
"Berbuat baiklah kepada siapapun tanpa melihat fisiknya."
-----
BERBERAPA laki - laki berbadan kekar yang bertugas sebagai pengawal itu tengah berdiri disebuah rumah megah, berberapa menit kemudian seseorang gadis yang berpakaian casual keluar, lesung pipi yang terlihat dalam, full make up, dan senyum yang manis. Semuanya langsung tertunduk kepada gadis itu.
"Nona, anda mau kemana? " tanya seorang pria yang berpakaian formal yang merupakan pemimpin semua pengawal.
Gadis itu berdecih. "Apa urusan anda tuan! Lagian saudara saya tidak ada pernah ada yang melarang keluar! "
"Tapi ini sudah perintah Nyonya besar nona! " para pengawal berbaris menutup gerbang supaya gadis itu tidak bisa keluar.
"Saya mau melakukan penelitian! Sama seperti kakak saya! " ucapnya dengan nada kasar. Pria itu mengehembuskan nafas kasar.
"Nona! Masuk sekarang juga! Atau saya laporkan ke Nyonya besar! " balas Pria itu dengan nada lebih tinggi. Pria itu mengeluarkan ponselnya menghubungi Nyonya besarnya.
"Baiklah! Saya masuk! " gadis itu menghentakan kakinya kesal, ia memasuki rumah lagi. Dan pemandangannya tetap sama, banyak pelayan yang ada disana berlalu lalang.
"Nona Purple!" panggil Pria itu. Gadis yang dipanggil Purple itu menoleh dan memutar badannya menatap Pria itu.
"Ada apa lagi! " ujarnya kesal sembari menyorotkan tatapan tajam kepada Pria tua itu.
"Anda diperbolehkan keluar Nyonya! " ucap Pria itu. Purple yang mendengar itu langsung loncat - loncat kegirangan. "Tapi tetap dalam pengawasan. " lanjut Pria itu membuat Purple membeku sedetik.
"Nggak seru! "
***
Hari libur adalah hari yang dibenci Merah, ia harus berkerja seharian penuh dan harus membersihkan rumah sendirian tanpa bantuan dari Ibunya itu. Ia melihat jam dinding dikamarnya, tepat pukul delapan pagi, Merah menghela nafas sudah hampir siang tapi perkerjaannya dirumah belum selesai.
Ia bergegas menyelesaikannya sebelum ibunya pulang dan melihatnya masih ada dirumah. Setelah menyelesaikan semuanya, Merah berlari, ia harus segera keluar dari gang supaya ibunya tak melihatnya yang baru berangkat di jam ini. Badannya kini terselamatkan oleh cambukan Ibunya itu. Merah mulai berjalan perlahan, ia bahkan tak sempat menyisir rambutnya dan mengikatnya asal karena terburu-buru.
Nafas Merah ngos-ngosan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Mata Merah tiba - tiba buram, dan Merah tau dirinya sebentar lagi akan pingsan. Dua detik, Merah tak merasakan tubuhnya terbentur atau apapun. Ia merasakan sesuatu yang hangat menahan tubuhnya. Merah memejamkan matanya, lalu ia membuka matanya kembali. Dan ya, jarak pandangnya blur.
__ADS_1
----
Mata Merah terbuka, ia meneliti disekelilingnya. Tidak ada siapapun ditempat ini, ya, tempat yang Merah benci, UKS sekolah. Merah merubah posisinya duduk di pinggiran kasur persegi panjang itu. Bahkan ia tidak tau menahu kenapa ia bisa sampai ditempat ini. Matanya meneliti diseluruh penjuru ruangan serba putih ini. Merah melihat sosok gadis berseragam sekolah dipojok ruangan ini. Tak sengaja Merah bertemu dengan mata tajam gadis itu.
"Jangan ganggu aku! " teriak Merah kepada sosok gadis yang tersenyum kepadanya. Gadis itu bukan sosok nyata, bahkan darah yang mengering di pelipisnya semakin memperyakinnya. Merah memejamkan matanya berharap tak melihat sesosok menyeramkan itu lagi. Merah membuka matanya perlahan, ia bernafas lega bahwa sosok itu sudah tak menampakan diri didepannya.
"HEI!" teriak seseorang yang mengejutkan Merah. Merah mengelus dadanya.
