Merah

Merah
BAB 20


__ADS_3

Setelah mengijinkan adiknya mencoret kanvas itu, Bunda tertawa terbahak. Ada yang lucu apa dari dirinya?. Banuwara menatap Bano yang masih mengatungkan jempol pada Bunda.


"Kalian kenapa sih?" tanya Banuwarna yang masih tidak mengerti apa ini.


"Jadi......,"


"Jadi......,"


"INI PRANK!" teriak Bunda dan Bano.


"Tapi Bano emang punya tumor ganas, Bunda nggak bohong. Tapi udah sembuh dari dua tahun yang lalu, hahaha..."


"Iya nggak Ban?" tanya Bunda pada Bano.


"So pasti Bunda, kita geng apa Bun?"

__ADS_1


"SELALU MENJADI PERUSUH!" sorak gembira Bunda dan Bano, Banuwarna menatap mereka sinis. Apanya yang lucu coba? Benar-benar Banuwarna tidak mengerti.


"Bunda! Bano! Keluar dari kamar Banu!" teriak Banuwarna penuh amarah, Bunda mengiyakan. Sebelum itu, Bunda melakukan tos kemenangan dengan Banu.


Entah apa yang dipikirkan Bundanya itu, mengajari bocah 7 tahun untuk mengibuli dirinya. Benar-benar Bano berbakat dalam dunia akting seperti Bunda, dan sedangkan dia berbakat melukis seperti Papa. Dan kenalkan, mereka adalah keluarga seni.


-------


Banuwarna lembur semalaman, disaat Bunda, Papa, dan Bano tidur. Banuwarna melukis, kerapkali memejamkan mata membayangkan wajah cantik Merah. Dengan telaten, Banuwarna mengoreskan cat itu ke kanvas. Tanpa sketsa, bahkan Banuwarna bisa.


Banuwarna memejamkan matanya, sembari memeluk lukisan itu. Berharap ia akan berkesempatan memberikan lukisan itu kepada Merah.


-----


Hari ini, Merah absen lagi. Maxime pasti akan curiga jika ia berpergian setiaphari apalagi dengan alasan yang sama. Maxime itu overprotektif, pertama mengenal Maxime, Merah tentunya senang dengan sikap Maxime itu. Tapi lambat laun, ia rasa Maxime itu terlalu berlebihan.

__ADS_1


"Not going again?" tanya Maxime.


"No, I want spent my time with you." Maxime memeluk Merah, dibalas Merah dengan senyuman. Kenapa semakin nyaman ia tinggal di Indonesia. Semakin ia risih dengan kebiasaannya di luar negeri.


Merah tadi malam mendengar dari Satria bahwa Mbak Oky, pelayan senior disini dan pelayan lain ditindas oleh Maxime. Bahkan cowok bule itu menyuruh semena-mena. Oh iya, semua pelayan dan pekerja dirumah Merah adalah tamatan S1 yang fasih berbahasa inggris. Jadi Merah tidak kesulitan berkomunikasi. Gaji setiap pelayan juga menyentuh angka sepuluh juta setiap bulan.


Mendengar pernyataan itu Merah tidak heran, karena setiap malam pun ia mengecek CCTV di laptopnya. Tak ada yang sadar akan CCTV itu karena dirancang khusus seperti warna tembok.


Sabar Merah, sebentar lagi cowok ini akan pergi. Batin Merah menahan emosinya.


"Let's go beb!" ajak Maxime. Merah mengiyakan lalu duduk di kursi belakang bersama Merah.


"Where we going today?" Merah sempat berfikir sejenak, ia ingin ke mall, tapi sudah pasti Maxime menyuruhnya membayar. Maka Merah memutuskan tempat yang gratis, ia tak mengeluarkan uangnya untuk Maxime. Dan Maxime tak mendapatkan satu barangpun untuk oleh-oleh pulang.


"City park beb," Merah mendengar helaan nafas dari Maxime, tentunya Maxime sangat tidak suka di tempat itu.

__ADS_1


Wajah Maxime terlihat terpaksa, seorang Maxime mencoba berbohong dan berharap Merah tidak tahu? No! It's big false! Maxime lupa ya atau tidak tahu? Bahwa pacarnya itu mempunyai IQ diatas rata-rata dan kemampuan ajaib.


__ADS_2