
Hanya perduli saat dibutuhkan, dan dibuang saat keseharian dianggap serpihan sampah."
---
Tak ada yang terlihat berubah bagi Merah, setelah lomba ia malah tak merasakan perubahan apapun termasuk kepedulian temannya yang muncul waktu latihan. Merah kira itu sebuah nyata namun kiraannya salah.
Merah menatap nanar sepatu berwarna cokelat tua dengan aksen garis hitam yang abstrak. Merah melangkahkan kakinya lagi keruangan kaca hingga masuk kedalamnya. Disana sudah ada lelaki paruh baya yang menunggunya, lelaki itu menatapnya sembari menyesap rokok ditangannya.
"Papa! Miss.." ujar Merah.
"Papa, kenapa masih ngerokok sih! Red nggak suka." lanjut Merah, Papa nya hanya tersenyum lalu menepuk sofa seolah memintanya untuk duduk.
"Sayang... tapi papa masih belum bisa lepas sama rokok. Papa janji sama Red kalau papa akan lepas dari rokok, tapi semuanya kan berproses." ujar Pradiksa, papa Merah. Merah mengangguk mengerti.
"Kalau begitu yasudah, Pa, Red minta sesuatu boleh kan?" Pradiksa mengangguk sembari tersenyum.
"Red ingin mendirikan rumah untuk anak jalanan, boleh kan Pa?" Pradiksa mengelus rambut Merah, anaknya ini sudah bertambah besar dan semakin mengerti semuanya tentang keperdulian dan lainnya. Pradiksa bangga pada anaknya, itu semua juga berkat didikan dari Fisaka, teman masa kecilnya.
"Boleh sayang, nanti Papa urus. Oh iya seperti biasa kan? 'Nggak boleh ada yang tau kalau Red yang ngelakuin' ." Merah mendengkus kesal karena Papa menirukan gaya bicaranya.
"Iya papa.."
__ADS_1
"Oh iya Pa, Mama Lenka mana?" tanya Merah sambil celingukan. Pradiksa tertawa melihat Merah celingukan.
"Lenka nggak ada disinilah, Mama lagi dirumah. Kamu tuh IQ aja yang tinggi tapi kalau omongan nggak mikir kedepan."
"Maaf Pa, Red kebiasaan." Merah mengecek arloji berwarna biru transparan ditangannya. Merah melihat bahwa arloji ditangannya menunjukan pukul sepuluh pagi dan tadi ia ijin untuk keluar jam tujuh dan harus kembali jam sebelas.
"Pa, Red pamit, harus kembali kesekolah lagi." Merah menyalami tangan Pradiksa lalu berbalik keluar dari ruangan itu. Sebelum kembali, Merah menuju toilet untuk menganti pakaian dan sepatunya.
-----
Sesampainya disekolah, Merah menuju kekelasnya. Melewati ramainya koridor yang penuh dengan murid yang sedang menikmati waktu istirahat. Merah melupakan satu hal yang paling penting.
Brak!
Merah kembali berdecak kesal karena menabrak orang. Merah mendonggakan kepala, sialnya yang ia lihat adalah Banuwarna, si cowok sombong yang suka mengganggunya.
"Eh cewek cantik tapi bisu! Waa softlens lu bagus juga!" ujar Banuwarna sambil menatapnya intens. Merah kembali menunduk, ia bergeser langkah kaki lalu melanjutkan larinya.
"Woy! Cewek cantik tapi bisu! Kenapa lu lari!" teriak Banuwarna lalu ikut berlari.
Merah masuk kedalam toilet wanita, Banuwarna yang mengejarnya mematung ditempat. "Oh, dia kebelet. Gue tungguin diluar aja deh."
__ADS_1
Berselang sepuluh menit, Banuwarna melihat kalau Merah sudah tidak mengunakan softlens lagi.
"Woy! Cewek cantik tapi bisu! Softlens nya ngapain lu lepas sih! Kan lu cantikan pakai softlens." Merah berdecak kesal, kenapa cowok ini hobi sekali mengganggu ketenangannya.
"SILENT!" gertak Merah yang emosinya sudah mencapai ubun - ubun, Banuwarna menegang mendengar nada emosi yang Merah lontarkan.
"DON'T FOLLOW ME!" lanjut Merah, Banuwarna semakin mematung.
"Cewek cantik tapi bisu bisa bicara bahasa inggris. Tapi dia ngomong apa.." Banuwarna menatap kosong kedepan, ia tak paham apa yang diucapkan Merah dalam nada emosi itu.
***
Merah berkomat-kamit tak jelas begitu melewati pintu gerbang, ia kesal sekali dengan Banuwarna itu. Merah menghela napas panjang supaya ia tak terbawa emosi terlalu dalam namun usahanya gagal, cukuplah sudah disekolah ia harus berpura-pura tidak kesal, sekarang waktunya ia melampiaskan semuanya.
"SHIT!" umpat Merah, ia menendang pohon berbatang kecil berkali-kali. Setelah dirasa puas, Merah berjalan dengan santai lagi.
"Aku butuh hiburan," ucap Merah lirih.
Merah mengeluarkan ponselnya, ia memencet nomer dua untuk panggilan utama jika ia butuh sesuatu.
"I need holiday." Merah rasa ia sangat membutuhkan liburan itu, pikirannya harus beristirahat sejenak.
__ADS_1