Merah

Merah
BAB 6 : Acara Sekolah


__ADS_3

"Berpura-pura itu menyenangkan,"


-------


Hari yang ditunggu - tunggu murid SMA Virgo, didepan mata panggung dengan dekorasi wah dengan pelengkap balon juga tulisan memperingati ulang tahun sekolah itu. Banyak yang memakai kostum, ada yang asik selfie di atas panggung, ada yang ngerumpi di depan koridor, juga banyak yang sibuk mengatur acara yang akan digelar.


Merah melangkahkan kakinya lagi, bahkan ia tak berani melihat kaca dengan dandannya yang menyeramkan seperti ini, bahkan bisa dibilang ia jijik dengan penampilannya sekarang. Merah juga merasakan banyak pasang mata yang menatapnya heran, merasa aneh, dan mentertawakannya degan puas. Huh, ia semakin dipandang buruk oleh mereka.


Sesampainya pada kelasnya, semuanya sibuk mempersiapkan diri, termasuk Marseko yang akhirnya pasrah dengan peran setan yang dimainkannya, Marseko siap dengan dandanannya yang serba berwarna merah. Tak lupa juga sungut dikepalanya. Merah juga melihat Putri yang sudah cantik bertambah cantik dengan makeup natural yang melekat diwajahnya, tak lupa gaun snow white yang anggun sangat pas ditubuhnya yang kecil ramping. Semuanya tampak beda, Merah bahkan takjub dengan hasil makeup Renata yang rapih. Merah tak ingin dirias oleh Renata karena wajahnya sangat sensitive dengan makeup yang tak bermerek dan bukan makeup yang biasanya ia pakai. bukan maksudnya sombong, tetapi kulitnya memang sensitive sekali.


Merah duduk dikursinya, rasa letih menyelimuti badannya, ia sebenarnya sangat mengantuk karena kemarin malam ia masih berkerja. Bahkan nanti malam ia harus berkerja lagi, ibunya itu memang sangat kejam sekali, tak pernah membiarkannya untuk beristirahat sejenak saja.


"Meyah!" teriak Dean yang sengaja mempelesetkan namanya menjadi Meyah. Merah menatap Dean penuh tanda tanya. Dean berdesis, kapan cewek didepannya ini nggak sebego itu.


"Latihan gladi bersih," beruntung Dean mempunyai antena peka sangat tinggi, jadi Dean tidak perlu marah-marah tidak jelas. Merah menyeret gaun panjangnya yang berwarna hitam pekat. Merah duduk terdiam pada meja belajar kecil yang dibaluti kain hitam, tak luput bola yang berasal dari kaca yang bisa memancarkan cahaya. Merah hanya melakukan sedikit adegan saja, hanya menunjuk papan, dan selanjutnya menerima uang. Dan setelah itu beres. Tugasnya selesai.


Tanpa Merah sadar sedaritadi Safira tengah memperhatikannya penuh selidik. Safira berjalan kearah Merah.


"Merah, gue pengen bicara empat mata." dan ya, Merah tahu jika Safira pasti menanyakan kenapa ia bisa berbahasa inggris dengan lancar.


"Why Fir?" tanya Merah, kali ini nada bicaranya biasa - biasa saja dengan Safira lagian Safira juga sudah tahu suara aslinya.


"Lo pura-pura bisu atau gimana sih?! Gue bingung." ujar Safira to the point.

__ADS_1


"Secret!" jelas Merah. Safira melongo, jadi sebenarnya Merah siapa?


"Lo bule?" tanya Safira. Merah menggeleng. "Lha trus lo siapa?" lanjutnya lagi.


"Secret. Bye, i want to go class again!"


Merah beranjak dari tempatnya, sementara Safira masih melongo melihat kepergian Merah. Merah siapa? gue jadi penasaran. Batin Safira.


<><><><>


Seluruh persiapan telah rampung, kini tinggal berberberapa nomer lagi sampai nomer urutan kelompoknya. Merah mengeratkan gengaman tangannya, ia tampak gugup sekali dengan keramaian. Walaupun ia sering sekali berada dikeramaian di luar negeri tapi dengan dirinya yang berbeda ini membuat Merah merasa gugup pertama kalinya.


