
Sesampainya di mansion, Merah menghempaskan tubuhnya di kasur kesayangannya. Ia langsung memejamkan mata dalam-dalam, berharap segera menemukan mimpi.
"Merah!" suara samar yang memanggil namanya itu mengusik tidurnya. Merah terbangun. Ia membuka matanya dan tidak menemukan siapapun di kamarnya.
"Siapa sih? Keluar!" teriak Merah dengan lantang. Setelah berucap itu, terdengar suara tertawa seram. Merah menghela nafas panjang.
"Gue nggak takut!"
Merah memejamkan matanya, menarik selimut untuk menutup seluruh tubuhnya.
"Ba!" kejut seseorang membuat Merah terlonjak kaget. Apalagi dengan kepala yang tiba-tiba muncul dibalik selimutnya. Dan dia terbang kesana kemari, jika saja bukam terbiasa, Merah pasti akan jantungan ditempat.
"Sessa!" Merah mengerutu kesal, Sessa itu memang jahil. Sering membuatnya takut dan kaget dalam waktu bersamaan.
"Merah, saya mau cerita!" ujar Sessa samar. Mulutnya terbuka dan membuat darah fana itu menetes di sprei milik Merah.
"Ups! Tidak sengaja!" Merah mengeram kesal, marah pada hantu bukanlah cara yang tepat untuk membalaskan dendam.
"Kenapa lagi Ses?" helaan nafas Merah terdengar pelan. "Masalah mencintai manusia lagi?" lanjut Merah.
"Iya, dia ganteng Rah. Baik sama saya, dia tidak takut." ucapnya, rambutnya tiba-tiba menjuntai panjang, dan wujudnya menjadi wanita cantik yang selalu Merah lihat ketika Sessa jatuh cinta.
"Siapa namanya?" tanya Merah penasaran.
"Banuwarna." jawab Sessa, Merah melonggo terkejut. Apa yang disuka Sessa dari cowok aneh itu?
__ADS_1
----
"Mera, see! Dia itu tampan!" Sessa berujar histeris, jentikan jarinya membuat Merah menutup mata dikarenakan semua akun medsos Banuwarna dibuka oleh Sessa.
"Sessa, please..., jangan lakuin itu. Gue bacain ayat kursi loh." ancam Sessa, Sessa terkekeh walaupun di mata putihnya itu terdapat rasa takut, lalu Sessa menghilang.
"Syukurlah itu hantu udah ngilang." Merah menghempaskan tubuhnya, ia sangat lelah. Ia memejamkan mata dalam-dalam berharap tak ada yang menganggunya lagi.
"Mera! Banuawarna coming!" teriakan tiba-tiba Sessa membuat Merah terlonjak kaget seperti orang tersetrum. Merah melempar bantalnya, ia membuka pintu menuju balkon melihat apakah ada tamu, dan see, tidak ada tamu dibawah sana. Jika saja Sessa manusia, pasti Merah akan mencekiknya hingga mati.
"Sessa!!!!"
----
"Iya Ma, bentar.." Merah masih enggan untuk bangun. Matanya begitu lengket sehingga ia malas membuka mata.
"Ada hal penting yang Mama mau bicarakan." mendengar hal penting terdengar, Merah membuka matanya penasaran.
"Kenapa, Ma?"
"Bangun dulu, kita bicara waktu sarapan. Jangan lupa pakai seragam."
Merah mengangguk, ia menuju kamar mandi. Dan bergegas karena ia sangat kepo, juga termasuk apa maksud Mama menyuruhnya untuk hadir pada rapat itu. Kenapa tidak Red saja?
---
__ADS_1
"Jadi, apa yang hal 'penting' yang mama yang ingin bicarakan?" tanya Merah.
Lenka menghela napas panjang. "Kamu tahu alesan tentang rapat itu?" Merah tentunya langsung menggeleng, ia 'kan memang tidak tahu.
"Jadi......, "
Diam sesaat. Merah semakin penasaran.
"Red hamil." ucap Lenka. Merah melonggo tak percaya begitu saja. Merah kira Red itu kakak yang baik, selalu menjaga diri, dan menjadi panutannya karena kemandiriannya.
"Nggak mungkin... Ma, lagipula Red itu cewek baik-baik Ma."
Lenka tersenyum. "Rah, kita nggak pernah tahu gimana kehidupan dia disana. Kita nggak tahu tekanan hidupnya. Jadi ya, kamu tahu 'kan? Disana itu keras. Jika imanmu nggak kuat ya begitu. Mama nggak nyalahin Red kok, Mama paham apa yang dirasakan Red."
Merah merenung sejenak, benar juga apa yang dikatakan Mamanya. Merah paham, hidup Red lebih berat darinya.
"Mama mohon, bantu Red buat ngelakuin semua tugasnya. "
"Lalu bagaimana dengan misinya Ma? Bagaimana kalau terbongkar bahwa Merah bukan Red?"
"Nanti kamu ketemu Red, hafalin nama-nama teman bisnis Papa Fisaka. Jangan lupa untuk hafalin, soalnya itu sangat penting."
Merah mengangguk. Ia bangkit, dan mencium punggung tangan Mama. "Merah berangkat dulu ya, Ma."
----
__ADS_1