
Degub jantung Arya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bukan dikarenakan jatuh cinta, apalagi habis lari maraton. Arya merasa sedikit takut dengan rumahnya sejak ada penghuni baru di sana.
Padahal dia selalu merasa senang menyapa sofa empuk di ruang tengahnya setelah selesai latihan basket atau sepulang sekolah.
Sekarang Arya sedang anti untuk melakukan kebiasaannya itu. Ini dilakukan sebagai pencegahan kejahatan yang bisa saja terjadi pada tubuhnya.
Sebab di rumahnya ada makhluk yang suka memandang dan menyentuh bagian tubuhnya tanpa izin.
Arya membuka pintu rumahnya perlahan. Takut jika Sisil tiba-tiba menerkamnya saat membuka pintu. Oke, itu terdengar sedikit berlebihan.
“Huaaa..” teriak Arya saat mendapati seseorang berdiri di depan pintu.
“Mama, bikin kaget aja,” ucap Arya lega sambil mengelus dadanya. Berusaha untuk menstabilkan detak jantungnya kembali.
Jadi sekarang apa masalahnya. Kenapa mamanya terus berkacak pinggang di depannya? Tidakah mamanya capek melakukan posisi itu? Kenapa Arya baru sadar bahwa mamanya sedang membawa barang dan barang itu...
Arya menjadi salah tingkah di depan mamanya. Bagaimana bisa mamanya menemukan majalah dewasanya? Beruntung yang bentuk DVD sudah dia kembalikan.
Tapi ada atau tidaknya DVD itu tak akan banyak berpengaruh karena Arya tetap akan mendapatkan hukuman dari mamanya.
“Kamu bisa jelaskan ini?” ujar sang mama menunjukkan majalah dengan cover tak senonoh itu padanya.
Arya dibuat diam layaknya patung tengah jalan. Apa yang bisa dia jelaskan? Dia tidak bisa berbohong pada mamanya. Jika mau bilang punya teman, sama saja dengan dia yang meminjam dan juga membaca majalah itu. Tapi jika Arya mengatakan yang sebenarnya, mamanya bisa lebih marah lagi.
Padahal Arya hanya ingin menggunakan majalah itu agar Sisil merasa illfeel dengannya. Bukannya berhasil malah Arya sendiri yang mendapat masalah.
Kesialan apa lagi yang menimpanya. Apakah Arya harus menerima hukuman akibat majalah yang bahkan tidak dia buka sama sekali.
Mama Arya nampak tak sabar menunggu jawaban dari anaknya. “Arya?”
Mendengar suara sang mama berhasil membuat Arya kembali ke dunia nyatanya. “Anu mah.. itu punya temen.”
“Kamu minjem?” tanya sang mama marah.
Kan? Bisa mati Arya kalau sudah begini.
“Nggak, Cuma temen tadi nitip. Sumpah, Mah.. Arya nggak baca majalah begituan,” ujar Arya mengacungkan kedua jari telunjuk dan tengahnya.
Arya bisa melihat wajah mamanya yang tak puas dengan alasan Arya.
“Apa buktinya?”
Bisa apa Arya kalau ditanya seperti itu. Menelepon temannya? Siapa yang sudi berbohong untuknya.
“Kamu bohong, kan?” Arya hanya diam. Terserah. Arya sudah pasrah bagaimana nasibnya ditangan sang mama.
“Mama nggak nyangka kamu udah pandai bohong. Uang jajan kamu bulan depan mama potong sebagai hukumannya.”
Geram sang mama sambil berbalik, tapi kemudian kembali menghampiri Arya.
“Buang majalahnya, mama nggak mau kamu baca majalah nggak berguna kayak gitu lagi.”
__ADS_1
Arya mengambil majalah yang tergeletak tak berdosa di lantai.
“Mengerti?” ucap sang mama karena tak mendengar jawaban dari anaknya.
“Iya, Ma.”
Setidaknya mamanya marah hanya karena majalah ini. Bukan karena membuat Sisil menangis di sekolah tadi pagi.
Tunggu, jangan sampai mamanya tahu hal itu. Dan di mana Sisil? Biasanya saat Arya pulang sekolah Sisil akan langsung menerjang tubuh Arya dan mengaitkan tangannya erat, lalu di mana semua keributan itu.
“Ma, di mana Sisil?” tanya Arya saat melihat mamanya akan masuk ke kamar.
“Jagain ayahnya di rumah sakit. Kamu yang akur ya sama Sisil, kasihan dia. Hari ini ayahnya dioperasi, semoga aja lancar.”
