
Dengan bau keringat khas pada baju basket yang masih melekat erat di tubuhnya, Arya membaringkan tubuhnya di atas sofa.
Tubuhnya masih terasa pegal. Bahkan dia berpikir tidak akan bisa mencapai lantai atas dengan keadaan seperti sekarang.
Jadi ia membiarkan dirinya terdampar di sofa ruang tamu dulu. Arya memejamkan matanya, terlelap nyaman hingga suara nafas mengganggu pendengarnya.
Bukan. Itu bukan suara nafasnya. Hey yang dimaksud di sini bukannya Arya yang telah mati tak bernafas. Hanya saja Arya yakin bahwa ada nafas lain di ruangan ini. Sejak kapan rumahnya menjadi berhantu?
Arya memberanikan diri untuk membuka matanya. Dia melotot sempurna saat mendapati makhluk lain tengah berjarak begitu dekat dengannya.
Apa cewek itu pikir senyumnya terlihat menawan jika dilihat dari jarak kurang dari lima senti.
Sungguh senyum itu terlihat sangat menakutkan bagi Arya, bak boneka Chuky yang membawa pisau untuk membunuh korbannya.
Arya menegakan punggungnya pada sandaran sofa dan cewek itu juga mengikutinya.
“Sejak kapan lo di sini?” tanya Arya takut.
“Dari tadi. Sisil kangen banget sama Arya,” ujar si cewek ikut duduk di sebelah Arya.
Dia menyelipkan tangannya pada celah tangan Arya. Menaruh kepalanya pada bahu Arya dan mengusap-usapkan kepalanya gemas.
“Jangan begini. Gue belum mandi.. bau.”
“Sisil nggak nyium bau,” ucap Sisil polos.
“Ah.. gue mau mandi dulu aja,” ucap Arya bergegas berdiri dan berusaha melepaskan tangan yang mengait erat pada tangannya.
“Sisil ikut.”
Arya melongo mendengar ucapan Sisil yang baru saja dia dengar. Cewek di sampingnya ini benar-benar gila. Jangan salahkan otak tercemar dan kelebihan hormon Arya.
Jika Arya tidak salah yang berarti benar, bukankah Sisil sedang minta ikut mandi bersama dengannya?
Apa Arya salah menafsirkan kalimat Sisil. Demi Tuhan, Arya bukan cenayang yang bisa menebak apa maksud dari ucapan cewek itu.
“Jangan gila!” balas Arya sambil mendahului Sisil.
Berharap cewek itu berhenti menempel padanya, tapi dugaannya salah besar. Terlihat Sisil tengah berlari untuk menyamakan langkahnya dengan Arya.
“Kenapa lo nggak di rumah sakit?” tanya Arya.
“Udah ada Bunda.”
Arya menghembuskan nafasnya kesal. Seharusnya dia tak mengajak cewek yang berjalan beriringan denganya di tangga ini bicara.
Arya sudah sampai pintu. Secepat kilat dia ingin menutup pintu kamarnya segera, tapi gerakan Sisil jauh lebih cepat.
Sisil menahan pintu itu saat akan tertutup. Terjadilah adegan dorong dan tarik pintu kamar itu.
“Lepasin pintunya!” bentak Arya kesal.
“Nggak mau. Sisil mau masuk.”
Bukannya Arya lemah, hanya saja tenaganya sudah terkuras habis saat bermain basket tadi.
Dirinya yang sudah membayangkan istirahat dengan berbaring nyaman pun harus rela mengeluarkan keringat lebih banyak karena Sisil.
Dan finaly. Tak peduli secapek apa dirinya, Arya tetaplah cowok. Tentu saja tenaganya jauh lebih besar dari cewek, sekalipun cewek hyper aktif macam Sisil.
Dor.. dor.. dor..
__ADS_1
“Arya buka! Sisil mau masuk!”
“Nanti. Kalau gue udah mandi.”
