
Kepalanya terasa pening, badannya serasa remuk. Inilah yang dirasakan Merah semenjak dua menit yang lalu ia tersadar dengan kondisi kepala dengan perban, kaki penuh luka.
Ia tak menemukan siapa-siapa di samping brankarnya. Ia hanya menemukan makan dan minum. Ya, mungkin saja orang yang menolongnya pergi.
Merah memencet tombol hijau untuk memanggil suster, banyak yang harus ia tanyakan.
Tak berselanglama suster datang dengan senyuman manis di wajahnya. "Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
Merah mengangguk. "Ya, saya mau tanya. Apakah ada seseorang yang menyelamatkan saya?"
Suster itu tersenyum. "Banyak orang, tapi yang paling sweet adalah bagian di ketika nona penuh darah namun lelaki muda yang tampan mau mengendong nona." jelas Suster itu.
Merah tersipu malu. "Siapa, Sus?"
"Entahlah Non, saya tidak tahu namanya."
"Okelah, ponsel saya dimana sus?" tanya Merah.
"Hancur sepertinya, kalau mau menelpon saudara bisa memakai telephone rumah sakit."
"Oke Sus, makasih."
Suster itu keluar dari ruangannya. Merah berdiri dengan perlahan, ia membawa infusnya menuju telephone rumah sakit yang berada didekat meja resepsionis.
"Halo!"
"...."
"Oke, saya tunggu." Merah berjalan lagi menuju ruang rawatnya.
---
Setelah mengunci toko roti Papa, Ray menaruh kunci itu di saku celananya. Sembari berjalan santai di jalanan ruko. Ia sudah terbiasa dengan kondisi ramai anak-anak jalanan. Apalagi dengan Merah. Ray sudah sangat terbiasa. Karena bagi Ray, Merah adalah gadis polos yang lucu baginya. Gadis yang setiap malam mengigil dingin tapi tetap berada diposisinya. Gadis yang terus menahan untuk bicara ketika seseorang memakinya, Ray melihat itu semua.
Ia jadi teringat dengan Merah.
Ray mempercepat langkahnya menuju rumah kecilnya didekat ruko, itu adalah rumah yang ia beli untuk mengawasi tokp dari jauh. Pas sekali berhadapan dengan toko Papanya. Ia mengambil kunci motornya, dan melajukan motornya menuju rumah Merah yang ia ketahui lewat kertas kecil yang berisikan alamat.
Angin malam semakin membuatnya terusik, hatinya entah kenapa semakin merasa tak enak.
Sesampainya pada rumah kecil dengan banyak barang bekas didepan rumah itu. Ray mengetuk pintu pelan.
"Permisi!"
Dua puluh lima ketukan berulang sama sekali tak mendapatkan respon. Ray pun pasrah dan menaiki kembali motornya.
Ray menarik gas santai sembari berencana main kerumah Mama, karena sudah lama Ray tak kerumah Mama dikarenakan sangat sibuk di toko Papa.
__ADS_1
Ray mengerem mendadak, entah kenapa ada kemacetan panjang yang sebelumnya belum pernah terjadi di tempat ini. Menyebalkan sekali bukan.
"Bang, ada apa?" tanya Ray pada penggendara motor didepannya.
"Ada kecelakaan didepan, mas." jawab Abang-abang itu. Ray tersenyum simpul.
Karena ia penasaran, ia meminggirkan motornya berjalan di kemacetan dan menghampiri sumber kemacetan. Ray terkejut bukan main, bagaimana pikiran orang, sibuk mengambil potret kecelakaan tanpa menolong korban. Memang medsos itu kejam, mengambil banyak hak untuk menuai berbagai macam kritikan, dan pujian.
Ray membelah kerumunan itu, hampir tak percaya melihat orang yang ada didepannya ini.
"KALIAN TARUH HP KALIAN! BERHENTI MEMOTRET HAL YANG TIDAK SEHARUSNYA DIPOTRET!" teriak Ray dengan nada marah. Orang-orang itu langsung memasukan ponselnya, tapi tidak ada langkah untuk menolong.
"Ayo mas, saya bantu membawa korban." suara seseorang membuat Ray menghela napas. "Taruh di mobil saya aja mas." lanjut pria paruh baya yang begitu lembut itu.
Ray langsung mengangkat tubuh gadis yang berlumuran darah itu masuk mobil.