"A..da..pa?" ucap Merah sambil memakai sepatunya.
"Waaa, cantik - cantik bisu!" ucap lelaki itu dengan heboh. Merah menggelengkan kepalanya, ia sudah terbiasa menerima pujian namun berakhir dengan cacian setelah mendengar suaranya. Merah acuh, ia memilih berdiri dan keluar dari ruangan ini.
"Eh tunggu bisu! " teriak lelaki itu.
"A.. Da.. Pa? " Lelaki itu cekikian sendiri mendengar suara Merah. Apa yang salah?
"Gue suka. " ucap lelaki itu, Merah menatap lelaki itu tajam. Seolah menanyakan maksudnya. "Eittss—maksud gue, gue suka akting lo! "
"Yaudah beybeyy! Ray mau kekelas! "
Merah membuang semua pikirannya, ia harus menanyakan pada Sessa tentang lelaki itu. Lelaki itu susah dibaca pikirannya, apalagi yang dipikirkan lelaki itu hanyalah wanita cantik. Merah mempercepat langkahnya, ia harus ke ruang musik tak terpakai itu. Merah duduk, ia menatap kekosongan pada ruangan itu. Hingga ia melihat Sessa tersenyum menatapnya.
"Sessa! "
"Do you know about him? "
"Dia hanya tau kau adalah anak jalanan." jawab Sessa. Merah menghela nafas lega, untung saja rahasianya masih rapat.
----
Ray, nama panjangnya Raynaldi Panjaitan Mangkubumi, dia asli keturunan jawa. Papanya pemilik toko roti paling enak di deretan ruko Pelita.
Kini, Ray sedang berjalan menuju sekolah. Hari ini memang hari libur, karena Ray mengikuti eskul lukis jadi Ray masuk.
__ADS_1
Di kejauhan, Ray melihat cewek pingsan dijalan. Orang yang lewat sama sekali tak perduli dengan cewek yang terbaring dijalan itu. Karena entah sengaja atau tidak, cewek itu seperti tertidur diatas rerumputan. Ray berjalan mendekati cewek itu, ia mengoyangkan badan cewek itu, tapi nihil tak ada pergerakan.
Ray langsung mengendongnya dan membawanya ke sekolahan, karena itu yang paling dekat dengan daerah sini.
Setelah sampai di sekolah, Ray membaringkan tubuh cewek itu. Ray mengamati lekat wajah cewek itu, dan satu kata yang terucap mulutnya, cantik.
"Kayaknya gue pernah lihat," ucap Ray ragu. Ray mengangkat bahunya acuh, ia memercikan air ke wajah Merah.
"Uhuk! Uhuk!" suara itu membuat Ray langsung menjauh. Ia keluar dari uks.
"Ray!" panggil seseorang, Ray langsung mendekati orang itu. dia Abraham, teman dekatnya di eskul lukis.
"Kok lama?" tanya Abraham.
"Ada problem, lu duluan aja masuknya. Gue masih ada urusan." jelas Ray. Abraham mengangguk dan masuk kedalam ruang eskul.
Ray membalikan badannya, ia berlari ke UKS. Ia melihat bahwa cewek itu telah sadar.
"HEI! " teriak Ray ketika melihat cewek itu akan berdiri.
"A..da..pa?" ucap cewek it sambil memakai sepatunya.
"Waaa, cantik - cantik bisu! " ucap Ray dengan heboh, seumur umur Ray tidak pernah menemukan cewek cantik dan manis tapi tidak bisa berbicara. Suer deh!
"Eh tunggu bisu! " teriak Ray.
"A.. Da.. Pa? " Ray cekikan, berasa sedang berada di panggung drama. Dan Ray menyadari, bahwa cewek yang dihadapannya ini adalah anak jalanan yang sering tidur di toko Papanya.
"Gue suka. " ucap Ray, cewek itu menatap Ray tajam. Seolah menanyakan maksudnya. "Eittss—maksud gue, gue suka akting lo! "
"Yaudah beybeyy! Ray mau kekelas! "
"Tuu.. Ngguuu.. " ucap cewek itu. Namun Ray tak mengubrisnya dan memilih menyusul Abraham yang mungkin saja sudah membuat banyak lukisan abstrak.
__ADS_1
----