
Siang itu, Merah memakai dress selutut berwarna dusty pink. Walaupun ini rapat, tapi Merah tidak mengenakan pakaian formal dikarenakan perintah dari atasan. Rapat ini terkesan seperti pesta namun juga banyak hal yang dibahas didalamnya, memanglah seperti itu, perusahaan Fisaka group adalah perusahaan tersantuy soal hubungan kerja. Eh enggak, cuman bercanda.
"Halo Red! How are you baby?" sapa seseorang yang membuat Merah memutar pandangannnya pada sumber suara.
"Hai dude, I fine. And you?" ucap Merah tertawa renyah.
"Fine baby, okey baby, I will go. See you next time..," Merah tersenyum. Ia tahu bahwa semuanya yang menghadiri rapat ini adalah orang-orang sibuk. Jadi mereka tidak sempat mengobrol banyak dikarenakan terbatas oleh waktu.
Merah berjalan, ia duduk dikursi yang paling dekat dengan panggung. Ya karena ia tahu, bahwa tamu penting akan ditempatkan pada kursi terdepan.
"Halo, Red! Apa kabar?" tanya wanita paruh baya yang memiliki wajah kental seperti orang barat. Merah berfikir bahwa wanita itu blasteran.
"Fine, Mrs.....?" ujarnya sedikit takut kalau ia akan dicurigai bahwa ia bukan Red.
"Mrs. Celia! How are you?" teriakan melengking itu membuat Merah menghela napas. Syukurlah ia terselamatkan.
Merah diam, ia mengamati layar besar dihadapannya yang membahas mengenai pembangunan cabang di Austria. Pemimpin rapat itu merupakan orang LA yang merupakan kepercayaan Fisaka, Papanya.
Setelah hampir 3 jam rapat itu dilangsungkan, akhirnya rapat itu selesai. Ia bersalaman dengan kolega-kolega bisnis sembari tersenyum manis. Merah langsung keluar dari ballroom hotel dan menyuruh supir pribadinya untuk segera mengantarnya pulang.
---
Keesokan harinya, alhasil ia kekurangan tidur dan membuat matanya sedikit menghitam di pagi hari. Walaupun ia sering mengalami itu tapi tetap saja bawah mata menghitam itu memperburuk penampilannya. Pagi-pagi ia harus mencari hacks life untuk menghilangkan warna hitam itu.
Setelah sekitar lima belas menit mencoba setiap langkah yang disarankan, akhirnya warnanya sedikit memudar. Ia langsung turun, menyambar roti tawar yang sudah disediakan lalu menghampiri Pradiksa yang tengah meminum kopi di halaman.
"Merah berangkat, Assalamualaikum.." Merah mencium punggung tangan Pradiksa, ia lalu masuk kedalam mobil dan menyuruh Tomo—supir barunya untuk mempercepat laju mobilnya.
"Tom, Ayo cepat! Saya nanti telat."
Tomo membelokan mobilnya, ia mengambil jalan tikus agar cepat sampai.
__ADS_1
Sesampainya di depan gerbang sekolah, Merah menghembuskan nafas kasar. Dan benar saja gerbangnya telah ditutup, menyebalkan sekali! Merah terus mengerutu sebal dan menendang kecil pintu gerbang yang sudah tertutup rapat itu.
"Ngapain coba? Kurang kerjaan. Mau mukul sampai seribu kali pun nggak bakal bisa kebuka!" ujar seseorang, ah entah siapa— tapi Merah rasa suaranya tidak asing.
Merah menoleh, ia melihat orang yang tak asing ada dihadapannya. Orang itu tak kalah terkejutnya dengan kehadiran Merah.
"Hei! My girlfriend! Akhirnya cantik juga!" ujar cowok itu.
"Idih jijik! Lagian gue udah nggak ngejalanin misi lagi. Jadi gue sama lu nggak ada hubungannya lagi!" Merah berdecak kesal.
"Nggak usah debat sih Rah, lu pengen masuk nggak?" tanya Banuwarna.
"Nggak, gue mau pulang." Merah berbalik, ia mendapati Tomo yang sudah meninggalkannya. Merah berdecak kesal, ia mengerucutkan bibirnya sebal.
"Kerjaan lu pasti?" Banuwarna tersenyum jahil.
Merah menjambak rambut Banuwarna tanpa ampun, sedangkan Banuwarna langsung menarik tangan Merah menjauh dari gerbang sekolah.
"Mau kemana sih?" gertak Merah.
"Kita? Lu aja kalik!"
"Gue nggak nerima protes!"
Setelah berdebat cukup panjang, akhirnya Merah hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Banuwarna.
"Ayo naik!" suruh Banuwarna. Merah masih diam ditempat. Banuwarna yang greget akan aksi Merah langsung mengendong Merah dan menyuruhnya duduk di jok belakang motornya.
"Rok gue kependekan!" ujar Merah kesal.
"Nggak papa, lumayan buat cuci mata." Banuwarna berujar itu dengan santai yang langsung dihadiahi pukulan oleh Merah.
__ADS_1
"Pinjem jaket!"
"Bisa dengan nada lembut, nona?"
"Pinjem jaket!" dengan nada yang sama seperti sebelumnya Merah setengah berteriak.
"Yaudah, ga bakal gue pinjemin."
"Pinjem jaket dong...," nadanya melembut, itu yang Banuwarna suka. Banuwarna menyerahkan jaketnya untuk ditaruh pada paha gadis itu.
"BANU! MERAH! KALIAN MAU BOLOS YA!" teriak Bu Anjani yang mengecek apakah ada murid yang masih ada diluar. Dan sialnya, jarak pandang Bu Anjani masih normal dan membuat mereka terlihat walaupun dalam jarak jauh sekalipun
"BANU! CEPETAN! KEBUT AYO!" Merah memukul bahu Banuwarna dengan berulang, tiba-tiba terlintas ide jahil di otaknya. Ia langsung menarik gas dengan panjang, dan otomatis gadis itu terhuyung kedepan dan melingkarkan tangannya dipinggangnya.
"BANU! JANGAN NYEBUT!" teriak Merah. Ia memejamkan mata dalam-dalam dengan tangan tetap meligkar dipinggang Banuwarna. Banuwarna tersenyum bangga atas apa yang ia lakukan.
"Proud of me." ujarnya lirih.
"EH! EH..., Kenapa ini?" katanya panik. Banuwarna menepikan motornya dan melihat bannya kempes. Sial memang hidupnya hari ini, baru aja ingin dipeluk seperti Dilan, eh ternyata alam tidak merestuinya.
"Ah! Kenapa sih!" Merah bergerutu kesal. Ia menyalahkan semuanya, dari jalan, paku yang sialan dan Banuwarna yang menyebalkan.
"Jadi cewek yang anggun dikit kek, bantuin dorong gitu." protes Banuwarna. Merah berdecak kesal.
"Hilih, gitu aja marah. Dasar cewek!" Merah tetap tidak mau bicara pada Banuwarna.
"Lu beneran marah? Ternyata bisa marah juga. Di novel-novel aja kalau cowoknya bannya kempes dibantu didorongin, lah ini malah di omelin."
"Lu bukan cowok gue! Ngapain juga gue perduli!"
"Tenang, sebentar lagi itu bakalan terjadi." ujar Banuwarna dengan santai.
__ADS_1
"Mimpi!"
Merah berlari ketika melihat telephone umum, iya memencet telephone rumahnya lalu menyuruh supir untuk menjemputnya.