Merah

Merah
BAB 17


__ADS_3

Merah berkomat-kamit tak jelas hingga masuk ke mansion pribadi Papa, ia terlihat sangat kesal jika diliat dari raut muka.


"Non Red, kenapa?" tanya Mbak Pepy kepadanya, Merah tak menjawab justru mempercepat langkahnya masuk ke mansion Papa.


"Mama Lenka!" teriak Merah berkali-kali, tak berselanglama pun Mama Lenka keluar dengan pakaian daster.


"Kenapa sih sayang?" tanya Lenka. Merah menghempaskan tubuhnya di sofa.


"that's the guy I told you yesterday, he is now dating me."


"Seriously?"


"Yes Ma, " Lenka tertawa terbahak, kemarin saja Merah bercerita pada Lenka bahwa Merah sangat membenci cowok yang bernama Banuwarna tapi sekarang malah pacaran.


"Red forced Ma, don't laugh!"


"Itu namanya sudah takdir, nikmati saja alurnya." Merah mengerutu kesal, ia menghentakan kakinya ketanah dan keluar dari rumah itu. Namun, Merah masuk lagi untuk menyalami tangan Mama Lenka dan berlari keluar lagi.


Merah tetap kesal, ia jadi malas pulang kerumah Ibu. Apalagi jika disuruh berkerja dengan moodnya yang buruk. Merah menelpon Satria untuk menjemputnya, setelah Satria mengatakan iya. Merah menutup telephonenya.


Setelah menunggu tiga puluh menit, Satria akhirnya datang. Merah langsung masuk kedalam mobil. "Sat, go to mansion!" titah Merah dengan judes. Satria yang sadar dengan perbedaan itu hanya diam tak berani menanyai alasannya.


Merah yang tahu kalau Satria ingin bertanya hanya diam, ia malas berbicara saat ini. Benar-benar menjengkelkan sekali.


Merah semakin kesal ketika mobil yang ditumpanginya tiba-tiba terhenti, Satria menjelaskan pada Merah bahwa ban mobilnya bocor dan mengharuskan mobil dibawa ke bengkel.


Merah memegang pelipisnya yang terasa pusing "Oh shit! Call another driver!"


"Okay, I do it soon." Satria menjauh dari Merah, ia menelpon supir muda lain. Oke, satu hal lagi, Merah tidak suka supirĀ  yang diatas usia duapuluh lima tahun.


"Red, he on the way." Merah menggangguk, ia masuk kedalam mobil dan merebahkan tubuhnya. Tak lupa melepas softlens yang masih ia pakai.

__ADS_1


-----


Keesokan harinya, ya dan lagi, rutinitas baru menyebalkan. Banuwarna itu seenaknya menyuruhnya untuk datang kekelas Banuwarna setiap jam istirahat. Dan jangan lupakan apa yang terjadi jika ia tak menuruti perintah Banuwarna.


Merah masuk kedalam ruang bekas ruang musik, ia sudah lama tak berkunjung dan melihat Sessa karena kesibukannya.


"Sessa! Where are you?" Merah berdiam, ia menunggu Sessa datang.


"I'm in here! Hihihihi.." ujar Sessa sambil tertawa.


"You know about Banuwarna?" Sessa memiringkan kepalanya, ia tampak berpikir dengan serius.


"Dia baik." ucap Sessa. Merah mengerucutkan bibirnya.


"Serah." Merah keluar menuju ruangan itu sementara Sessa sedang mengacungkan jempol pada seseorang. Entah seseorang itu siapa karena orang itu menggunakan masker, sarung tangan, dan kacamata hitam.


-----


Merah berdiri didepan pintu, ia tidak berani memanggil Banuwarna. Rupanya Banuwarna sedaritadi sudah menenggok kearah pintu tempat dia berdiri. Banuwarna tersenyum lalu berlari menghampiri Merah.


"Hei, sayang!" Merah mendengus sebal.


"Please, stop it make a drama!" bisik Merah didekat telinga Banuwarna.


"Bentar, gue kayaknya harus make google translate kalau ngomong sama lu." Banuwarna membuka handphonenya dan benar-benar mengunduh google translate.


"Jadi, ini aplikasi bisa nerjemahin omongan bahasa inggis lo." jelasnya pada Merah. Merah tentu saja sangat mengerti aplikasi yang diunduh Banuwarna, kadang Merah juga mengunakannya jika berberapa kata bahasa indonesia tidak ia ketahui.


Merah menyaut handphone Banuwarna, dan menuliskan di pesan text. "Lu nyuruh gue kekelas lu buat apa?"


"Pengumuman jadian." jawabnya.

__ADS_1


Merah menghela nafas panjang. "Shit! What are you doing!" Banuwarna memekik senang bahwa aplikasi itu bisa digunakan.


"Gue ngelakuin apa coba?" tanya Banuwarna.


"Eh, ngomong pake inggris lagi dong!" Banuwarna mendekatkan handphonenya ke bibir Merah. Tapi Merah hanya diam tak mengeluarkan satu kata pun.


"Petra! Woy! Sini!" teriak Banuwarna memanggil orang yang bernama Petra, Merah mengerutkan dahinya bingung, untuk apa memanggil temannya?


Cowok yang bernama Petra itu keluar, ia menepuk bahu Banuwarna. "Apa? Ayok ke ruang lukis!"


"Bukan, bukan itu. Gue mau ngenalin cewek gue. Namanya Merah, dia bisu nggak usah lu ajakin ngomong." jelas Banuwarna. Merah hanya diam, ingin menolak ucapan itu tapi takut rahasianya terbongkar.


Petra mengamati Merah dari bawah sampah atas. "What are you doing!" gertak Merah tiba-tiba membuat Petra kaget. Merah menutup mulutnya langsung, begitu cerobohnya dirinya.


"Goblok! Kok lu bongkar sendiri sih Rah." omel Banuwarna. Merah tak menjawab, ia sibuk dengan seribu pikirannya.


"Woy!" teriak Banuwarna tepat didekat telinganya.


"Apasih!" ujar Merah secara spontan.


"Jangan jangan lu ngibul juga ya? Jelas-jelas lu bisa ngomong bahasa Indonesia." hardik Banuwarna.


"Whatever you don't trust me."


"Berhenti drama atau gue pecat jadi pacar gue!"


"Okay, but real not drama."


"Whatever you, I not like you."


Merah berlalu, Banuwarna masih tidak percaya bahwa cewek itu tidak bisa diancam dengan pemecatan pacar.

__ADS_1


__ADS_2