Merah

Merah
BAB 2 : Hari kedua


__ADS_3

"Bahagiaku itu sederhana, hargai keberadaanku dan aku akan bahagia."


---------


Di jalanan yang ramai sekali aktivitas, gadis berusia 16 tahun itu mengais rezeki melalui petikan gitar kecilnya. Dia Merah, dari toko ke toko ia mengamen. Ia harus sabar jika mendapatkan perilaku tidak mengenakan. Kali ini pun, dihujan gerimis seperti ini, Merah tak berteduh, tetap mengamen agar ibunya tak memarahinya.


Atuu


Duaa


Pilih ia atau aku


Brukk


"Suara kamu jelek! " ucap salah seorang pengunjung di toko itu dan tak segan mendorong Merah. "Manager! " teriaknya


Tak berselanglama manager toko itu datang menghampiri pelanggannya itu.


"Iya ada apa non? " tanya Manager itu santun.


"Dia menganggu kenyamanan saya!  Saya mau dia jangan ada dihadapan saya selama saya mengunjungi tempat ini! " ujarnya panjang lebar, Merah hanya tertunduk, ia pun pergi dari tempat itu. Itu bukan tempat mengamen yang tepat, lagi pula itu tempat yang mewah, kenapa dengan bodohnya ia kesana.


Merah berjalan lagi, mencari-cari toko yang ramai pembeli atau pengunjung, tapi nihil. Sampai diujung toko berderet ini, tak ada yang seramai toko tadi. Hanya dua orang dan tiga orang saja yang datang. Merah kembali lagi menuju basecampnya pengamen jalanan sepertinya.


Dan berat hati, Merah harus melewati toko itu lagi. Tatapan pengunjung toko itu benar-benar tak mengenakan bagi Merah. Merah menghela nafas, ia harus senantiasa sabar selalu menghadapi orang-orang yang tidak menyukai pekerjaannya.


Dan kini, Merah berpijak diatas tanah bawah pohon mangga. Merah menatap kondisi lingkungan disini. Ya tetap saja menurut Merah semakin buruk.


Polusi.

__ADS_1


Polusi.


Dan polusi.


Bahkan Merah sering terbatuk-batuk dikarenakan asap-asap yang mencemari udara itu. Memang benar kesadaran manusia zaman sekarang berkurang atau mungkin malah menghilang karena mereka terlalu sibuk untuk memikirkan diri sendiri daripada dampak yang ditimbulkan, seperti membakar sampah, asap rokok, dan sebagainya. 


Karena melihat keramaian di ujung sana, Merah mengurungkan niat menuju basecamp.


Merah berdiri, ia berjalan lagi ke arah barat mengais rezeki lagi dengan keindahan petikan jari jemari lentiknya. Merah menghampiri salah satu toko kue yang lumayan ramai pengunjung. Toko itu terbilang sederhana namun rasa dari kue itu sungguh istimewa menurut Merah. Pemiliknya sangat baik hati kepada Merah pula, terkadang jika Merah merasa kelaparan. Pemilik toko itu dengan baik hatinya memberikannya kue untuk ia makan dan dibawa pulang. Merah tentunya sangat menghargai pria pemilik toko itu, dan ia akan memberi hadiah kepada pria itu. Segera.


Merah berdiri didepan toko itu, memetikan nada kemarin yang dibawakan oleh seventeen. Merah tersenyum kepada orang yang memberinya uang, dan memasukannya kekantong bajunya. Hingga pengunjung mulai sepi, Merah duduk di kursi panjang didepan toko itu, terkadang ia tidur disitu berberapa saat dan kemudian bangun saat pemilik toko membangunkan dirinya. Merah menimang-nimang pemikirannya, bimbang apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Antara masih atau tidak, Merah sungguh bimbang, ia membuang jauh pikirannya dan memilih pulang kerumah.


