan tusuk gigi dan sendok - sendok kantin.
"Woy kamvret! Lu denger kagak sih?!" gertak Dean, Banuwarna mengaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari menyengir lebar menatap Dean.
"Sendok ini lebih penting dari omongan lu sih." ucap Banuwarna dengan cengiran khas dirinya. "Sabar De..sabar.."
"Kampret! Gue seharusnya yang ngomong!" memang, Banuwarna selalu membuat Dean kesal. Karena itulah kebahagiaan Banuwarna, membuat kesal orangm
"Hei cogan, baksonya sudah siap!" Banuwarna langsung menyerobot mangkoknya, ia memakan bakso itu secara maraton.
Banuwarna menyodorkan uang dan mangkoknya pada bu kantin yang menunggunya makan "Makasih Bu kantin Cute Girl."
__ADS_1
"Oke cogan."
Dean yang melihatnya geli sendiri ada Banuwarna. "Pokoknya lu yan rekrut calon pelukis tahun ini." ujar Dean dengan penuh tekanan, Banuwarna menatap Dean bingung dan memilih menuntaskan es teh yang tersisa.
----
Banuwarna menatap langit-langit kamarnya, mulai terpikirkan cewek yang satu itu, Merah. Banyak pertanyaan yang timbul pada cewek itu, dan otak Banuwarna yang terpenuhi kesombongan tidak bisa menerima teori tentang Merah. Ini otaknya yang bego atau dianya yang pinter nyembunyiin?
"Hey bro!" Suara cempreng itu langsung membuyarkan lamunannya.
"Kenapa lo disini?" tanya Banuwarna. Gino cengengesan.
Ia langsung mendorong Gino keluar dari kamarnya, "Eh ngapain lo! Jangan cabul ya bwang!" Banuwarna mengabaikan ucapan Gino. setelah memastikan Gino tidak akan terjepit pintu. Banuwarna mengunci pintu kamarnya. Ia lelah, memikirkan cewek itu saja sangat membuatnya lelah.
"Woy! Astaga! Kenapa lu kunci sih!" Gino menjedor pintu kamar Banuwarna dengan keras.
"Keponakan bangsat!" umpat Gino.
"Astaugfirullah, lu yang banyak bacot anying!" balas umpat Banuwarna.
Banuwarna memejamkan mata, tak perduli Gino tengah mencak-mencak didepan kamarnya. Yang penting ia bisa tidur dengan beribu mimpi yang indah.
__ADS_1
---
"Oh iya non, bagaimana dengan Singapore?" tanya Satria sambil menyerahkan brosur paket tour keluar negeri.
"Whatever you," ujar Merah tersenyum simpul. Satria mengangguk, segera mencari tiket untuk ke Singapore.
"Oh iya Sat, pastikan orang yang pernah menolongku mendapatkan uang yang telah kukirim." ucap Merah, Satria yang mengerti langsung berkerja sesuai perintah. Dan itu yang disukai Merah pada kinerja Satria.
Merah sedang pijat refleksi, sepertinya liburannya sangat berpengaruh sekali pada tubuhnya. Tubuhnya sangat terasa ringan seperti tak ada beban. Berbeda dengan segala misteri yang harus ia ciptakan jika berada di rumah.
"Mbak sepertinya jarang dipijat ya?" tanya wanita yang sedang memijat tubuhnya.
"Iya, saya sibuk." jawab Merah.
"Oalah, mbak masih sekolah?"
"Iya, hanya buat jalanin misi." Merah berkata jujur, ia kan sudah lulus dan memiliki gelar.
"Saya doain mbak misinya lancar," Merah tak menanggapi, ia memejamkan mata. Mencari posisi yang nyaman untuk tidur.
----
__ADS_1