Merah

Merah
BAB 36 : Apel


__ADS_3

Sudah berkali-kali, Merah berusaha menghafalkan nama pengusaha-pengusaha, dan lumayan hasilnya, ia bisa menghapalkan setengah dari buku besar yang hanya berisi nama dan sifat. Matanya terpejam berulang, menahan kantuk sedari tadi, ya tuntutannya memang sangat berat. Ia harus bisa menghafal semua nama itu, karena minggu depan ada rapat lagi. Hari yang melelahkan baginya.


----


Pagi hari ini, hati seorang Banuwarna di liputi rasa takut. Entah kenapa hantu yang waktu itu ia temui di gudang malahan selalu mengikutinya. 'Kan ganggu. Banuwarna sudah bersikap cuek secueknya. Tapi ya, namanya hantu, keras kepala sekali.


"Kenapa lu?" Petra berujar tiba-tiba membuat Banuwarna sedikit tersentak kaget.


"Diikutin hantu," dengan gayanya yang santai Banuwarna berucap itu. Petra memelototkan matanya.


"Hantu?" Banuwarna menghela napas kesal. Itu kenapa tanya mulu.


"Iya hantu, lah itu duduk disebelah gue." Petra tersentak, ia langsung bangkit dari duduknya.


"Serius? Lu nggak ngatain gue 'kan?"


Banuwarna menatap Petra malas. Dasar nggak percayaan. Ia jadi ingin apel. Pasti Petra tahu dimana cewek bar-bar itu berada.


"Pet, pet, lu pernah bilang ke gue kan? Ada murid baru yang mirip Merah si bisu?" tanya Banuwarna. Petra melirik takut.


"Iya, kenapa?" ucap Petra sinis. Kenapa jadi sewot itu anak. Batinnya.


"Dimana kelasnya?"


"Ips." ujar Petra singkat, sambil diam-diam melirik kearah bangku kosong disamping Banuwarna.


"Setannya ternyata naksir lu Pet," Banuwarna menepuk bahu Petra pelan.


------

__ADS_1


"Yuhuuu! Merah!" teriak Banuwarna diseluruh penjuru kelas. Semuanya langsung menatap kearah Banuwarna. Ya, lagi-lagi Banuwarna membuat perhatian. Tapi dengan penampilan yang berbeda.


Merah yang sedang tidur merasa terusik. Ia membuka matanya, ia terkejut ketika melihat Banuwarna duduk disebelahnya dengan gayanya yang sok tampan.


"Ngapain sih kesini?" tanya Merah dengan nada kesal. Banuwarna dengan santainya malah cengar-cengir sendiri.


"Apel."


"Maksud lu? Lu nyari apel? Gaada udah. Pergi sana!"


Banuwarna menaikan satu alisnya, menatap Merah dengan gayanya yang sok menebak "Gue nggak yakin kalau cewek sepintar lu nggak tahu yang namanya apel."


"Tahu, apel itu buah." Merah berujar santuy.


Teeettt..


"Ini baru yang pertama, akan ada apel selanjutnya.." Banuwarna tersenyum lalu meninggalkan kelas Merah.


----


Sedari tadi, Merah masih sibuk menghafalkan nama-nama sialan itu. Ia sama sekali tidak memperhatikan Pak Burhan yang sedang menerangkan rumus-rumus matematika. Hingga datanglah kesialannya. Pak Burhan menatapnya.


"Merah, kamu ngapain membaca novel di jam saya!" teriak Pak Burhan. Merah menatap Pak Burhan sekilas, lalu ia memilih fokus pada buku tebal itu lagi. Lagian ia tidak membaca novel.


"Merah! Maju! Kerjakan soal ini!" teriaknya lagi penuh amarah. Merah dengan santainya maju, ia sama sekali tidak menunjukan rasa takutnya.


Merah menulis jawaban itu di papan tulis, dan semua yang melihatnya takjub, karena rumus yang dituliskan Merah adalah rumus cepat yang belum pernah diajarkan Pak Burhan.


"Bagaimana bisa dapat jawaban yang sama?" Pak Burhan turut heran.

__ADS_1


"Ya bisa aja. Ini mudah, bapak saja pasti dengan dua detik dapat memahaminya."


Safira yang duduk didepan meja guru ikut menatap Merah heran. Itu anak serba bisa deh heran. Batin Safira. Saat Merah menatapnya dan melemparkan senyum, Safira membalas senyuman itu.


----


"Baby, keep healty..., Mom with you." Red mengusap perutnya yang masih rata. Ia sangat menyesal bisa menghancurkan harga dirinya sendiri, tapi ya bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur, apa yang sudah terjadi tidak dapat kembali lagi.


Tok. Tok. Mendengar ketukan pintu, Red berjalan membuka pintu. Maybe Dady, pikir Red.


"Halo sweety! Red kecil, sehat terus disana ya!" Red melongo tak percaya, siapa yang ada dihadapannya ini. Papa, ya, Papa Fisaka ada disini. Setelah kurang lebih empat tahun tidak bertemu, akhirnya ia bertemu dengan Papa Fisaka.


"Papa!" tubuh Red menubruk tubuh tua Fisaka, Red memeluk erat Fisaka menyalurkan kerinduan yang selama ini ia rasakan.


"Papa, why? Dady says too dangerous for All."


"I know sweety, tetapi Papa harus selesaikan semua masalah yang ada disini. Papa nggak enak bergantung dengan Pradiksa terus. Kasihan anak kandungnya, terus terbebani dengan misi-misi yang mengandung banyak resiko."


"Bagaimana kalau Papa kenapa-kenapa?" tanya Red dengan nada khawatir. "Red just have Papa and little baby."


"No! You have Dady, Merah, and Mama Lenka. They your family sweety!" ucap tegas Fisaka. Red semakin mengeratkan pelukannya kepada Fisaka. Seolah tidak mau jauh-jauh dari Fisaka lagi.


"Come on sweety, let's watch movie!" Fisaka melepaskan pelukan Red, ia menyuruh Red untuk duduk di sofa. Sedangkan Fisaka sibuk memasang CD yang baru saja dibelinya di Amerika.


Terputarlah film yang entah itu apa, tapi bagi Red. Apapun, jika bersama Papa akan sangat indah.


"Remember Red! Jaga little baby baik-baik ya. Papa mau cucu Papa sehat."


----

__ADS_1


__ADS_2