
"I'm sorry, I want go toilet..," ujarnya sembari menyatukan tangannya kedepan.
"Toilet? Not in here." wanita yang menjadi lawan bicaranya menunjuk papan kayu yang bertuliskan toilet pria.
"Mbak, dia cabul mbak, tangkap aja!" teriak seseorang tiba-tiba membuat cowok itu kaku seketika.
"Me? No!!" teriak cowok itu lalu berlari kocar kacir.
"Hahahahaha, tos dulu dong mbak." Petra bertos ria dengan wanita itu, wanita itu tertawa renyah.
"You..., understand?" tanya Petra kepada wanita yang mungkin saja lebih tua darinya.
"Kenalin, nama saya Italie. Umur saya 24 tahun, dari Amerika." ujar wanita bernama Italie, ralat—mungkin dia patut dipanggil seorang gadis muda.
"Wow, dari Amerika? Hebat. Lancar sekali bahasa Indonesianya." Italie tersenyum manis.
"Nama?"
"Jico Petra Alexandreas,"
"Jico?"
"No, Petra aja."
"Okey, saya masuk dulu." Italie melambaikan tangannya kepada Petra.
Petra sedaritadi gemetaran karena ini merupakan moment langka dimana ia pertamakalinya berbicara dengan gadis bule.
"Pepet!" teriak seseorang memanggil namanya, ya, siapalagi kalau bukan Banuwarna. Si cucu pemilik acara ini.
"Pepet ndasmu!" sarkasme Petra.
"Ayo masuk Pet, My Grenpa udah nunggu."
"Pet diterjemahkan mengunakan google translate, dan jawabannya adalah hewat peliharaan. Jadi lu manggil gue hewan peliharaan gitu?" Banuwarna mengendikan bahunya acuh.
"Bukan gue yang bilang," ujar Banuwarna santuy, kan katanya Tuhan bersama orang-orang yang santuy?
"Serah lu bambank!"
"Serah lu juga Pepet!"
__ADS_1
"Bodo."
"Elu!"
"Elu bang*at!"
"Elu tol*l!"
"WOY, CEPETAN KESINI!"
----
Suster melepas jarum yang menancap ditangan Merah, Merah memejamkan matanya menahan rasa sakit. Akhirnya ia diperbolehkan keluar dari rumah sakit, ya tentunya ia masih harus was-was menjaga baik-baik kepalanya supaya lukanya segera kering.
"Merah, ayo masuk mobil." ajak Lenka, Merah mengikuti langkah Lenka perlahan. Dibelakang Merah ada bodyguard baru, oke Merah yakin berada diluar semakin bahaya untuknya.
"Tenang, semuanya dalam rencana." bisik Lenka.
"Mision again?" tanya Merah jengah.
"Yes, you must do it."
"Dengan Red?"
"Why?" Merah sangat malas menjauh dari dunia luar.
"Karena kamu ada disini, ya, mereka mengincarmu karena kamu itu salah satunya anak Fisaka yang ada di Indonesia."
"Okay." ujarnya pasrah.
"Ga jadi pengemis, cukup sekolah di tempat yang dulu dengan pengawasan 24 jam." Merah mengangguk.
-----
Acara yang sedang berlangsung ini merupakan pembukaan cabang kantor kosmetik neneknya. Dan kantor itu diserahkan untuk bunda agar bunda tidak bosan di rumah terus.
"Hai Erlita!" sapa Banuwarna dengan segelas sirup cocopandan ditangannya.
Gadis yang bernama Erlita itu tersenyum manis. "Hai, color! Lama nggak ketemu. Gimana? Udah punya pasangan hidup belum?" tanya Erlita.
Banuwarna menyengir. "Single lebih bahagia kok Lit."
__ADS_1
"Bilang aja lu nggak laku!" ejek Erlita.
"Cewek-cewek aja pada ngejar-ngejar gue, nggak laku dimananya?"
"Itu di status lu!"
"Yaudah, lu mau nggak ngisi kekosongan status itu?" Erlita terkekeh.
"Nggak usah halu! Gue udah punya suami. Dasar bocah!" omel Erlita. Erlita itu sahabat kecil Banuwarna, jadi tak heran mereka terlihat dekat. Erlita dua tahun lebih tua dari Banuwarna, ia menikah di usianya yang masih sembilan belas tahun dengan pacarnya. Orangtua Erlita sangat tidak mempermasalahkan itu semua, asalkan Erlita bertanggung jawab dengan baik.
"Maap bos!" ujar Banuwarna di melas-melaskan. You know that?
"Iya iya anak badung!" Erlita menyonyor kepala Banuwarna, lalu mengusirnya menjauh darinya.
Banuwarna yang tak puas menganggu berganti menganggu sang nenek yang sedang duduk disebrang sana, pertama Banuwarna mengendap-endap untuk kemeja sang nenek, lalu ia akan mengagetkan neneknya. Itu rencananya.
Ia mulai mengendap, namun belum sampai sasaran. Ia malah terpentuk meja dan tangannya menjadi sasaran empuk orang yang berlalu. Kemalangannya langsung berkali lipat.
"Astaga! Kamu itu ngapain Banuwarna!" teriak sang nenek khawatir. Banuwarna menyengir lebar sembari mencoba berdiri.
"Marahin nek! Marahin aja!" oke, ada setan. Ya siapa lagi bukan Petra, memang sahabatnya itu pantas beralih profesi sebagai setan karena suka menyerumuskannya.
"Diam kau Pepet!"
Kinanthi, nenek Banuwarna mendekati Banuwarna lalu menarik telinga Banuwarna dengan kencang. "Kamu itu! Jaga tingkah! Sudah gede tapi masih kek bayi!" omel Kinanthi.
"Iya nek, dia itu memang masih bayi. Pagi-pagi suka minum susu." sahut Petra. Nenek langsung menjewer telinga Petra juga.
"Kamu diam saja Pet!"
"Syukurin!" Banuwarna balas mengejek.
"Kamu juga diem Nu!" timpal nenek.
Kedua cowok itu langsung diam, tangannya berpangku didepan sembari menunduk.
"Maap nek, saya pamit..," ujar Petra.
"Ngapain lu?" tanya Banuwarna menyenggol siku Petra.
"Saya kembali! Yuhuuu!"
__ADS_1
"Apasih gajelas."
"Kok followers gue nggak naik? Huaaa.., nenek kok nggak naik si!" Banuwarna geleng-geleng, tenyata kewarasan Petra telah digadaikan sehingga cowok itu kini kehilangan akalnya.