Sesampainya dirumah Merah pun sekarang mulai terbiasa dengan sikap ibunya yang selalu kasar itu. Setelah uangnya diambil, Merah masuk dalam kamarnya, ia membaca buku berkaitan tentang psikologis dan buku novel lainnya. Merah membaca satu per satu lembaran itu hingga matanya sudah tidak kuat menahan kantuk, ia pun tertidur di meja dengan buku yang masih ada ditangannya.


***


      Keesokan harinya Merah terkejut melihat jam dinding yang menunjukan pukul 6 lebih lima belas. Merah langsung mengambil handuk yang ada dibalik pintu dan berlari menuju kamar mandi. Selesai berbenah diri Merah mengambil tas dan keluar dari kamarnya. Merah melirikan kearah TV berada, ia melihat Ibunya sedang leha - leha disana sambil menyaksikan sinetron. Merah menggelengkan kepalanya melanjutkan langkahnya menjauh dari rumahnya. Disepanjang perjalanan Merah sibuk memainkan ponselnya, tak akan ada yang melihatnya begini karena jalanan ini jarang dilalui oleh orang. Merah membuang pikirannya tentang apa yang dia lihat setiap harinya dijalanan ini. Ia memilih mengetikan pesan kepada orang yang selalu membantunya.


Ketiknya dalam ponsel itu, Merah memencet tombol send. Ia memasukan ponselnya kembali karena lima kilometer lagi sudah sampai pada jalan raya. Merah bersikap seperti biasa. Merah melanjutkan perjalanannya hingga sampai pada sekolah negeri yang didominasi warna putih dan hijau. Digerbang itu tampak pak satpam dan banyak siswa yang baru datang. Merah tersenyum tipis kepada pak satpam tapi respon pak satpam malah memalingkan wajah darinya. Merah menghela nafas, mengeratkan pegangannya pada tali tas gendongnya. Ia terus berjalan tanpa memperdulikan orang-orang yang sedang membicarakan padanya dan memandangnya sinis. Merah masuk kedalam kelasnya, sepi tergambar pada suasana kelasnya, Merah duduk di kursi pojok sembari mengeluarkan buku materi karena nantinya akan diadakan ulangan dadakan.


Jam tujuh kurang lima menit kelas mulai ramai, teman - temannya mulai berisik menguasai ruang kelas. Merah ingin sekali menegur mereka, tapi ia urungkan karena pastinya ucapannya akan dihiraukan oleh seluruh temannya.  Merah tersenyum sinis. Ia mengeluarkan earphonenya menyetel musik keras - keras supaya kebrisikan itu terdengar samar digendang telinganya.


Hingga Bu Maretta datang, ia menutup bukunya. Baru saja Merah menghitung satu dengan jarinya, mulut Bu Maretta terbuka menandakan ingin menyuarakan sesuatu.


Merah menambah hitungannya, jarinya yang semula ia tekuk ia luruskan. Dan ia tambah lagi satu.


"Siapkan kertas dan bolpen! Hari ini kita ulangan! " Merah tersenyum puas melihat wajah temannya yang terkejut dan panik.


Kertas - kertas itu mulai berdatangan menjumpai pemiliknya. Hingga sampai pada mejanya, Merah antusias melihat soal itu, Merah terpekik bahagia saat yang dipelajarinya keluar. Dengan cepat Merah mengerjakan ulangan itu. Lima belas menit berlalu Merah tanpa ragu maju kedepan dan mengumpulkan jawabannya. Tatapan kagum sempat Merah tangkap diberberapa murid tapi Merah menghiraukannya. Ia memilih kembali ke tempat duduknya dan menengelamkan wajahnya di lipatan tangannya.

__ADS_1


****


Jam istirahat berbunyi, Merah berjalan sendirian di koridor. Ia sekarang ingin sendiri dan berbicara pada temannya di tempat yang sepi. Merah menuju ke ruang musik yang tak terpakai itu lagi. Merah membuka pintu yang berbahan besi itu, diruangan itu gelap dan pengap. Merah menutup pintu itu lagi, namun tak ia tutup sempurna. Ia menyisihkan sedikit celah untuk udara masuk. Merah duduk di drum besar.