"Pak, Anda duluan saja, saya mengikuti dari belakang dengan motor saya." Pria itu mengangguk.
Jalanan yang semula ramai kini berangsur pulih, mobil yang ringsek parah itu juga sudah ditarik minggir dari badan jalan.
----
Sesampainya dirumah sakit terdekat, Ray mengendong gadis itu kembali masuk kedalam rumah sakit.
"DOK! SUS!" teriak Ray. Suster yang mendengar teriakan itu langsung mendekati Ray dengan membawa brankar. Dan mendorongnya ke ruang UGD.
"Tunggu disini ya, mas." ujar Suster itu.
Satu jam berlalu..
Dokter keluar dari ruang UGD, entah kenapa selama itu Ray tidak tahu menahu.
"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Ray.
"Dia sudah melewati masa kritisnya, sehabis dia sadar akan dibawa diruang rawat." jelas dokter itu.
"Terimakasih dok, bagaimana dengan administrasinya?"
"Suster yang akan menjelaskan dengan anda, saya permisi." ujar dokter itu.
Ray mengangguk santun. Ia tak mau gadis itu tahu bahwa dia yang membawa gadis itu kesini. Entah kenapa rasa gengsi tiba-tiba membuatnya malu.
----
"Oh my god Merah! Don't do it again!" pekik seseorang dengan nada khawatir.
"It's okay Ma," ujar Merah seraya tersenyum.
__ADS_1
"Mama Lenka sangat mengkhawatirkanmu." sahut Pradiksa yang tiba-tiba muncul di pintu.
"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa kok Pa."
"Bagaimana dengan misinya dengan Red?" tanya Pradiksa, Merah mengangkat ibu jarinya tinggi-tinggi.
"Succesfully!"
"Jadi sekarang nggak usah ngomong bahasa inggris sama Papa ya?" Merah tersenyum geli lalu mengangguk.
"Oh iya, kenapa bisa terjadi?"
Merah menceritakan semuanya, bagaimana ia tiba-tiba melihat sosok mengerikan lagi, keanehan Pak Broto, dan hilangnya Pak Broto dari mobil setelah mobil itu ringsek menabrak truk.
"Untung saja kamu tidak apa-apa. Anak bandel!" Pradiksa mengacak rambut Merah gemas. Lenka tersenyum melihat itu.
"Mau makan apa Rah?" tanya Lenka.
"Nggak usah, Ma. Aku nggak pengen apa-apa kok." jawab Merah.
"Bener-bener beda ya sama Red, dia itu bisa bahasa indonesia tapi tak mau mengucap di negaranya. Aneh emang! Kalau ditanya mau makan apa, semua disebutin. Hidupnya yang sekarang begitu malah makin keras kepala dia. Fisaka..., Fisaka.., kau terlalu memanjakan dia." ucap Pradiksa sambil terkekeh.
"Papa bangga sama kamu, tetap rendah hati. Dan mau saja disuruh Red untuk mengemis."
"Kita 'kan saudara kembar, Pa. Sudah seharusnya saling membantu." ujar Merah, Pradiksa mengacak rambut Merah.
----
Suasana pagi hari diruang makan keluarga Banuwarna beda, mereka hanya saling pandang.
"Kalian kenapa sih!" ucap Dino—Ayah Banuwarna.
"Gapapa," jawab ketiganya serempak.
"Biasanya mama tuh akting, tapi karena ada papa gatau deh mau ngapain." celetuk Banuwarna membuat bunda melemparkan tatapan tajam kepadanya.
"Bener itu, yang?" Bunda mengangguk malu-malu.
"Yaudah ngapain nggak akting aja, tapi aktingnya menghibur bukan menipu." ujar Ayah. Bunda dan Bano tersenyum senang.
"Yes! Kita menang!" Bano dan Bunda bersorak gembira sambil mengoyangkan badannya.
"Apasih gaje!" ucap Banuwarna malas.
"Ya Allah...., ampuni anakku ini..., hamba mohon untuk berikan jodoh anak hambaa dengan seorang gadis yang burik." Banuwarna menatap Bunda dengan tajam.
"BUNDA!"
__ADS_1
"Maksudnya bunda..., burik tuh kek Bunda dan menarik gitu lho." ucap Bunda membela dirinya sendiri.
"Serah Bunda deh, Banu mau berangkat. Assalamualaikum Ma, Pa."