Merah

Merah
BAB 44


__ADS_3

Kenapa takdir hanya menciptakan bahagia sesaat?"


-----------


     Sudah lebih dari prediksi dokter, Merah belum sadarkan diri. Kondisinya juga sempat buruk kemarin membuat seluruh keluarga takut akan sesuatu hal.


Banuwarna masih setia di rumah sakit, menunggu gadisnya itu segera sembuh.


Kenapa takdir hanya memperbolehkannya bahagia bersama Merah dua hari saja?


"Merah, gue rindu berantem sama lu. Gue mohon lu bangun, please...," jari-jemari Merah digengam erat oleh Banuwarna berharap Merah segera sadarkan diri. Tapi tak ada pergerakan sedikitpun pada tubuh Merah. Sekali lagi, ia harus berserah pada takdir. Entah akan menyatukan atau malah memisahkan?


----


Mendengar kabar buruk tentang Merah, Davit, Ciko, Safira, dan Galih datang menjenguk. Ada rasa tidak menyangka kalau orang baik seperti Merah memiliki musuh. Mereka datang tapi tidak diperbolehkan masuk, karena kemarin kondisi Merah sempat menurun dan jumlah pengunjung dibatasi.


"Hai, kalian temen sekolahnya Kak Merah?" tanya seorang gadis yang mungkin lebih muda dari mereka.


"Aku Purple, adiknya Kak Merah. Maaf banget, kalian dikecewakan datang kesini. Kemarin kondisi kakak sempet drop, jadi hanya satu pengunjung yang boleh masuk." jelas Purple, mereka mengangguk mengerti.


"Nama kalian siapa? Kalau kakak sudah sadar nanti, akan kusampaikan kalau kalian datang."


"Saya Safira, ini Ciko, Davit, dan Galih."


Purple tersenyum. "Ya sudah duduk dulu. Makan-makan cemilan yang ada, nggak usah sungkan kak."


----


"MAMA! PURPLE! PANGGIL DOKTER!" teriak Banuwarna panik.

__ADS_1


Tak lama kemudian dokter masuk dan memeriksa kondisi Merah. Banuwarna tampak kacau, ia sudah satu minggu tidak masuk karena harus menunggu Merah.


"Kak, Kakak kenapa?" tanya Purple panik, Banuwarna mengusap wajahnya kasar.


"Berdoa saja." jawab Banuwarna. Purple semakin khawatir. Sedangkan Lenka terisak pelan. Kenapa? Apa yang terjadi pada anaknya?


Sepuluh menit berlalu, dokter baru keluar dari ruangan. Dokter itu mengulas senyum, membuat Purple dan Lenka melemparkan pandangan bingung.


"Dok, kenapa dengan anak saya?" tanya Lenka.


Dokter itu tersenyum. "Alhamdullilah, anak ibu sudah sadar. Tapi tidak boleh diajak bicara terlalu banyak ya." jelas dokter.


Banuwarna mengacungkan tangannya membentuk huruf 'V' tinggi-tinggi. Ia langsung masuk kedalam ruang rawat.


Flashback.


"Merah bangun...." Banuwarna meneteskan air matanya. Kenapa gadisnya tidak bangun-bangun.


"Kata siapa?" Siapa yang baru saja berbicara? Banuwarna mendonggak. Ia melihat Merah meneteskan air matanya. Bibirnya bergetar. Dengan sigap Banuwarna mengambil air putih dan menyuruh Merah untuk minum.


"Uhuk! Banu, akting bisa?" Banuwarna langsung menggeleng, iya tidak suka berakting. Huh, menipu orang, ia membenci akting.


"Please..., just wajah panik, Ya?" melihat Merah tersenyum kepadanya, Banuwarna langsung mengangguk. Padahal ia tidak pernah mencobanya, tapi apa salahnya mencoba.


"One...,"


"Two..., "


"Three..,"

__ADS_1


"MAMA! PURPLE! PANGGIL DOKTER!" teriak Banuwarna. Banuwarna menatap Merah, Merah mengacungkan jempol kepadanya membuat Banuwarna tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya.


"Oh gitu ya? Sekarang ketularan iseng!" ucap Lenka, ia mengusap rambut anaknya lembut. Tapi tangan satunya digunakan menjewer telinga Banuwarna.


"Mama nggak restuin kalian pokoknya! Bikin jantungan aja!"


Banuwarna menyatukan kedua tangannya, meminta ampun kepada Lenka. "Mama kok gitu, ya nggak Rah? Nggak like dong!"


"Ma, Satria..,"


"Kenapa dengan Satria? Dia mau jadi supir kamu lagi? " tanya Lenka dengan wajah bingung.


"Dia bunuh Merah." wajah Merah langsung ketakutan. Ingatan Satria berkata I forget kill you terus mengema.


"Mah, dia mau kesini! Mah, Merah takut!" Banwuarna mendekat, ia mengusap rambut Merah menenangkan.


"Syuttt, Gue ada disini buat ngelindungin lu." Merah menengelamkan tubuhnya didada bidang Banuwarna. Ia merasakan basah pada kausnya. Merah menangis?


"Hei! Jangan nangis sayang, lihat gue!" Banuwarna memegang kepala Merah, Mereka saling berhadapan.


"Jangan nangis sayang, please.." Banuwarna mengusap air mata Merah dan menciup pipi gadis itu yang basah karena menangis. "Gue ada disini."


Merah membenamkan wajahnya didada bidang Banuwarna lagi. Ada rasa nyaman yang hinggap di hatinya. "Terimakasih sayang..." ucap Merah lirih.


"Hah? Bilang apa?" Merah mengeleng.


"Bilang apa?" Merah mengeleng lagi.


"Yaudah, sama dua sayang.."

__ADS_1


"ekhm! Mama sama Purple dianggurin."


---


__ADS_2