Akhirnya Arya masuk ke dalam kamar mandi dan membiarkan tubuh letihnya tersiram air shower jauh lebih lama.
Mengabaikan Sisil yang duduk bersandar pada pintu luar kamarnya seperti orang frustrasi.
~oOo~
Dinda menarik kursi belajar ke tepi jendela kamarnya. Jangan salah, dia bukannya mau bunuh diri karena frustrasi terus-menerus berurusan dengan Arya. Hanya saja dia ingin lebih nyaman saat mendengar cerita Tama yang sangat dia butuhkan saat ini.
Ya, mereka memang sedang mengobrol dengan berada pada jendela kamar masing-masing.
Kamar mereka terletak berhadapan dengan taman samping rumah Dinda sebagai pemisah. Jadi dia dan Tama tak harus menggunakan benda bernama ponsel untuk saling berkomunikasi saat berada di rumah.
Sangat menguntungkan mengingat harga pulsa terus naik. Lagi pula semua harga kebutuhan memang selalu naik.
“Hahahaha...”
Suara tawa Dinda membahana pada malam itu.
“Terus.. terus..” ucapnya tak sabar ingin tahu akhir ceritanya.
“Ya, Mas langsung duduk aja di depan kelas pas guru killer itu lewat. Gurunya nanya apa Mas liat siswa lari lewat sini? Mas jawab aja, ada siswa lari ke kantin. Padahal yang dikejar tu guru killer kan Mas sendiri.”
“Mas Arya jahil.”
“Siapa suruh gurunya lepas kaca mata, dan lagi.. ini tu bukan jahil, tapi cerdik.”
“Iya deh, iya..”
“Nggak mau. Belum ngantuk.”
“Udah malem, Din. Lagian mau, kamu dikira Mbak Kunti ketawa malam-malam begini.”
Dinda bergidik ngeri sambil menggeleng kepalanya.
“Ya udah. Dinda tidur,” ucap Dinda akhirnya menyerah. Tidak ada ucapan Tama yang bisa dia bantah.
“Selamat malam,” ucap Dinda sebelum menutup tirai jendelanya yang di balas sama oleh Tama.
Ya begitulah malam indah yang selalu Dinda lalui. Bukankah sudah seromantis drama korea. Sudah seindah Sungai Seine di malam hari, tapi kenapa akhirnya memilukan.
Kasih sayang yang selama ini dia dapat tak lebihnya diberikan dari seorang kakak kepada adiknya.
Hal itu membuatnya berpikir, apakah hubungan kakak adik itu seperti ini? Ya, Tama memang selalu menjaganya, tapi sadarkah jika sepasang kekasih juga saling menjaga.
Tama selalu memastikan Dinda pulang sekolah dengan selamat, sadarkah jika sepasang kekasih juga melakukan hal itu.
Apakah di sini Dinda yang harus bangkit dan tersadar jika semuanya bukan cinta seperti yang dia bayangkan. Ya, dia harus berhenti berharap sekarang.
~oOo~
Arya masih berkacak pinggang di depan gerbang sekolah. Dia menyuruh panitia yang bertugas di gerbang depan untuk berada di lapangan karena dia tak mau menjadi tontonan saat mengurusi anak kucing manjanya.
Arya tak ingin yang lain melihatnya bersama Sisil yang terus bergelanyutan manja di tangannya bak monyet yang berayun-ayun di dahan pohon.
Katakan saja Arya berengsek karena menyamakan Sisil dengan hewan. Tapi begitulah kenyataannya. Arya tak menyangka Sisil akan nekat untuk mengikutinya sampai sekolah.
Bahkan rencananya tak berhasil. Bukannya jijik melihat Arya yang sengaja menyimpan DVD dan majalah dewasa, Sisil malah membandingkan miliknya dengan seorang wanita yang berada di dalam gambar di depan mata Arya sendiri.
