Merah

Merah
BAB 7 : Kemenangan


__ADS_3

Dimanapun kamu berdiri pasti ada yang melirik benci dan tersenyum iri.”


****


Saat pengumuman tiba Merah sangat penasaran walau sebenarnya ia sudah tahu kalau menang, Merah tetap saja cemas sambil menunduk. Tanpa Merah sadar seseorang tengah menatapnya sinis dan penuh benci atas keberhasilannya. seperti semacam orang iri ketika orang lemah berhasil mencapai yang dia inginkan.


"JUARA PERTAMA......" Aurel–MC di acara itu sedikit menjeda supaya menimbulkan rasa penasaran.


"Peserta nomer.. 1.."


"Nomer 16 ! Silakan maju!" temannya bersorak gembira, sementara Merah hanya lega jika perkataan Sessa tidak salah. Merah mengikuti langkah teman - temannya menaiki panggung. Diujung kejauhan Sessa tersenyum manis kepadanya dan Merah membalas senyuman itu singkat. Jika ia ingin katakan, bahwa selain Sessa banyak makhluk yang sama seperti Sessa menatap kearahnya.


Penyerahan uang senilai dua ratus ribu dan piala kecil yang membanggakan kelasnya, Setelah itu dilanjutkan foto bersama. Merah keluar dari belakang layar, ia melihat Safira tengah menatap lurus rumput yang bergoyang karena angin sepoi- sepoi.


"Fir!" teriak Merah. Safira menoleh kearah Merah dengan tatapan penuh tanya. Merah mendekati Safira dan ikut duduk disamping Safira.


"Something wrong's?" tanya Merah, Safira menunduk diam tak mengucap sepatah kata. jika dilihat dari tatapan matanya, Merah sudah menebak bahwa Safira sedang dalam masalah.


"Gue banyak masalah Rah, lu ga perlu tau. Hidup lu juga udah banyak masalah." ujar Safira dengan nada sendu.


"I can help you!" ucap Merah tegas.

__ADS_1


"Yakin lu bisa bantu gue?" tanya Safira ragu.


Merah mengangguk mantap.


"Gue bentar lagi mungkin akan keluar dari sekolah, orangtua gue bangkrut. Dan gue harus keluar dari sekolah ini karena Papa mau nyekolahin gue di sekolah yang lebih murah." jelas Safira. Merah mengangguk paham, ia mengeluarkan ponselnya.


"Transfer money!"


"Emm.. Name Papa?" tanya Merah.


"Brawijaya Hasir."


"Thanks Merah." Safira memeluk Merah erat. Dan Merah menyambut hangat pelukan Safira.


"Sebenernya lu siapa?" tanya Safira.


"Secret, I'm sorry." Merah berbalik dan meninggalkan Safira sendiri, ia sangat yakin bahwa Safira butuh waktu sendiri.


Merah melanjutkan langkahnya menuju samping panggung dimana temannya tadi berkumpul. Entah apa yang dibicarakan temannya Merah tidak tahu menahu karena ia baru datang. Mungkin mau merayakan, Pikir Merah.


"Merah, lu ikutan kaga ngerayain kemenangan kita?"

__ADS_1


Pas sekali, tebakannya sama sekali tidak meleset.


Merah menggeleng, ia berfikir ia sudh ada janji pada seseorang. Ia tak mau membuang waktunya sia - sia tanpa menghasilkan uang itu. Merah menuju kamar mandi membersihkan makeup diwajahnya, setelah selesai Merah menganti pakaiannya menggunakan dress selutut dengan pita dirambut yang diikat kuda. Merah terlihat elegan dan cantik begitu, tak lupa melepas softlens. Mata cokelat Merah itu semakin mempercantik dirinya, juga sepatu butut ia ganti high heels. Merah merias wajahnya supaya keluguannya tak terlihat ketika ia melewati keramaian di lapangan.


Merah membuka pintu toilet, ia kaget melihat Safira tengah menatapnya intens. "Lu Merah?" tanyanya.


Merah mengangguk ringan.


"Gila! Lu cantik banget kalau kaya gini!" ujar Safira yang menurut Merah sangat berlebihan.


"I'm Srayredd Grey Fisaka, you can call me Red or Merah.."


Safira bahkan tak percaya apa yang dilihatnya hari ini. Merah adalah orang yang luar biasa.


"Merah! Oh my god! Gua mimpi!" Safira menepuk pipinya.


"No! This is real." ujar Merah. "Bye."


Merah memakai kacamata hitamnya dan memakai masker, ia berjalan melewati ratusan manusia murid SMA Virgo. Dan Merah menyadari banyak yang kagum dengan tubuh dan kecantikan wajahnya walau tertutup banyak atribut. Merah memasuki mobil lamborghini berwarna merah dan melesat menuju Mansion pribadi miliknya.


***

__ADS_1


__ADS_2