Benar juga, Sisil ke Jakarta karena pengobatan ayahnya. Pasti cewek itu merasa sedih karena penyakit ayahnya dan butuh dihibur, tapi apa yang Arya lakukan? Iya hanya membuat Sisil semakin sedih.
Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menghampirinya. Sebenarnya Arya ingin berbaik hati pada Sisil, tapi sekali cewek itu dikasih hati, dia akan meminta lebih.
Hati Arya saja tak cukup untuknya. Bisa apa Arya kalau sudah begitu?
Setelah membuang majalah, Arya kembali ke kamarnya. Istirahat hari ini harusnya tenang karena tak ada tanda-tanda bising dari Sisil, tapi entah kenapa dia tak bisa sekedar memejamkan mata dan langsung tertidur.
Padahal badannya sudah hampir keropos akibat jadwal organisasinya. Tahu begini, Arya tak mau dicalonkan jadi ketua osis.
Merepotkan saja, belum lagi masalah pribadinya. Ternyata jadi pemimpin itu sangat merepotkan.
Arya melepas baju basketnya, membuang kesembarang arah dan membaringkan diri di kasur empuknya.
Tak peduli dengan bau keringat yang akan menempel pada seprainya. Dia hanya sangat lelah.
Arya meraih ponselnya. Ada pesan WhatsApp masuk dari pembina basket.
Isinya hanya tentang jadwal latihan terbaru serta jadwal pertandingan yang akan mereka ikuti.
Arya mengecek jadwalnya. Mengezoom gambar warna-warni itu karena tulisannya terbilang sangat kecil.
Bahkan warna-warni pada tabel lebih mencolok ketimbang tulisannya.
Arya jadi ingat kejadian tadi siang. Bagaimana bisa siswa jaman sekarang masih ada yang belum menggunakan WhatsApp.
Arya mengetik pesannya, mengirim beberapa ketikan pada Dinda. Dia tersenyum sebelum mengirim pesannya.
'Download WA sana, dasar jadul'
Tak berselang lama, bukannya pesannya terbalas. Dia mendapati ada chat masuk diaplikasi WhatsApp miliknya.
Dinda membalas pesannya via WhatsApp.
'udah'
Arya tersenyum kecil melihat foto yang terpampang pada profil WhatsApp Dinda.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian Dinda mengirim sebuah foto. Arya mengamati foto itu. Darimana Dinda mendapatkan fotonya?
'Bukan lo doang yang bisa ngancam orang, gue juga bisa'
'Kalau sampe mas arya tau, abis lo sama gue'
'gue sebar aib-aib lo. Dasar mesum'
Arya tertawa membaca makian dari Dinda.
'sejak kapan lo jadi stalker gue?' send.
Arya sudah tak terkejut lagi, karena dia sudah tahu jawaban apa yang akan dia katakan pada khalayak umum jika seseorang melihatnya di toko itu.
Masalahnya kenapa saat di toko Dinda tidak menyapa langsung dirinya saja.
'dih dasar, siapa yg jadi stalker lo, gk sudi gue'
'gue gk sengaja aja liat lo di sana pas lagi minjem dvd'
'gk usah kegeeran ya'
Arya benar-benar membayangkan cewek itu marah-marah di depannya langsung. Bahkan Arya bisa mendengar suara Dinda hanya dengan membaca pesan dari Dinda.
Bagaimana bisa pesan Dinda begitu hidup. Tiba-tiba saja Arya lupa bahwa dia baru saja mengeluh capek, belum lagi dia juga baru dimarahi mamanya.
Secara ajaib lelah ditubuhnya lenyap begitu saja.
'sebarin aja, gue gk takut', balas Arya. Tanpa Arya sadari dia jadi suka mengusili Dinda
Arya menikmati setiap balasan dari Dinda. Semuanya terasa lucu baginya.
'oh, lo nantangin'
'Ok'
'gue bakal buat lo malu'
'Ok, kita lihat siapa yg malu, gue apa elo'
~oOo~
Dinda menatap lama pesan dari Arya. Benar juga, Galih saja jadi berpikir kalau Dinda adalah stalker Arya setelah melihat foto itu.
Bukannya Arya, melainkan dirinya akan membunuh reputasinya sendiri.
Dinda tak percaya bagaimana Arya bisa membangun reputasi sedemikan rupa sampai orang-orang akan memilih berpihak padanya ketimbang berbalik memusuhinya.
Manusia satu ini benar-benar membuat Dinda ingin menguburnya hidup-hidup.
'sialan', balas Dinda sebelum melempar ponselnya kesudut tempat tidur.
__ADS_1
Dinda tak ingi membalas Arya lagi. Bisa darah tinggi Dinda dibuatnya.
~oOo~