
"Menjadi pemimpin itu berat, rindu tidak ada apa-apanya."
-----
"Baiklah anak - anak, berhubung empat hari sekolah kita ulang tahun. Maka akan diadakan berapa event yang berhadiah menarik." jelas Bu Lastri.
"Eventnya apa aja bu?" tanya murid cowok yang berbadan jangkung sambil mengacungkan jari. Bu Lastri membuka kembali kertas - kertas berisi event yang akan berlangsung dan peraturan.
"Membaca puisi, membuat cerpen, pidato. Dan yang paling ditunggu.." Bu Lastri sengaja menjeda kalimatnya supaya mereka penasaran, tidak bagi Merah yang datar menatap Bu Lastri. Cara yang Bu Lastri gunakan untuk mengundang rasa penasaran sangat kuno. "Boyband Aksara!"
Siswi yang berada pada kelas itu sibuk bersorak gembira karena Boyband Aksara yang dimaksud berisi cowok - cowok tampan yang masih seumuran mereka. Tentunya Boyband Aksara sangat terkenal bahkan subscribe youtube nya hampir mencapai lima ratus ribu subscriber. Merah tertawa renyah, tertawa pelan yang tidak bisa terdengar. Bahkan subscriber boyband itu kalah dengan milik adiknya yang sudah mencapai satu juta subscriber. Ia bisa saja mengundang adiknya cuma - cuma jika saja ia tak sedang menjalankan misi. catat! jika sedang tidak dalam misi.
"Oh iya! Kali ini ada event yang spesial. Pementasan drama tiga kelompok per kelas!" jelas Bu Lastri. Semuanya langsung ricuh dikarenakan mereka tak pernah akting. dan tentu saja persiapannya memakan waktu yang lama.
"Ashiappp bu!" ujar mereka serempak. Bu Lastri memutar bola matanya malas.
"Dasar pengikutnya Atta."
Bu Lastri duduk kembali ke kursinya dan membuka buku paket tebal yang berisi pelajaran matematika. "Baiklah anak - anak, lupakan sejenak event - event tadi, kita fokus pelajaran!"
"Yahhh...."
<><><><>
Bel pergantian bel berbunyi, Bu Lastri keluar dari kelas. untung saja guru mapel Bahasa Indonesia sedang cuti dikarenakan anaknya sakit. Keadaan kelas ricuh seketika, Safira, sang ketua kelas pun maju kedepan guna mengurus semua event. Safira menulis semua tema di papan tulis sembari menyuruh teman - temannya satu per satu untuk memilih tema yang cocok. Disanalah tema Peramal masa depan, religius, dan Snow white terbentuk. Semuanya setuju dengan tema yang diajukan berhubungan dengan cinta remaja.
"Yang mau jadi pemeran utamanya siapa?" tanya Safira dengan lantang. Tak ada yang mengacungkan jari, mereka hanya saling sibuk menunjuk orang lain juga berdiskusi sendiri.
__ADS_1
"Untuk tema Peramal cinta. Gue pilih si Merah buat jadi peramalnya. Dan untuk cowok yang akan jadi pemeran utama dan mengunjungi si peramal. Gue pilih Dean, untuk jodoh masa depan Dean, gue pilih Nitha. Oke, selesai untuk tema Peramal masa depannya." jelas Safira tanpa basa-basi. lagipula jika ia menunggu aksi saling menunjuk tidak ada selesainya.
"Yaaa.. nggak bisa gitu dong Fir!" protes Dean, "Apalagi ada si mbak Kunti!" sindir Dean dan menoleh pada Merah. Merah yang mendengar itu hanya menganggapnya sebagai angin lalu.
"Tapi gue setuju kalau peramalnya si Merah, apalagi dia emang kayak peramal gitu wajah - wajahnya." lanjut Dean.
Merah tak mengatakan sepatah katapun, Safira memang orangnya tegas dan keras kepala jadi dia adalah orang yang tidak mau dibantah. Walaupun Merah ragu, tapi ia tetap menyetujui dengan tidak memprotes.
"Untuk tema Religius, Aisyah sebagai pemeran utama, Hafiz sebagai ustadz dan Marseko sebagai setan." jelas Safira membacakan tulisan pada kertas yang ia bawa.
