
Davit, Ciko, Galih duduk berhadapan dengan Safira dan Merah. Sejak pertama bertemu, Safira dan Davit tak bisa mengalah. Saling menyalahkan, yang terkadang membuat Merah, Ciko, dan Galih pusing sendiri.
"Gue bakso!"
"Lu kuah aja!"
"Apasih!"
"Anusih!"
"Davitttt!"
Merah menghela napas panjang. "Lu berdua bisa diem nggak? Mau gue sumpahin biar jodoh?" ucap Merah.
Safira dan Davit diam. Mereka saling tatap dengan tajam. Bukan seperti di sinetron-sinetron. Tatapannya seperti Tom memburu Jerry.
"Bakso semua aja ya." ujar Merah. Ia berdiri, menghampiri Bang Supri-penjual bakso. Setelah ia mengatakan pesanannya, ia kembali duduk bersama mereka.
Baru saja duduk dengan tenang, suara ribut kembali terdengar. Kali ini bukan dari Safira maupun Davit. Ya siapa lagi bukan biangkerok SMA ini?
"Lapor! Apel kedua siap dilaksanakan!" ujarnya lalu hormat kepada Merah.
"Lu gila ya?"
"Iya, gila mencintaimu."
"Ciee..., cie ..., " goda Davit, Ciko, Galih, dan Safira bersamaan.
"Bacot doang!" sarkasme Merah. Banuwarna tak gencar, ia duduk disamping Merah yang masih bisa diduduki satu orang.
"Ngapain sih! Ganggu tahu nggak!" gertak Merah. Banuwarna yang mendengar itu langsung jleb, mengenai hatinya. Tapi, kata Ayah jadi cowok itu harus memperjuangkan cewek, bukan sekali ditolak langsung nyerah.
"Eh, itu ada apa!" teriak Banuwarna sambil menunjuk kearah samping, dengan bodohnya Merah menoleh, dan baru sadar bahwa ia tertipu.
"BANU!" teriak Merah kesal. Ia langsung menjambak jambul Banuwarna dengan penuh dendam. "Ih kok dimakan sih!"
"Heh, kalian bisa diem nggak? Mau gue sumpahin biar jodoh?" ucap Safira yang mengikuti gaya bicara Merah. Merah menatap Safira dengan kesal, lalu dibalas Safira dengan cengiran.
__ADS_1
"Sumpahin aja! Abang ikhlas neng!" ujar Banuwarna. Merah langsung memukul lengan Banuwarna.
"Cik, temenin gue beli es Chococino yuk!" ajak Merah, Ciko langsung berdiri.
"Eh..., kok ngajaknya dia sih?" protes Banuwarna.
"Cik, kek denger sesuatu. Lu ngomong apa?" sindir Merah. Ciko mengeleng lalu tersenyum. Sementara Banuwarna kesal bahwa kehadirannya tidak di lihat.
"Abang di tolak, Adek nggak sayang! Eherrr! Abang di tolak, Adek nggak sayang!" Petra berteriak menyanyikan lagu yang sangat pas dengan Banuwarna. Ya mungkin tidak nyambung. Tapi apa salahnya anak seni berkarya.
"Astaugfirullah!" ujar Banuwarna spontan saat melihat apa yang ada dibelakang Petra.
"Ngapain lu kesini sih setan!" ujar Banuwarna lirih. Setan itu malah menyengir lebar dibalik punggung Petra.
"Kok lu malah ngatain gue sih!" protes Petra.
"Bukan lu bambang! Itu setan yang ada dibelakang lu!" tunjuk Banuwarna pada belakang punggung Petra.
"Kalian liat kaga sih? Seumur umur gue nggak indiju, eh malahan pas udah ganteng diikutin setan!" mereka berempat menggeleng serempak.
"Naksir kalik," ceplos Galih. "Kata mbah buyut gue, kalau orang yang diikuti setan itu karena setannya naksir."
Cerocos Banuwarna.
"Hai Sessa! Ngapain ngumpet di punggung orang?" ujar Merah yang baru saja datang dengan segelas es chococino di gengaman tangannya.
"Ihihi! Merahh..." Sessa hanya terkekeh.
"Gue bacain ayat kursi lu kalau nggak pergi!" ancam Merah. Sessa merenggut sebal, lalu menghilang perlahan.
"Eh, hebat! Gue salut deh sama ayang beb gue!" ucap Banuwarna, Merah bergidik geli dengan panggilan alay itu.
"Alaysun! Najisun!" Merah mengetuk meja secara berkala, dilanjutkan mengetuk perlahan dahinya.
----
Fisaka mengusap rambut panjang anaknya yang terlelap dari tidur. Ia jadi rindu almarhumah istrinya, wajahnya hampir mirip dengan Red.
__ADS_1
"Sayang...,"
"Jaga anakmu baik-baik, aku yakin kamu bisa merawatnya dengan baik."
"Hei, kenapa cuman aku? Kita berdua akan merawatnya..," Fisaka meraih tangan Sandra, dan mengecupnya lembut penuh sayang. Hingga Sandra memejamkan mata, dan detak jantungnya mulai melemah. Dan pada akhirnya, Tuhan lebih menyayangi Sandra.
Ingatan itu membuat Fisaka meneteskan air mata. Ia merindukan wajah bak bidadari Sandra, semua yang berkaitan dengan Sandra Fisaka rindukan.
"Pradiksa, saya sudah sampai di mansion. Segera kesini bersama semua." ucap Fisaka pada telepon yang sudah tersambung pada Pradiksa disebrangsana. Setelah Pradiksa mengiyakan, Fisaka menutup sambungan teleponnya.
Fisaka berpindah ke kamar sebelah. Mencoba mencari mimpi yang terbaik, ia benar-benar lelah.
----
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, kini, Merah masih menunggu jemputannya di halte, tempatnya ia berteduh dari panas. Ia jadi rindu dimana ia menunggu bus, belajar banyak hal tentang lingkungan, juga ia rindu Ibu nya yang selalu membentak. Disitulah, rasa mandiri Merah mulai muncul.
"Hei!" sapa cowok yang sekarang menjadi teman ributnya. Huh, Merah jadi ingin menyumpahinya dengan beragam sumpah serapah.
"Yok bareng gue aja!" ajaknya. Merah langsung menggelengkan kepalanya. Banuwarna memarkirkan motornya, lalu menghampiri Merah.
"Eh, lu masuk ke eskul lukis aja ya, bareng gue." Merah langsung menggeleng, lagipula ia tidak suka melukis.
"Gue ga bisa." kata Merah to the point.
"Kan bisa gue ajarin,"
"Lu kan udah liat hasil karya gue kemarin."
Tin..tin.. Suara klakson mobil membuat Merah langsung memusatkan pengelihatannya.
"Papa!" teriak Merah. Ia berlari tanpa mengiraukan Banuwarna yang masih mematung ditempat. Merah memeluk Fisaka dengan penuh kerinduan, walaupun bukan Papa kandungnya, Merah sangat menyayangi Fisaka.
"Ayo sayang, kita quality time!" ajak Fisaka. Merah menangguk senang.
"Banu! Ntar gue pikir pikir deh!" teriak Merah dengan lantang lalu melambaikan tangannya kearah Banuwarna, sesaat kemudian mobil yang ditumpanginya melesat menjauh.
"Siapa sayang?" tanya Fisaka.
__ADS_1
"Temen Pah," jawab Merah. Fisaka mengangguk mengerti, lagipula anaknya butuh privasi. Ia tidak mau memaksakan untuk bercerita, biarlah mereka yang bercerita dengannya.
----