Merah

Merah
BAB 15 : Cuma kebetulan


__ADS_3

Malam itu, Banuwarna membeli sebuah sepeda baru untuk kado Bano yang berulangtahun seminggu lagi. Ia sengaja membeli malam karena ia tak mau diwawancari Bunda dengan banyak drama. Banuwarna mengendarai motornya santai sembari menikmati angin segar di malam hari.


Sesampainya di toko sepeda, Banuwarna memilih acak dengan cap cip cup. Lagipula ia tidak tahu kesenangan adiknya itu. Bukannya lebih baik membelikan daripada tidak sama sekali.


Sesudah membayarnya, Banuwarna melihat seorang bapak bapak diujung jalan yang sedang kesusahan melakukan sesuatu. Banuwarna tanpa babibu langsung mendekat.


"Kenapa pak?" tanya Banuwarna.


Bapak-bapak itu menoleh dan menatapnya. "Ban saya bocor, padahal saya harus ngirim paket ini dengan segera." ujar bapak itu sembari menunjuk kotak besar ditangannya.


"Bapak tunggu disini aja ya, saya yang anterin gimana?" tawar Banuwarna. Bapak itu tersenyum dan mengucapkan banyak terimakasih pada Banuwarna.


Banuwarna mengendarai motornya perlahan, ternyata repot juga mengantarkan paket seperti ini. Belum lagi, ia baru pertamakali begini.


Kira-kira 10 menit, Banuwarna akhirnya menemukan tujuannya. Sebuah mansion mewah, ya Banuwarna kira pemiliknya pasti sangat kaya sekali.


Banuwarna menekan bel satu kali, dan tak berselanglama akhirnya pintu dibuka.


Banuwarna mendonggak, "Ohiya Dek, ini tanda tangan." ia melihat seseorang yang dikenalnya. Ya dia Merah.


"LO!" pekik mereka bersamaan.


"Gak salah dong kalau gue ngira kita jodoh?" ujar Banuwarna tersenyum smrik.


"Shit!" umpat Merah.


"Gak salah gue ngira lo cantik, ternyata lo cantik kayak bidadari di lain tempat." puji Banuwarna lagi. Merah menatap Banuwarna sinis.


"SILENT!" gertak Merah emosi.


"Ya Tuhan galak amat, oh iya, gue mau nanya. Instagram lu namanya apa? Setelah itu gue pulang deh."


boleh juga memanfaatnya kekesalan itu cewek. Batin setan ditubuh Banuwarna.


Merah menyambar tangan cowok itu dan bolpoin, ia langsung menuliskan nama instagramnya dan menandatangani serah terima paket. Lalu Merah menyaut paket, tak lupa menutup pintu dengan kencang.

__ADS_1


"Makasih cantik,"


---


Kekesalan Merah masih nampak dari wajahnya, ia kembali dengan wajah di tekuk. Merah duduk lalu meneguk air putih sebanyak-banyaknya untuk menetralisir rasa kesalnya. Satu pertanyaan dalam benaknya. Kenapa hanya Sessa yang bisa menerawang tentang cowok itu? Kenapa dirinya tak bisa menerawang kehadiran cowok itu?  Andai saja ia lancar berbahasa indonesia, pasti ia sudah mengucapkan banyak sumpah serapah pada cowok itu. Lagian cowok itu sangat payah dalam bahasa inggris, sia-sia kemarahannya jika cowok itu saja tak mengerti.


Ya kalian tau siapa dia, Banuwarna? Iya manusia itu muncul dimana-mana membuatnya sangat kesal.


"What's wrong?" tanya Pradiksa yang sedaritadi memperhatikan cara minum Merah.


"there was a package sender, it turned out that I knew him, he was really annoying Pah!" gerutu Merah, Zahra yang sama sekali tidak mengerti pun hanya diam dan melanjutkan makannya.


"He know my secret, Pah!" Pradiks tersenyum hangat, ia menghampiri anaknya dan mengusap rambutnya lembut.


"Hati-hati dengan rasa benci, atau nanti akan berubah jadi suka."


"No! Red will never like him!" seru Merah dengan keyakinan.


"Bener kata Papamu Rah, " ujar Zahra mengikuti. Karena sudah ada dua orang yang menentang, Merah diam dan kembali melanjutkan makannya.


-----


"Mahu puang?" tanya Merah. Zahra menggeleng.


"Nungguin kamu selesai,"


"Ti.., dur ya?" Zahra menggeleng pelan tapi raganya tak bisa bohong kalau ia benar-benar mengantuk.


"Yok, ke kamar Merah!" Merah mengandeng tangan Zahra dan membawanya kekamar.  Merah menyuruh Zahra untuk tidur, dan berjanji akan membangunkannya di pagi hari.


Merah berjalan keluar kamar, dilihatnya Pradiksa tengah menyesap kopi. Merah menghampiri Papa. "Pa, mama Lenka mau ngasih kejutan buat Merah kan?"


"Iya, jangan pulang dulu makanya. Pokoknya kamu jangan memasang ekspresi biasa, sebisa mungkin pasang ekspresi kaget. Papa yakin kamu sudah terbiasa membintangi lakon." ujar Papa panjang lebar.


"Tapi Pa, masalahnya....,"

__ADS_1


"Masalahnya apa?" sahut Papa. "Apapun, Papa pasti bisa bantu."


Setelah Papa berucap itu, Merah diam tak berani bicara lagi. Merah langsung menyibukan diri dengan handphonenya.


Tuk..tuk..tuk..


Ketukan pintu membuat Merah terkesikap, ia langsung memasang ekspresi khawatir kalau pada saat Mama Lenka memberikan kejutan dia tak bisa ber akting sesuai rencana. Merah mengetralkan jantungnya yang sudah berdetak tak karuan, ia mengambil nafas panjang lalu berjalan ke pintu.


Merah memegang handle pintu, ia langsung memasang ekspresi biasa.


"HAPPY BIRTHDAY SRAYRED SAYANG!" teriak Mama Lenka, dan adiknya. Ya adik perempuannya itu menatapnya dengan penuh cengiran yang membuat Merah bergidik geli.


"Happy Brithday kakacu suyung!"


"Purple, don't do it!" Ya, Purple adalah adik Merah.


"Kembaran acu, jangan gicu!" ujar Purple merangkul Merah. Merah langsung menepis Purple untuk menjauh.


"Kak, minta money!" Purple menyodorkan tangannya kepada Merah.


Merah langsung memukul tangan Purple.


"No money money Purple!"


"Forget it, time to party!" Sorak mama Lenka, Merah mengikuti langkah Mama Lenka yang baru saja masuk kedalam. Mama Lenka tersenyum dan menunjukan basement parkiran mobil disulap menjadi tempat party, disitu sudah banyak orang yang penting memenuhi basement.


Pradiksa menghampiri Merah. "Papa tahu, kalau inderamu itu hanya bisa fokus pada satu. Jadi Papa berfikir untuk memberikan kejutan lain untukmu. Pasti kamu kaget?" Merah menangguk. Ia memeluk Papa dengan penuh sayang.


"Thanks Pa,"


"Mama enggak nih?" tanya Mama Lenka yang sudah berdiri ditengah mereka.


"Thanks juga Ma," Merah juga memeluk Mama Lenka.


"Purple enggak nih?" Purple merentangkan tangannya lebar.

__ADS_1


"Pa, Ma, Let's go!" Merah menarik tangan Pradiksa dan Lenka, disitu Purple langsung memajukan bibirnya. Melihat itu Merah terbahak-bahak lalu berbalik dan memeluk penuh sayang adiknya itu.


---/-


__ADS_2