"Gue nggak mau jadi setan!" teriak Marseko tak terima. " Lo jangan seenaknya gitu aja Fir! Mentang - mentang lo ketua kelas trus nyuruh orang seenaknya gitu!"
Marseko adalah satu-satunya orang yang berani memprotes dan membentak Safira. Marseko memang seperti itu, terkenal berani dengan siapapun, termasuk guru sekalipun.
Safira melengos. "Apapun keputusan gue dilarang protes. Untuk lu Sek! Lu pantes jadi setan!" kalimat pedas Safira itu langsung dihadiahi kemarahan Marseko. Marseko langsung menampar Safira ditempat. Safira merasa pipinya panas, ia membuang nafas kasar. lalu mengambil nafas dalam-dalam. Safira bukanlah orang yang tegar pada kenyataannya.
"Dasar cewek! Egois!" Marseko melengos keluar dari kelas. Semua orang yang ada dikelas itu tampak ternganga.
Merah menatap mereka dengan intens.
"Drama aja terus." ucapnya lirih, bahkan mungkin saja tidak ada yang mendengar.
Safira mengusap pipinya kasar, "Diam!" teriak Safira dengan lantang tanpa memperdulikan kemarahan Marseko kepadanya.
"Gue lanjutin. Snow-white, Putri jadi princessnya, penyihir.. Gue pilih Sandra, pangerannya Daksa." Safira melipat kertasnya, dan keluar dari kelas. Merah sudah menduga jika Safira akan menangis. Merah keluar dari kelas, ia membuntuti Safira, dan benar dugaannya Safira pergi ke kamar mandi.
"Sa..fi..a!" panggil Merah kepada Safira.
__ADS_1
"Kenapa? Lo mau protes juga?!" ujar Safira dengan nada yang tidak bisa santai.
"No! Don't cry Fir!" setelah berucap itu Merah melengos, ia memilih menuju ke ruangan biasanya ia bertemu Sessa. Sementara Safira tampak terkejut dengan Merah yang bisa berucap lancar.
Merah membuka pintu ruangan itu, pengap dan semakin banyak debu. Merah duduk diatas drum dan menunggu Sessa muncul dihadapannya.
"Sessa!" panggil Merah. Hanya satu panggilan menyerupai bisikan, Sessa datang.
"What do you think about my group?" tanya Merah pada Sessa.
"You can!" ujar Sessa yang seperti suara mengema dan memantul ke dinding.
"Tapi aku ragu Ses, gimana?" tanya Merah pada Sessa. Sessa mendekatkan wajahnya ke Merah, melototkan matanya hingga bola matanya jatuh ke kaki Merah.
"Ups! I'm sorry Merah!" Dengan cepat Sessa memunggut bola matanya, lalu menaruhnya ditempat semestinya. Merah yang biasa dengan keadaan seperti itu hanya tersenyum sekilas.
"Kelompokmu akan menang. Santai dan nikmati saja peranmu." kata Sessa. Merah mengangguk mengerti. Ia mengamati Sessa yang terlalu hiperaktif itu sampai berterbangan kemana-mana.
"Okay Ses." Merah membalikan badannya, ia melambaikan tangan kepada Sessa dan keluar dari ruangan itu.
-----
Seorang gadis berambut cokelat itu tersenyum, ia menata patung-patung yang berada di butik miliknya. Dengan sedikit senandung kecil dan ketukan pada kakinya. sepertinya hari ini merupakan hari bahagia gadis itu.
"Cloudy! I miss you so much..." seseorang mengucapkan itu dengan nada keras. Cloudy menoleh ke seseorang itu.
"Menjauh! Clou nggak suka kamu ada disini! Dasar om om mesum!" gertak Cloudy. orang itu tersenyum smrik. Cloudy geram, ia melemparkan patung kepala tepat ditubuh lelaki itu. Cloudy puas bahwa lelaki itu kesakitan karena perlakuannya dan pergi dari butiknya.
__ADS_1
"Huh! Dasar penganggu!" gerutu Cloudy. ia mengambil patung kepala yang dilemparnya tadi. Dia adalah lelaki asing dari berpuluh-puluh yang datang ke butiknya karena ingin menculiknya. untung saja patungnya sangat banyak dan memudahkannya untuk menyerang kuman-kuman itu.
"Mau nyulik Cloudy? Huh patung Cloudy siao membantu!" Cloudy menoel hidungnya dan berdiri seolah seorang kasatria.