Merah

Merah
BAB 14 : Jodoh?


__ADS_3

Sesampainya di mansion milik Papa, Merah menuntun Zahra untuk turun mengikuti langkahnya. Merah memencet bel rumah megah itu, tak berselanglama Pelayan rumah membukakan pintu.


Zahra semakin kagum dengan Merah, apalagi rumahnya ini bak istana di film-film di layar lebar. "Merah, kamu youtuber? Aku sering liat di hape Uncik banyak Youtuber yang nge-prank ya kayak kamu ini." Merah terkekeh, bahkan ia lebih dari sekedar youtuber jika Zahra tahu.


"Merah, kamu jadi..., gak bisu kan ya?" ujar Zahra agak ragu. Merah menggeleng.


Karena Merah yakin Zahra tidak menguasai bahasa inggris, maka Merah memilih menulis kata-kata yang ia ucapkan di kertas supaya Zahra membacanya.


Nanti mau makan malam sama Papa aku.


Tulis Merah pada kertas kecil lalu menyerahkannya pada Zahra. Zahra mengangguk senang.


Merah membawa Zahra duduk pada meja makan keluarganya sembari Merah masuk kedalam kamarnya mencari barang miliknya yang masih tertinggal disini.


Aku tinggal disini dulu.


Zahra mengangguk.


Merah berjalan menuju kamarnya, menganti pakaian dan berdandan. Seperti biasa Merah menganti kaos polos yang kumuh diganti dengan dress yang apik dan berkilau. Tak lupa dengan riasan wajah dan melepas soflens yang menampakan warna asli matanya, cokelat terang. Juga mengenakan high heels sekitaran lima centi meter yang menyempurnakan penampilannya. Setelah dirasa cukup, Merah keluar dari kamar dan menghampiri Zahra.


Merah mengamati Zahra yang masih menatap sekitaran, point yang harus dicatat Merah adalah orang kurang mampu mudah sekali heran dengan hal baru. Bukan tanpa sebab, itu bisa menjadi bagian-bagian dari misinya.


"Hai!" sapa Merah, Zahra menoleh dan menatap Merah kebingungan.


"Mbak, Merah kemana ya? " tanyanya kebingungan, Merah terkekeh.


"Ak..u..Meah..Zah," Zahra menatap Merah secara intens, yang Merah tangkap Zahra tidak percaya bahwa yang ada dihadapannya ini Merah.


"Cantik banget, kenapa nggak begini setiap hari?" tanya Zahra.

__ADS_1


"Me.., si Zah."


Zahra mengerutkan dahinya bingung. "Apa hubungannya Mesi sama cantik sih Rah?" tanyanya. Merah terkekeh.


"M..i..s..i Zah!" Zahra mangut-mangut mengerti.


"Selamat malam nona-nona!" sapa seseorang bernada barithon. Merah dan Zahra menoleh menatap pria paruh baya tengah duduk di kursi paling besar.


"Malam juga om,"


"Night too Papa,"


Pradiksa tersenyum sembari melipat kedua tangannya menatap kedua anak perempuan yang hampir sama tingginya.


"You are short Red, see that child is almost as tall as you." Merah memajukan bibirnya tak suka jika tingginya dibanding-bandingkan. Zahra terdiam, sudah Merah duga bahwa Zahra tidak paham.


"Gak kok," ucap Merah.


Sedikit demi sedikit pasti Merah bisa berbahasa indonesia dengan lancar, lagipula sudah dua bulan disini seharusnya dia sudah fasih, tapi karena terhalang kebiasaan ia masih kaku.


Zahra hanya ber'oh ria sembari menatap makanan yang mengiurkan didepan mata. Karena ia tahu kebanyakan orang kaya tak pernah menghargai yang dibawah, Zahra hanya diam menunggu untuk disuruh makan.


"Jadi, ini yang namanya Zahra?" tanya Pradiksa. Merah mengangguk.


"Sekolah dimana Zah?" Zahra gelagapan karena sedaritadi asik melamun.


"Di SMP Leo, Om." jawab Zahra, Pradiksa mengangguk mengerti.


"Yasudah makan dulu, nanti kita ngobrol lagi," ucap Pradiksa. "Ayo makan yang banyak!"

__ADS_1


Zahra mengambil apa yang ada di depan matanya yang sedaritadi ia perhatikan. Lalu memakannya dengan lahap.


"Btw, Pa, Where Jingga and Mama Lenka?" tanya Merah mengedarkan padangannya keseluruh penjuru.


"Ada pertemuan dengan Agensi Model Red,"


Merah tak menjawab, ia melanjutkan makannya. Sebenarnya tidak seru memiliki indera seperti ini, bahkan ia tahu kalau akan ada kejutan untuknya. Pradiksa sudah tahu kalau Merah ada kelebihan, tapi ya mau bagaimana lagi. Pastinya Merah akan senang mendapatkan kejutan walaupun ia sudah mengetahui sebelumnya. Sama seperti tadi, ia tahu kalau temannya sesama anak jalanan akan memberikan kejutan untuknya, dan bagian pemilik toko ikut serta tak sesuai dengan pengelihatan Merah. Maka dari itu Merah heran dengan tutupnya toko-toko.


"PERMISI!" teriak seseorang diluar. Merah menghentikan pelayan yang akan membukakan pintu, ia berjalan ke pintu.


Merah memegang handle pintu, ini kejutannya. Batinnya.


"Who?" Merah melihat mas-mas pengantar paket mengenakan topi bulat beserta banyak balon di gengaman tangannya.


Mas-mas itu mendonggak menatapnya. "Ohiya Dek, ini tanda tangan."


"LO!" pekik mereka bersamaan.


"Gak salah dong kalau gue ngira kita jodoh?" Oke, Merah serasa ingin mengumpat pada cowok didepannya ini.


"Shit!" umpat Merah.


"Gak salah gue ngira lo cantik, ternyata lo cantik kayak bidadari di lain tempat." pujinya lagi. Merah menatap cowok itu sinis.


"SILENT!" gertak Merah emosi.


"Ya Tuhan galak amat, oh iya, gue mau nanya. Instagram lu namanya apa? Setelah itu gue pulang deh."


Merah menyambar tangan cowok itu dan bolpoin, ia langsung menuliskan nama instagramnya dan menandatangani serah terima paket. Lalu Merah menyaut paket, tak lupa menutup pintu dengan kencang

__ADS_1


__ADS_2