"Hey cewek cantik tapi bisu!" mendengar nada bicaranya saja Merah sudah tahu bahwa cowok itu cowok yang sama yang waktu ia berada dihalte. Dan ya Merah masih mengingat namanya, cowok songong dan sok kaya itu bernama Banuwarna, nama yang aneh dan orang yang aneh, pas sekali. Merah pura - pura tak mendengar Banuwarna memanggilnya dan memalingkan wajah.


Dan baiklah, respon Banuwarna malah terbahak - bahak menatap wajahnya.


"Muka lu! Aduh bikin gue ngakak! " ujar Banuwarna sambil cekikikan.


Merah menghentakan kakinya kesal, Banuwarna benar - benar membuatnya sangat kesal karena sikapnya itu. Suatu saat ketika ia berhasil menyelesaikan misinya, Merah akan memberikan pelajaran pada cowok songong di sampingnya itu.


"Baiklah, peserta selanjutnya, nomer 16! Dengan judul Ramalan Peramal gadungan !" ucap pembawa acara.


Merah, Dean, dan Nitha. Jalan cerita Drama yang akan dibawakan mereka bertiga adalah ketika Dean putus asa tidak mendapatkan pacar, Dean pun memutuskan mengunjungi peramal untuk menanyakan jodohnya dimasa depan seperti apa. Dan Dean ditunjukan sifat - sifat jodohnya, Dean mencarinya hampir seminggu dan menyadari sifat itu berada pada tetangganya Nitha yang sudah memiliki suami. Sontak alur cerita itu membuat penonton tertawa terbahak.

__ADS_1


<><><><>


Dibalik itu seseorang menonton dengan cekikan sambil memakan popcorn juga es teh di gengaman tangannya.


"Hei Nu! Lu ngapain disitu kampret?" teriak Petra—teman sebangkunya. Banuwarna masih asik menonton drama-drama yang berlangsung.


"BANUWARNA! LU NGAPAIN DISITU!" Petra berteriak dua kali lipat lebih keras dari sebelumnya. Banuwarna dengan santainya masih fokus pada drama itu.


Petra berlari menghampiri Banuwarna. ia ikut duduk pada kursi kosong disebelah Banuwarna. "Heh! Lu ngapain disini!" teriak Petra.


"Gue denger, nggak usah teriak-teriak seakan lu ada di Zoo kalik." ujar Banuwarna santai. hei, apa kabar dengan dirinya yang sudah memanggil Banuwarna dikejauhan lima meter berkali-kali? Jika bukan temannya, Petra tak segan-segan mengorok leher temannya itu dan mengantinya dengan kepala Albert Eistein supaya seluruh inderanya menjadi jenius.


"Banu! Lu udah gue tungguin dari tadi ya! Lu ngapain malah disini!" omel Petra. sekali lagi, Petra hanya dianggap kacang oleh Banuwarna.


"Banu! Lu jadi juri dalam lomba melukis!" Banuwarna tiba-tiba berdiri, ia menyerahkan popcorn dan es teh nya kepada Petra. lalu berlari menuju ruang yang digunakan untuk lomba lukis.


Di ruangan itu Banuwarna menepuk jidat berkali-kali, ia melupakan perannya menjadi juri karena sibuk menonton drama aneh itu.


"Maaf Pak, saya lupa kalau saya jadi juri." ucap Banuwarna. Pak Jon mengangguk mengerti. baginya yang penting muridnya bertanggung jawab.


Banuwarna berkeliling melihat hasil lukisan peserta, semuanya tampak apik dan memiliki karakteristik yang unik.


"Kak! Kak Banu, gimana lukisan Vio?" ucap adik kelasnya yang ikut eskul lukis juga, Banuwarna menatap lukisan itu, hanya ada gambar padi yang merunduk, simpel namun lumayan bagus untuk pemula. Banuwarna mengacungi jempol, lalu di gadis bernama Violet itu tersenyum senang.

__ADS_1


Banuwarna kembali melanjutkan aktivitasnya, menilai dari cara mereka memoleskan cat, dan teknik-teknik yang mereka gunakan. sesudah itu, Banuwarna menunggu mereka selesai melukis, dan melakukan penilaian hasil akhirnya. Ia duduk disamping Pak Jon, lalu mengacungkan dua jempolnya yang berarti anak didik eskul lukis sudah mahir-mahir.


__ADS_2