Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
41


__ADS_3

Karena merasa risih membawa kresek besar kesana kemari. Arya memutuskan untuk menaruhnya dulu di rumah


Jadi, Arya memutuskan untuk mampir ke rumah terlebih dahulu. Sebenarnya Dinda merasa keberatan karena merasa sungkan dengan orangtua Arya.


Tapi setelah Arya meyakinkan bahwa mamanya tak di rumah akhirnya Dinda menerima usulan Arya.


Dinda menolak untuk masuk ke dalam rumah Arya. Dia memilih untuk menunggu di teras saja. Karena mereka juga tidak akan berlama-lama di sini.


Setelah Arya meletakkan kostum Sisil, mereka akan berkencan selayaknya orang pacaran pada umumnya.


"Kalau gitu kamu tunggu di sini bentar," ucap Arya seraya pergi masuk ke dalam rumah sambil membawa kantong kresek milik Sisil.


"Iya, jangan lama-lama," balas Dinda sedikit berteriak karena Arya sudah masuk ke dalam rumah.


Tak berselang lama sebuah mobil BMW hitam berhenti di depan rumah Arya. Seseorang keluar dari dalam mobil yang sepertinya supir pribadi si pemilik mobil.


Supir itu membuka pintu gerbang dan bergegas kembali melajukan mobil untuk masuk ke halaman rumah.


Dinda jadi was-was saat melihat pintu mobil hitam yang berhenti di halaman itu terbuka dan turun sepasang suami-istri.


'Tuhan. Jangan bilang mereka kedua orang tua Kak Arya', ucap Dinda dalam hati.


Kedua suami istri itu tampak bingung, saling memandang satu sama lain melihat seorang perempuan tengah duduk di kursi teras mereka.


"Temannya Sisil ya?" tanya sang istri kepada Dinda yang kini sudah berdiri dari duduknya.


Ingin rasanya Dinda memaki Arya yang bilang kalau orang tuanya tidak ada dirumah.


"Din, aku udah.. loh Papa Mama kok udah pulang? Katanya pulang malem?" tanya Arya yang baru keluar dari rumahnya.

__ADS_1


Bagus. Sepertinya Dinda akan mengurangi kadar marahnya karena Arya datang tepat waktu sebagai penyelamatnya.


"Iya nih, Papa katanya tiba-tiba kurang enak badan. Jadi kita pulang duluan. Ini?" tanya Mama Arya yang melihat ke arah Dinda.


"Oh ini, ini Dinda.." ucap Arya menjeda kalimatnya karena merasa canggung.


"Selamat siang Tante." Tiba-tiba saja Dinda jadi merasa tegang. Rasanya dia mau menghilang saja.


"Tadi Mama kira Dinda ini temennya Sisil. Tapi tadi Sisil udah WA mama katanya nggak ikut makan malem, ternyata temen kamu."


"Bukan temen, tapi pacar Arya, Ma," balas Arya refleks yang membuatnya dipelototi oleh Dinda.


Arya merutuki mulut bodohnya. Sebenarnya dia memang tidak ada niatan untuk menyembunyikan hubungan mereka kepada kedua orangtuanya.


Hanya saja, sepertinya Dinda masih belum siap untuk bertemu kedua orangtuanya. Pasti sekarang Dinda merasa bingung dan canggung.


Sedangkan kedua orang tua Arya saling memandang lagi. Sedetik kemudian kebingungan Mama Arya berganti dengan senyum ramah.


"Iya, Tante."


Dinda mencoba membuat kontak mata dengan Arya untuk menolongnya. Dia belum siap untuk bertemu calon mertua. Dinda takut jika kecanggungannya dapat membuatnya bertingkah bodoh.


"Ma, kayaknya kita langsung pergi aja deh." Ucap Arya menahan mamanya untuk membawa Dinda lebih jauh.


"Loh, kenapa?" tanya sang mama kecewa.


"Sebenarnya tadi Arya cuma mampir sebentar ke rumah buat naruh barang. Kita sebenarnya ada urusan."


"Urusan apa? Kamu mau ajak kemana Dinda?"

__ADS_1


"Ini, Mah.. kan sebentar lagi ada lomba di sekolah. Ada buat beli-beli keperluan buat lomba nanti, biasa osis."


"Oh gitu. Kan mampir dulu nggak pa-pa."


"Lain kali aja deh, Mah. Nanti takut hujan. Kan ini Papa juga lagi nggak enak badan."


"Ya udah kalau gitu. Kamu ngajak anak perempuan orang dijaga bener-bener. Awas nggak dijagain."


"Iya-iya, Ma. Kalau gitu kita pergi dulu."


"Kita pamit dulu, Tante." Ucap Dinda sambil tersenyum ramah.


"Dinda kapan-kapan mampir ya. Sekalian makan malem di sini."


"Iya, Tante. Lain kali Dinda mampir."


"Bentar Mama mau ngomong." Arya pun mendekat ke arah sang mama. Dia terkejut saat sang mama memberikan beberapa lembar uang pecahan paling besar dalam rupiah ditangannya.


"Jangan sampai anak orang kamu buat kelaparan."


"Iya, iya Ma. Arya masih ada kok."


"Ya udah dibuat pegangan dulu. Pulangnya jangan malem-malem," bisik sang mama di dekat Arya.


"Siap bos."


"Ya udah ati-ati kalau gitu.Arya naik montornya jangan ngebut-ngebut."


"Iyaaa..."

__ADS_1


Kemudian keduanya pun benar-benar pergi ke tempat yang akan mereka tuju.


...oOo...


__ADS_2