Mos Sialan 2010

Mos Sialan 2010
44


__ADS_3

Tama yang melihat Sisil tersungkur di lantai pun membantunya untuk berdiri menjauh dari pertikaian.


"Apa-apaan nih? Kenapa lo main pukul aja?"


"Main pukul gimana? Bukannya udah jelas hal kotor apa yang coba lo lakuin ke Sisil sekarang?" Murka Arya yang hampir memukul Brian lagi tapi langsung ditengahi oleh Bagas.


"Coba kita tanya dulu deh ke Sisil gimana jelasnya," ucap Bagas berusaha menenangkan Arya.


Arya melirik Sisil yang kini terisak dibahu Tama pun mendengus kesal.


"Apa yang mau dijelasin. Udah jelas kan cowok brengsek ini mau macem-macem!"


"Nggak usah nuduh yang enggak-enggak ya lo! Semua ini cuma salah paham," ucap Brian mencoba membela diri. Gue nggak tahu kalau ada orang di dalem sana, gue nggak sengaja," jelas Brian membela diri.


"Terus ngapain pelatih pakai acara masuk ke kamar ganti pemain drama? Bukannya lo nggak ada kepentingan di sini?" tanya Tama dengan nada marah.


"Gue nggak cuma ngelatih ya disini. Gue juga ngecek keperluan drama dan lain-lain. Tanya aja sama yang lain, gue nggak cuma sekali dua kali disini."


Beberapa siswa disana mulai berbisik dan beralih ke pihak Brian. Setelah mendengar perkataannya yang mereka kira cukup masuk akal. Apalagi Sisil juga hanya diam dipelukan Tama. Mungkin saja Sisil hanya merasa syok dan malu.


"Tapi Kak Brian juga pernah kan coba megang Oci."


Ucapan Oci berhasil membuat yang lain heboh, termasuk Bagas.


"Lo serius, Ci?"

__ADS_1


Oci mengangguk mantap, walaupun pada kenyataannya Brian belum pernah melakukan hal itu kepadanya.


Hanya Oci merasa tatapan Brian kepadanya selalu membuatnya merasa risih. Mungkin jika dia kurang waspada sedikit, bisa saja Brian akan lebih berani melakukan hal yang lebih dari sekedar memandang.


"Sebenarnya aku juga pernah." Kini giliran Felin, siswi yang bertanggung jawab dibagian make up yang angkat bicara.


Mendengar penuturan para wanita ini membuat Arya tambah geram dan melayangkan satu pukulan lagi pada wajah Brian.


"Mending lo pergi dari sini sekarang juga, sebelum gue laporin lo atas tindakan nggak bermoral lo ini kepihak berwajib."


Mendengar hal itu Brian langsung bangkit dan menatap mereka semua kesal. "Kalian bener-bener nggak tahu malu ya. Udah bagus gue ajarin kalian tanpa bayaran, tapi apa yang udah kalian lakuin ke gue. Gue nggak akan lupain kejadian ini sampai kapan pun. Lihat aja!" Ucapnya sebelum pergi meninggalkan aula.


...oOo...


Setelah Brian diberhentikan sebagai pelatih drama beberapa siswa jadi sedikit panik. Mereka tak percaya diri untuk melanjutkan drama ini tanpa ada yang membimbing.


Oci yang merasa kondisi kelasnya sangat mengkhawatirkan akhirnya meminta bantuan pada Dewi, ketua teater di sekolahnya.


Walaupun sebenarnya grup teater sekolah juga sedang sibuk, tapi karena tak tega melihat Oci yang terus memohon akhirnya Dewi menyanggupi permintaannya.


Lagipula anak teater juga sudah dinilai mampu berlatih tanpanya.


Keberadaan Dewi sedikit membuat keadaan kelas bangkit kembali. Apalagi kepribadiannya yang cukup terbuka dan juga jenaka membuat suasana latihan menjadi nyaman dan para pemeran juga langsung cepat akrab.


Bahkan trauma dari latihan yang sempat dialami yang lain dapat pulih dengan cepat. Mereka semua berlatih dengan tawa dan canda.

__ADS_1


"Jadi guys, setelah gue lihat semuanya juga sudah oke. Kita udah siap banget sih buat pensi. Kalian keren-keren pokoknya." Puji Dewi setelah gladi klotor dilakukan.


"Untuk sekarang sebaiknya kita udahan dulu latihannya, sekalian istirahat, simpan energi buat besok. Oh iya, besok sorry banget gue nggak bisa dampingi kalian karena gue juga ikut pensi."


"Yahhhh.." seru yang lain bersama yang membuat Dewi tersenyum senang karena merasa sangat diperlukan disini.


"Tapi tenang aja masih ada Oci kok. Mata Oci udak kayak mata gue juga. Kita udah sehati, sejiwa, sesukma pokoknya, jadi kalian tenang aja. Adanya Oci udah mewakili gue banget."


"Iya deh, lo sukses juga ya, Wi, sama dramanya. Thankyu juga ya udah bantu kita latihan."


"Iya, sama-sama. Ya udah gih, sana pada pulang."


"Yeee.. kita diusir nih ceritanya," ucap Ardi ngedumel.


"Lo nggak mau pulang, Di? Kalau gue sih mau pulang aja. Guys Ardi nggak mau pulang katanya."


"Ya udah biarin, Wi. Biar nemenin penunggu aula aja," celetuk Fany yang langsung dilempar kuas oleh Ardi


"Sialan lo ye pakai acara bawa-bawa penunggu aula. Ntar kalau ada yang ngintilin gue gimana?"


"Nggak pa-pa, Di. Paling juga mereka yang nggak kuat mau gangguin lo," ejek Dewi iseng.


"Gimana mau kuat, yang ada mereka udah budek duluan gara-gara diteriakin Ardi," ledek Dinda tak mau kalah.


"Ah, kalian nggak asik. Nyerangnya barengan. Udah gue mau pulang aja. Bye!"

__ADS_1


...oOo...


__ADS_2