__ADS_1
Arya dibuat syok dengan tingkah Sisil. Satu hal yang Arya tahu, Sisil sudah tak waras. Haruskah dia mendaftarkan nama Sisil di Rumah Sakit Jiwa?
Arya melihat Dinda tengah turun dari montor Tama. Mereka berbincang sebentar sebelum Dinda yang bergegas menuju gerbang karena bunyi bel nyaring berbunyi. Bersamaan dengan itu Tama telah pergi meninggalkan area sekolah.
“Sayang!” teriak Arya lantang.
Sampai Dinda dibuat terkejut olehnya. Dinda menatap Arya jengah, kenapa dia tak sadar jika ada orang menyebalkan berdiri di sana dengan seorang cewek.
Oke, Dinda tahu pacar Arya cantik, tapi tak seharusnya juga dia pamer dengan cara norak seperti itu.
Arya berjalan menuju Dinda. Ah ralat, dia sedikit berlari kemudian dengan lancang melakukan hal yang membuat Dinda ingin menendang cowok itu segera. Arya, cowok itu dengan beraninya merangkul bahu Dinda tanpa izin.
“Nurut aja, maka lo nggak akan kena hukuman karena dateng terlambat.”
Apa maksudnya dengan datang terlambat. Dinda menatap ekor barisan yang terlihat dari gerbang sekolah. Oh MOS-nya sudah dimulai dan kenapa cowok menyebalkan ini harus menahannya diluar.
“Siapa?” tanya si cewek manis itu pada Arya, menunjuk Dinda dengan dagunya.
Tatapan benci cewek itu berhasil membuat Dinda merinding. Bagaimana cewek semanis itu bisa terlihat sangat menyeramkan saat menatapnya.
“Ini pacar yang gue ceritain tadi.”
Seketika kalimat itu berhasil membuat Dinda menatap tajam pada Arya.
Hey, hal konyol macam apa lagi ini. Sejak kapan mereka pacaran? Jangan harap Dinda mau menerima lelucon ini.
Bahkan dia berusaha melepaskan tangan Arya yang menggantung di lehernya, tapi buru-buru Arya menarik tangan itu dan menguncinya dengan tangannya yang kini beralih menggenggam tangan Dinda.
“Bohong! Mana buktinya?” bentak cewek itu lantang membuat Dinda membeku di tempat.
Sekarang Sisil terlihat berkali lipat lebih menyeramkan dari beberapa saat lalu. Bahkan Dinda merasa Arya juga dibuat beku olehnya. Ah, apa Arya juga takut dengan Sisil?
“Apa ini belum cukup?” Tanya Arya sambil menunjukan tangannya dan Dinda yang saling bertautan.
Dinda terkejut melihat tangannya yang sudah berada memenuhi sela-sela jari Arya. Bisa-bisanya dia tidak sadar. Sejak kapan jari-jari mereka bertautan?
“Tidak cukup.”
Sebentar, Dinda masih bingung dengan apa yang dilakukan kedua pasangan di depannya ini.
Dan juga kenapa harus di depannya? Kenapa Dinda selalu mendapat masalah saat berada di dekat Arya?
Cup
God. Benda kering menyebalkan apa yang berani menyentuh pipi Dinda tadi?
Melihat itu Sisil berlari menjauh dari kedua si joli yang masih saling menempel di depan gerbang sekolah.
Satu..
Dua..
Tiga..
Plak. Sebuah tamparan keras kini tengah dihadiahkan Dinda ke Arya.
Arya tahu hal ini akan terjadi, jadi dia tak berniat untuk mengeluarkan ekspresi terkejut ataupun marah. Toh yang salah dirinya. Arya hanya bisa miringis memegang pipi karena tamparan itu bukan main-main sakitnya.
Tak hanya berakhir disitu. Arya juga harus merasakan tatapan kebencian dari orang-orang yang lewat. Hah.. kenapa juga dia selalu mendapat masalah saat bersama Sisil.
~oOo~
__ADS_1