"Sesaa! " teriaknya mengema diruangan itu. Merah tersenyum ketika melihat Sesa ada di pojok ruangan itu. "Baca! " Sesa menyeret gaun panjangnya berjalan kearah Merah. Sesa mengangguk, ia tersenyum tipis kepada Merah.


"Berhasil dong Rah, " ucap Sesa dengan nada yang lemah lembut. Merah dengan antusias mengangguk.


Merah meperlihatkan semua tulisan tangannya kepada Sesa untuk mewakili semua yang harus ia bicarakan. Merah sampai tertawa terbahak karena Sesa melakukan hal konyol didepannya. Tak terasa waktunya bercerita habis karena bel berbunyi, Merah keluar dari ruang musik itu  sebelumnya ia melambaikan tangan pada Sesa.


***


     Merah membaca tulisan itu berkali - kali, tapi tetap saja tulisan yang menempel di mading itu sama. 'Banuwarna' ia hampir saja kelepasan tertawa karena nama yang ada dimading itu seperti nama orang di zaman dahulu. Ia menjadi tertarik seperti apakah rupa banuwarna itu. Merah lagi - lagi dirundung rasa penasaran ketika menemukan hal unik dan baru namun Merah acuhkan kali ini. Ia tidak boleh terburu - buru.


Merah mengeratkan genggaman pada tangannya, hawa dingin sore hari menusuk kulitnya, belum lagi banyak 'mereka' yang mulai berkeliaran. Saat dimana hari terlelah Merah datang. Merah menghela nafas dalam - dalam supaya ia merasa ikhlas dan terbebani dengan kondisi keluarganya yang memprihatinkan. Merah melanjutkan langkahnya yang terhenti menuju keluar gerbang, Merah berlari, dan berhenti sejenak jika ia kelelahan. Ia harus mengejar bis supaya ia bisa pulang. Dengan nafas ngos-ngosan Merah duduk dihalte, ia melihat kanan kiri. Tidak ada orang yang menunggu lagi.


"Permisi..." suara barithon itu membuat Merah langsung mengenali jika suara itu berasal dari laki - laki. Merah mendonggak.


"A..da.. pa?" tanya Merah. Lelaki muda itu menaikan alisnya dengan tatapan bingung menatap Merah.


"Maaf nona cantik, sepertinya anda harus belajar cara bicara yang benar. " ujar laki - laki itu dengan sombong. Merah menghela nafas, jika bukan karena sesuatu, Merah pasti sudah membawa laki - laki itu ke penjara.


"Nona kenalkan saya Banuwarna Putra George Severadino. Siapa yang tidak mengetahui saya disekolahan. " Laki - laki yang mengaku Banuwarna itu semakin besar kepala, dan berbicara besar padanya. Merah menundukan kepala menahan emosinya yang sudah mencapai ujung, ia menghela nafas bahwa Banuwarna itu menaiki bis nya dengan segera. "Sudahlah nona, saya mau menaiki bis saya. " ujarnya sebelum menaiki bis, Merah acuh, buat apa memberitahunya. Dasar makhluk menyebalkan.


Dan sekarang, Merah tak menaiki bis tadi dan malah menunggu emosinya reda hingga pada akhirnya bis terakhir itu sudah menjauh dari pengelihatannya.


Merah melihat kanan kiri, tak ada satupun orang yang mengenalnya. Merah mengeluarkan ponselnya.


"Je..mput!" ucapnya memerintah pada orang disebrang sana. Merah kembali memasukan ponselnya kedalam tasnya.

__ADS_1


Tak berselang lama, motor scoopy abu - abu datang bersama dengan lelaki yang berpakaian formal yang mengemudikannya. Merah menggangukan kepala lalu membonceng lelaki itu. Setelah menempuh jarak yang panjang, Merah sampai pada gang rumahnya, Merah tersenyum kepada lelaki itu lalu ia segera berlari kerumahnya. Ya seperti bisa Ibunya sudah menunggu kepulangan dirinya dan memintanya segera berkerja.


-----


__ADS_2